bontangpost.id – Di tengah gejolak langkanya gas elpiji 3 kilogram, Pertamina memberlakukan pembelian tabung gas dengan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP). Utamanya agar gas tersebut bisa tepat sasaran.
Salah satu pangkalan di Jalan KS Tubun menuturkan pembelian gas elpiji dengan menggunakan KTP mulai berlaku pada awal Juli ini. Sehingga masing-masing pembeli hanya bisa menerima satu tabung.
“Sudah diterapkan satu KTP satu tabung bulan ini. Tetapi mulai langka itu sekitar pertengahan Juni kemarin,” tutur Rifai, pemilik pangkalan.
Dikatakan Rifai, jika ada yang ingin membeli dua tabung, maka harus kembali keesokan harinya atau saat jadwal datangnya gas dari agen. “Enggak bisa sehari beli dua. Karena kasihan nanti yang lain enggak dapat. Apalagi tahu sendiri kondisinya sekarang gimana,” tambahnya.
Senada, Rosnawati, pemilik pangkalan di daerah Kelurahan Tanjung Laut Indah mengatakan ada warga yang keberatan saat diminta untuk memberikan KTP sebagai tanda bukti pembelian tabung gas.
“Karena yang warung-warung kan biasanya kumpulkan KTP. Sejumlah itulah nanti dikasihnya. Karena buat dijual ke yang punya KTP juga. Tapi ada aja yang protes. Katanya takut dipakai buat kepentingan politik,” jelasnya.
Kendati begitu, Rosnawati tetap menerapkannya. Apalagi kondisi tabung gas yang bisa dikatakan ‘panas’. Sehingga ia juga pasti membagi rata untuk pembeli.
“Karena enggak mungkin kami kasih banyak kan. Asal ada KTP, ya saya kasih,” tandasnya.
Sementara, salah seorang warga Tanjung Laut Samsul menyebut keberatan ketika mesti membeli tabung gas menggunakan KTP. Selain merasa direpotkan, juga dikhawatirkan data dirinya disalahgunakan.
“Harusnya dibuatkan kartu khusus, jangan pakai KTP, masa mau beli gas harus pakai KTP,” kata dia.
Sama halnya dengan Shareen warga Berebas Tengah. Menurutnya, pemerintah jika menerapkan hal ini sudah melalui kajian yang dalam. Dan sudah memikirkan terkait dampak yang timbulkan.
“Repot lah beli satu gas saja pakai KTP, kecuali beli dalam jumlah banyak oke lah,” ujarnya. (*)







