SAMARINDA – Terus berkurangnya petugas lapangan Keluarga Berencana (KB) membuat Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Kaltim mulai khawatir. Karenanya, BKKBN akan mendorong peran dan keterlibatan tokoh masyarakat untuk menyosialisasikan pentingnya program KB.
Salah satu langkah untuk mendorong itu yakni dengan memberikan pelatihan teknis program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga (KKBPK) pada semua stakeholder terkait, seperti yang dilaksanakan BKKBN Kaltim, Selasa (6/3) kemarin.
Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Eli Kusnaeli mengatakan, keterlibatan langsung stakeholder seperti tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama, bisa menjadi kunci untuk menekan angka perkawinan usia muda. Serta untuk menyukseskan program pengaturan perkawinan.
“Melalui tokoh masyarakat, kami ingin menanamkan pentingnya ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Program KB membutuhkan adanya pendekatan yang baik. Yang bisa melakukan itu, ya tokoh masyarakat, adat, dan agama,” katanya.
Dia menerangkan, berkurangnya petugas penyuluh KB, bisa memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap masyarakat. Di antaranya, rawannya masalah sandang dan pangan di dalam keluarga, tidak terpenuhinya pendidikan dan kesehatan yang baik, serta minimnya lapangan pekerjaan bagi kelompok usia muda.
“Untuk mengantisipasi itu, bisa dilakukan dengan penundaan usia perkawinan, atau pernikahan dini. Pengaturan kelahiran dengan cara peningkatan cakupan pelayanan KB dan pembinaan peserta KB aktif. Serta pembinaan ketahanan dan pemberdayaan keluarga,” jelasnya.
Kasubbid Penyelenggara dan Evalusi BKKBN Kaltim, Harlan Lelana menilai, program KKBPK bertujuan meningkatan pengetahuan dan pemahaman advokasi tokoh masyarakat untuk membantu penyuluhan KB di masyarakat.
“Banyak hal yang diberikan kepada tokoh masyarakat, adat, dan agama di program KKBPK. Antara lain, memberikan wawasan tentang dinamika dan isu-isu kependudukan, teknik penggerakan kemasyarakatan, dan program integrasi kampung KB,” katanya.
Dia menambahkan, pelatihan KKBPK melibatkan sejumlah perwakilan tokoh masyarakat, adat, dan agama dari beberapa kota dan kabupaten di Kaltim. Antara lain, Samarinda, Balikpapan, Bontang, Berau, dan Penajam Paser Utara (PPU). “Kami ingin, dengan keterlibatan tokoh masyarakat, petugas penyuluh KB di masyarakat juga bisa terus bertambah. Begitupun dengan kesadaran masyarakat terhadap program KB akan semakin massif ke depannya,” harapnya. (drh)







