bontangpost.id – Pendistribusian air di Malahing sejak Januari lalu rupanya masih belum maksimal.
Ketua RT 30 Nasir mengatakan bahwa distribusi air hanya berlangsung sekira 4-5 jam. Yakni dari pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Bahkan air hanya mengalir setiap Jumat malam saja.
“Rumah-rumah yang jauh dari pipa utama harus menunggu rumah-rumah lain menutup keran. Kalau enggak kayak gitu ya nggak dapet,” katanya, Jumat (31/3/2023).
Diketahui, agar air bisa mengalir ke pemukiman yang lebih jauh, setidaknya harus ada 10 rumah yang mematikan kerannya. Sementara ditutupnya keran menunggu drum-drum penampungan di rumah warga penuh.
“Kalau warga yang pengertian, mereka tutup kerannya waktu dirasa sudah cukup. Tapi ada juga yang enggak. Jadi mereka punya banyak drum air, dipenuhi semua. Ya, kasihan juga sama yang jauh. Bisa enggak kebagian,” tambahnya.
Adakalanya saat rumah-rumah yang jauh itu belum lama mengisi, air keburu mati. Apalagi saat air mengalir lebih kecil dari biasanya.
Dengan aliran air yang hanya menyala sekali sepekan pun sebenarnya tidak bisa mencukupi kebutuhan selama seminggu. Warga Kampung Malahing masih harus menadah air hujan. Belum lagi kualitas air yang tidak bisa diprediksi.
“Pas lagi keruh, biasanya pakai filter air dari perusahaan. Enggak jarang juga kami endapkan sendiri. Jadi besoknya baru dipakai,” ujar Nasir.
Hal ini pun berdampak pada ketersediaan air di cottage Malahing. Karena letaknya yang agak jauh dari pipa utama.
“Di cottage cuma bisa menampung setengah dari tandon air 1200 liter. Kalau lagi banyak pengunjung ya kurang,” tandasnya.
Meski masih terkendala, katanya, setidaknya warga Malahing sudah tidak perlu mencari air ke daerah lain. (*)







