PENYEBAR hoax kerap memanfaatkan isu yang sedang hangat untuk menebar keresahan. Contohnya, informasi palsu tentang penculikan anak yang tiba-tiba beredar. Informasi berupa pesan itu sebenarnya hoax lama, tetapi dimunculkan lagi, mengiringi beberapa kasus penculikan anak yang terjadi.
Isinya sih baik, mengingatkan orang untuk berhati-hati. Namun, bumbu-bumbunya membuat pesan peringatan tersebut menjadi kabar hoax. Misalnya, tambahan foto seorang anak yang meninggal dengan luka di mana-mana. Juga tambahan keterangan bahwa anak itu diculik untuk diambil organ tubuhnya.
Pesan tersebut disebarkan oleh akun Facebook Sucii pada 19 Januari lalu. “Kasihan sekali anak ini, organ tubuhnya diambil.” Begitu penggalan tulisan Sucii pada dinding Facebook-nya. Status itu disertai dua foto anak kecil. Satu sedang berpose tertawa. Satu lagi foto jenazah seorang anak dengan luka sayatan.
Ada juga foto selebaran berisi imbauan yang mencatut nama Binmas Polda Jabar. Dalam imbauan itu disebutkan bahwa masyarakat harus mewaspadai adanya penculik anak usia 1–12 tahun. Penculik disebut menyamar sebagai penjual, om telolet, orang gila, ibu hamil, hingga pengemis.
Hoax seperti yang disampaikan Sucii sebenarnya sudah lama dibasmi oleh individu atau kelompok-kelompok anti-hoax. Termasuk Indonesian Hoax Busters. Asal-usul hoax tersebut ternyata beredar di Malaysia pada 2014. Saat itu Kepolisian Diraja Malaysia sudah membantah dan menyatakan bahwa kabar tersebut hoax. Bahkan, polisi setempat mengultimatum si penyebar hoax.
Nah, pesan hoax itulah yang kemudian direproduksi di Indonesia. Foto anak yang sama tetap digunakan, tapi dibumbui pesan imbauan yang mencatut kepolisian. Bahkan, Kapolri sebenarnya sudah pernah membantah kabar itu pada sejumlah media. Sekali lagi, waspada boleh, tapi menjadi korban berita bohong jangan. (gun/c7/fat)
FAKTA
Foto anak yang disebut korban penculikan untuk diambil organ tubuhnya adalah pesan palsu yang beredar di Malaysia pada 2004.







