KEPERGIAN Wakil Walikota Samarinda, Nusyirwan Ismail ke sisi Yang Maha Kuasa, meninggalkan duka mendalam bagi Syaharie Jaang. Wali Kota Samarinda nonaktif tersebut merasa, almarhum Nusyirwan bukan sebatas rekan kerja di dunia birokrasi saja, tetapi telah menjadi bagian dari keluarganya.
“Saya memiliki banyak kenangan dengan beliau,” kata Jaang saat melayat di rumah duka di Jalan Basuki Rahmad Samarinda, Rabu (28/2) kemarin.
Jaang mengaku sangat terpukau dengan kecerdasan Nusyirwan. Dengan rendah hati, dia mengaku almarhum memiliki wawasan luas ketimbang dirinya. Sehingga Calon Gubernur Kaltim 2018 tersebut banyak mengambil pelajaran dari laki-laki kelahiran 24 Oktober 1959 tersebut.
“Beliau lebih cerdas daripada saya. Wawasannya luas. Maka saya tak segan-segan mengambil pelajaran dan ilmu dari almarhum,” ucapnya.
Terlebih soal rencana dan kebijakan pembangunan kota. Jaang mengaku, Nusyirwan sangat unggul dan perencanaan, pelaksanaan pembangunan, penataan, dan ketelitian dalam memeriksa dokumen.
“Walau pun jabatan saya wali kota, beliau wakil walikota, sebetulnya banyak kebijakan di kota yang dijalankan atas saran beliau,” katanya.
Meski meniti karir politik di partai yang berbeda, keduanya tidak pernah saling menonjolkan diri. Karena Jaang dan Nusyirwan lebih mengedepankan persamaan ketimbang perbedaan politik.
“Interaksi dan diskusi dengan beliau sangat baik. Saya dan almarhum tidak pernah bicara politik. Terlebih bicara soal perbedaan politik. Kami lebih banyak mendiskusikan soal keluarga dan kesehatan,” ungkapnya.
Sampai pencalonan dan penetapan keduanya sebagai calon gubernur dan wakil gubernur dari perahu politik yang berbeda, dua pempimpin daerah tersebut tidak pernah berselisih soal dukungan dan perebutan kekuasaan di Benua Etam.
Karena mengedepankan persamaan, lanjut Jaang, seringkali almarhum memberikan saran agar selau rendah hati, termasuk ketika mendapatkan kritikan tajam dari lawan politik di Samarinda dan Kaltim.
“Waktu deklarasi damai, ketika ada salah seorang calon yang mengkritik kami dengan keras, beliau menyapa saya agar tidak memasukkan dalam hati kritikan itu,” ungkap Jaang.
Di mata Jaang, Nusyirwan adalah pribadi yang sangat blak-blakan jika melihat kesalahan. Ketika ada persoalan internal pemerintahan, biasanya almarhum memberikan saran dengan santun tanpa melampaui kewenangan dirinya sebagai wakil walikota.
“Biasanya beliau kasih usulan melalui catatan di kertas kecil. Tetapi tetap memberikan kewenangan pada saya agar memutuskan masalah yang beliau sampaikan. Artinya almarhum sangat profesional,” bebernya. (*/um)







