KUTIM menyimpan banyak destinasi wisata menarik. Mulai dari keindahan pantai hingga pemandangan indah goa karst. Sayang jika momen libur panjang Lebaran tahun ini dilewatkan tanpa menjelajahi anugerah Tuhan itu.
Wilayah seluas 35.747,50 km persegi ini memiliki sejumlah destinasi wisata pantai yang sudah menjadi favorit wisatawan. Pantai yang biasanya menjadi andalan adalah Teluk Lombok dan Pantai Prancis. Dua kawasan ini selalu tumpah ruah dipadati pengunjung hampir setiap tahun. Hal ini wajar karena jaraknya yang cukup dekat dari pusat kota. Dari Sangatta, cuma butuh waktu sekira 30 menit.
Namun Kutim juga memiliki pantai lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Pantai Sekerat. Dari Sangatta dibutuhkan perjalanan sekira 3 jam. Lumayan jauh memang, namun lelah di perjalanan, seketika sirna jika Anda telah menginjakkan kaki di pasir putih Pantai Sekerat. Sejauh mata memandang, hanya ada deburan ombak dan bentangan pasir putih yang tak putus-putus.
Pantai lain yang merupakan surga tersembunyi di Kutim adalah Birah-Birahan, Kecamatan Sandaran. Memang masyarakat banyak yang belum mengenal lokasi ini. Karena tempatnya masih terbilang terisolasi. Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibanding pesona yang disuguhkan pulau itu.

Pantai dan eksotisme bawah lautnya tak kalah dengan objek wisata di Pulau Derawan, Berau. Jika dilihat dari kejauhan, bentang sisi luar pulau ini didominasi pepohonan mangrove. Air laut berwana biru nyaris tanpa sampah langsung menghipnotis. Makanya banyak yang bilang kalau pantai ini masih perawan karena belum terjamah tangan jahil manusia yang gemar mengotori laut. Tidak hanya itu, tempat ini menjadi satu-satunya pulau di Kutim yang menjadi habitat penyu sisik dan penyu hijau.
“ Di sini masih alami, pantainya bersih sekali, lautnya bening dan bersih,” kata Gunawan, salah seorang Jurnalis di Kutai Timur yang pernah berkunjung ke pulau tersebut.
Obyek wisata lainnya adalah Goa Karts Ampanas. Dikutip dari situs resmi Dinas Pariwisata Kutim, Goa Karst ini terletak di Desa Pengadaan, Kecamatan Karangan yang menyajikan karya maestro alami gugusan karst.
Mulai dari pemandangan hutan sekitar gunung dan goa karst, mulut goa serta misteri di dalamnya. Pelancong dapat merasakan sensasi goa alam di tengah belantara Kalimantan.
Dari Sangatta, butuh waktu 4 hingga 5 jam untuk sampai di lokasi wisata tersebut. Meski terlebih dahulu harus melintasi jalan berdebu dan berbatu, pengunjung bisa menikmati perjalanan dengan suasana alam yang dipenuhi dengan pepohonan dan kicauan burung di hutan hujan tropis khas Borneo.
Mulut Goa Ampanas tampak seperti tenggorokan mulut manusia yang menganga. Di dalam Goa terdapat berbagai macam bentuk keunikan batu khas karst ‘hidup’ yang ditandai dengan tetes-tetes air di dinding goa tersebut. “Sejuk sekali. Kira-kira panjangnya 50 meter dan lebarnya 5 meter, sedangkan di bagian depan tinginya sekitar 7 meter. Tapi semakin kita masuk ke dalam goa semakin sempit dan mengerucut. Goa ini melebar keluar,” jelas Kartika, pengunjung Goa Ampanas.
Selain itu, terdapat potensi wisata air belerang atau air yang panas tak jauh dari goa, berjarak sekitar 100 meter. Konon katanya, yang mengalir dari sungai kecil sumber air itu dipercaya masyarakat setempat dapat mengobati segala macam penyakit, khususnya penyakit kulit.
Jika ingin mengeksplor Kutim lebih jauh, lokasi wisata yang bisa dikunjungi adalah kawasan Karts Sangkulirang. Seperti halnya kawasan karst, salah satu obyek wisata yang memenangkan Anugerah Pesona Indonesia 2017 lalu ini dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam eksotis, serta perbukitan hijau yang mengundang decak kagum. Keindahaan kelompok karst berukuran raksasa ini membenteng dari Kabupaten Kutai Timur hingga ke Berau.
Menurut hasil penelitian, kawasan karst ini memberi informasi tentang jejak manusia purba yang bisa dilihat dari lukisan tangan, gambar perahu, dan lukisan berbagai jenis binatang yang tergambar jelas pada dinding-dinding gua dan konon telah ada sekitar 10.000 tahun SM. Di sini juga ditemukan tulang, wadah yang terbuat dari tanah liat, serta alat-alat yang terbuat dari batu. Masih dari hasil penelitian, diperkirakan penyebaran rumpun manusia purba Austronesia diawali dari pegunungan karst Sangkulirang. Berkunjung ke sini bisa menjadi pengalaman berbeda dari liburan biasanya. (hd)







