• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Kisah Mapflofa Unmul, dari Keraguan Menjadi Kebanggaan Kaltim

by Redaksi Bontang Post
19 Agustus 2025, 11:10
in Kaltim
Reading Time: 2 mins read
0
Proker wajib atau rutin Mapflofa adalah pengenalan jenis flora dan fauna di lokasi-lokasi tertentu melalui pengamatan langsung.

Proker wajib atau rutin Mapflofa adalah pengenalan jenis flora dan fauna di lokasi-lokasi tertentu melalui pengamatan langsung.

Share on FacebookShare on Twitter

BONTANGPOST.ID, Samarinda – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapflofa atau Mahasiswa Penyayang Flora Fauna Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul) menorehkan sejarah baru.

Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1984, mereka berhasil menembus ajang penghargaan Wana Lestari tingkat nasional, setelah selama ini hanya bertahan di tingkat provinsi.

Wana Lestari merupakan bentuk apresiasi atau penghargaan yang diberikan kepada pihak-pihak yang telah memberikan kontribusi positif dalam upaya pelestarian lingkungan dan kehutanan.

“Wana Lestari ini sudah coba Mapflofa ikut beberapa kali, tapi cuma sampai tingkat provinsi. Nembus nasional ini perdana, terbaik 1 Kaltim dan naik ke nasional,” kata Wakil Ketua Mapflofa, Muhammad Syafi’i.

Mapflofa menjadi yang terbaik di Kalimantan Timur (Kaltim) dalam kategori Kelompok Pecinta Alam (KPA), sehingga berhak mewakili Bumi Etam di ajang nasional. Penilaian dilakukan oleh panitia pusat secara ketat, mencakup rekapan seluruh kegiatan, kontribusi konservasi, hingga kemandirian pendanaan organisasi.

“Kami juga ada badan usahanya, banyak aspek yang dinilai. Termasuk mandiri secara pendanaan. Jadi kami tidak hanya andalkan pendanaan dari fakultas. Ada sumber lain. Ada bukunya (terkait penilaian) panjang dan tebal,” tambahnya.

Menariknya, Syafi’i mengaku pihaknya sempat ragu untuk mendaftar. “Malah enggak pede. Tapi ya sudah, daftar aja lah, isi berkas dan lengkapi ini itu. Karena diminta mendaftar sama Dinas Kehutanan (Dishut) sini,” ujarnya sambil tertawa. Namun, keberanian mencoba itu membuahkan hasil besar.

Pada 2019 dan 2022, Mapflofa berhenti di tingkat provinsi. Baru pada 2025 ini mereka bisa menembus nasional. Informasi awal yang diterima, Mapflofa menempati peringkat 2 nasional kategori KPA, meski pengumuman resminya baru akan disampaikan saat penyerahan penghargaan 15 Agustus oleh Menteri Kehutanan di Jakarta.

Perjalanan menuju nasional dimulai Juni lalu. Kementerian Kehutanan melakukan audit langsung ke sekretariat Mapflofa, disusul permintaan paparan kegiatan oleh Dishut Kaltim.

“Tiba-tiba dihubungi via WhatsApp, orang Dishut itu ngehubungi. Rasanya di hari yang sama, jadi saya stand by di sekretariat untuk audit, ketua yang paparan ke Dishut,” kenang Syafi’i.

Mapflofa memiliki empat divisi yakni flora, fauna, lingkungan hidup, serta olahraga dan petualangan. Berbeda dari mapala (mahasiswa pencinta alam) lain, mereka fokus pada riset dan konservasi, bukan semata olahraga ekstrem.

“Bedanya, kami lebih ke riset, berhubungan sama lingkungan. Karena kami ada kayak mengenali jenis, nanti itu didokumentasikan. Jadi sejalan dengan jurusan kuliah kami juga di kehutanan,” jelasnya.

Program wajib organisasi itu adalah pengenalan jenis flora maupun fauna di lokasi-lokasi tertentu melalui pengamatan langsung. Hasil pengamatan setiap tahun diwujudkan dalam buku. Mulai dari topik kupu-kupu, hewan melata di sekitar kampus, mengenai karbon, hingga ecomedicine.

Syafi’i optimistis, penghargaan nasional itu akan memicu semangat baru. “Bakal ada impact besar di pengurus, jadi pengembang semangat teman-teman pengurus. Tapi enggak hanya pengurus aja, tapi juga Mapala Kalimantan,” pungkasnya. (*)

Tags: Mapflofa Unmul
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Menkeu Diduga Sebut Guru Beban Negara, Ini Pernyataan PGRI

Next Post

Besok, PKL di Sekitar Pasar Rawa Indah Kembali Ditertibkan

Related Posts

No Content Available

Terpopuler

  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.