• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Internasional

Krisis Venezuela, RS pun Minta Bantuan

by M Zulfikar Akbar
14 Februari 2019, 14:30
in Internasional
Reading Time: 2 mins read
0
Ilustrasi

Ilustrasi

Share on FacebookShare on Twitter

KARAKAS – Rakyat Venezuela mati-matian meminta agar bantuan AS bisa segera masuk dalam negeri. Pasalnya, saat ini hidup mereka serba kekurangan. Termasuk kebutuhan penyambung hidup seperti obat dan alat medis.

Antonella merupakan salah seorang korban krisis di Venezuela. Dara berusia enam tahun tersebut divonis menderita penyakit kanker tenggorok empat tahun lalu. Sejak itu dia harus bolak-balik ke Domingo Luciano Hospital di Karakas untuk menjalani kemoterapi.

Namun, kunjungannnya semakin jarang. Sebab, obat yang dibutuhkan semakin jarang. Ibunya sampai ikut menjadi pasien. Menurut CNN, dia didiagnosis menderita malanustrisi setelah tiba-tiba pingsan di rumah sakit. Penyakit yang mewabah di seluruh negara kaya minyak tersebut.

Mereka berdua putus asa. Selain kondisi sang ibu menurun, obat bagi sang anak semakin jarang. Dokter dan tenaga medis di sana juga bingung. Sebab, sumbangan obat dan alat medis yang seharusnya mereka terima juga ’’hilang’’ di tengah jalan.

Baca Juga:  Kaltim Optimistis di Tengah ‘Krisis’

Akibat keran bantuan yang dicekik, standar operasi mereka memprihatinkan. Listrik tak bisa hidup 24 jam. Disinfektan yang biasanya digunakan untuk membersihkan rumah sakit habis. Bahkan, sarung tangan dan perban juga nihil.

’’Kadang-kadang kami harus membagi perban untuk merawat lebih banyak pasien. Terkadang kami hanya bisa pasrah karena tidak ada obat atau alat medis yang tersisa,’’ ujar Jane (bukan nama sebenarnya), salah seorang dokter di sana.

Domingo Luciano adalah rumah sakit terakhir yang masih mengoperasikan ruang bedah spesialis anak-anak. Di antara18 ruang bedah, tiga yang masih bisa digunakan. Daftar tunggu pasiennya? 500 anak untuk penduduk Karakas saja.

Isu kesehatan di negara yang dilanda krisis kemanusiaan itu tak bisa lagi disangkal. Bulan lalu Lancet Global Health Journal mengungkap borok Venezuela dalam aspek kesehatan anak. Menurut riset mereka, Venezuela merupakan negara dengan kasus kematian anak-anak terburuk se-Amerika Latin.

Baca Juga:  Kaltim Optimistis di Tengah ‘Krisis’

Pada 2016, kematian anak mencapai 21,1 jiwa per seribu kelahiran. Kondisi yang sama terjadi pada era 1990-an. ’’Selama era 2000-an, angka kematian bayi di Venezuela membaik. Namun, dalam beberapa tahun ini, kemajuan itu langsung hilang,’’ ujar Janny Carcia, salah seorang peneliti riset, kepada Reuters.

Hal itulah yang menjadi salah satu alasan puluhan ribu penduduk Venezuela turun ke jalan di ibu kota Selasa lalu (12/2). Massa yang dipimpin langsung oleh pemimpin oposisi Juan Guaido meminta agar bantuan internasional yang tertahan di perbatasan Kolombia bisa segera dimasukkan.

’’Saya meminta Anda untuk memihak kepada konstitusi dan kemanusiaan. Tanggal 23 Februari akan menjadi momentum ketika bantuan akan masuk,’’ ujar Guaido. Pesan dari presiden interim itu ditujukan kepada militer yang selama ini menjadi pendukung kubu Maduro.

Baca Juga:  Kaltim Optimistis di Tengah ‘Krisis’

Sementara itu, kubu Maduro meminta agar publik internasional bisa membantu pemerintah yang sah untuk menghilangkan tekanan AS. Menurut mereka, pemerintahan Maduro merupakan korban perang ekonomi yang dilakukan Presiden AS Donald Trump. ’’Kami meminta agar PBB bisa mendorong pengangkatan sanksi dan embargo terhadap kami,’’ ujar Menlu Venezuela Jorge Arreaza. (bil/c4/dos/jpg)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: krisisvenezuela
Share2TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Sri Lanka Buka Lowongan untuk Algojo, Berminat?

Next Post

Kekurangan Peserta, Pendaftaran SNMPTN Diundur

Related Posts

Kaltim Optimistis di Tengah ‘Krisis’
Kaltim

Kaltim Optimistis di Tengah ‘Krisis’

9 Mei 2017, 12:40

Terpopuler

  • Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    Puluhan Warga Tagih Uang di Toko Emas Berebas Tengah Bontang, Dugaan Investasi Bodong Mencuat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Investasi Bodong Rugikan Rp18 Miliar, Istri Anggota DPRD Bontang Ikut Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Bontang Gelar Mutasi Besok, Nama Pejabat Masih Dirahasiakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpol PP dan Dishub Kembali Tertibkan PKL dan Parkir Liar di Trotoar Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.