BONTANGPOST.ID, Bontang – Forum Komunikasi Pemuda dan Mahasiswa Muara Badak (FKPMB) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor KSOP Kelas I Samarinda, Senin (13/7/2026). Massa mendesak penghentian aktivitas kapal tugboat yang melintasi Sungai Muara Berau karena dinilai belum ditetapkan sebagai alur pelayaran resmi.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 14.00 Wita itu diikuti mahasiswa bersama perwakilan nelayan Muara Badak. Mereka membawa spanduk berisi tuntutan agar kapal tongkang dialihkan ke alur pelayaran resmi di Muara Begah.
Ketua FKPMB, Abdillah, mengatakan aksi tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan nelayan serta hasil mediasi yang digelar pada 30 April 2026 di Kantor Kecamatan Muara Badak.
Mediasi itu dihadiri Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, KSOP Kelas I Samarinda, aparat keamanan, pemerintah desa, hingga perwakilan nelayan.
Dalam berita acara mediasi, KSOP Kelas I Samarinda menyatakan akan melakukan kajian terhadap Peraturan Daerah Kalimantan Timur Nomor 1 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Kajian dilakukan bersama DKP Kaltim dan Distrik Navigasi Tipe A Kelas I Samarinda untuk memastikan alur pelayaran yang menjadi dasar penegasan kepada perusahaan pelayaran.
Selain itu, nelayan tetap diperbolehkan beraktivitas di perairan Muara Berau dengan syarat tidak menetap atau bersifat mobile serta berkoordinasi dengan DKP Kaltim.
Namun, menurut Abdillah, hingga kini kapal tugboat masih melintasi Sungai Muara Berau sehingga tuntutan nelayan dinilai belum ditindaklanjuti.
“Yang kami inginkan adalah ada keputusan yang jelas terkait alur pelayaran agar persoalan ini tidak terus berulang,” ujarnya.
Usai menyampaikan aspirasi, perwakilan massa diterima pihak KSOP Kelas I Samarinda. Dalam pertemuan tersebut, KSOP meminta waktu hingga Kamis (16/7/2026) untuk memberikan jawaban atas tuntutan yang disampaikan.
“Kami akan menunggu hasil pertemuan itu. Harapan kami bukan memperpanjang persoalan, tetapi ada kepastian hukum sehingga nelayan bisa beraktivitas dengan aman dan perusahaan juga memiliki kejelasan mengenai alur pelayaran yang digunakan,” pungkasnya. (*)


