bontangpost.id – Layanan operasional bus perintis untuk Kaltim kembali dilanjutkan tahun ini. Transportasi massal itu untuk melayani permintaan keperluan perjalanan yang sangat tinggi. Itu dilakukan untuk menunjang mobilitas warga hingga daerah terpencil di Benua Etam.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kaltim Muiz Thohir mengungkapkan, ada lima trayek yang akan dioperasikan tahun ini. Yaitu rute Samarinda-Kembang Janggut, Kutai Kartanegara (Kukar) sepanjang 235 kilometer.
Kemudian Samarinda-Jonggon, Kecamatan Loa Kulu, Kukar sepanjang 115 kilometer. Selain itu, ada pula rute di Berau, yakni Tanjung Redeb-Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan sepanjang 106 kilometer.
Lalu Tanjung Redeb-Bidukbiduk sepanjang 244 kilometer. Terakhir adalah rute di Kutai Timur (Kutim), yaitu Sangatta-Kongbeng sepanjang 182 kilometer. “Khusus rute Tanjung Redeb-Bidukbiduk dan Sangatta-Kongbeng masih menunggu SK (surat keputusan),” katanya kepada Kaltim Post, Senin (8/1).
Dia melanjutkan, jumlah trayek yang akan dioperasikan tahun ini berkurang dari tahun sebelumnya. Tahun ini ada tujuh trayek layanan angkutan perintis Kaltim. Sementara tahun depan, hanya lima trayek yang akan dilayani angkutan untuk daerah terpencil dan perbatasan.
Adapun dua trayek baru menggantikan trayek lama dihapuskan. Trayek baru tersebut adalah trayek Sangatta-Kongbeng dan trayek Tanjung Redeb-Bidukdiduk. Sementara yang dihapuskan ada empat trayek. Yakni rute Samarinda-Muara Muntai, Kukar, trayek Samarinda-Pengadan, Kutim, dan trayek Samarinda-Bentian Besar di Kutai Barat (Kubar).
Satu rute lainnya berada di Kutim. Yakni trayek Sangatta-Maloy, Kecamatan Sangkulirang. “Tahun 2023, ada tujuh trayek. Untuk tahun ini, sebanyak empat trayek lama dihapus. Tapi ada tambahan dua trayek baru. Sehingga jumlahnya lima trayek,” ucap Muiz.
Diakuinya, angkutan perintis di Kaltim sangat diperlukan untuk membuka dan menghubungkan aksesibilitas. Dalam menunjang kegiatan sehari-hari masyarakat. Beberapa keinginan para pengguna jasa angkutan perintis jalan, antara lain meliputi ketersediaan layanan yang teratur/terjadwal. Dengan kapasitas yang mencukupi serta berkesinambungan.
Selain hal-hal tersebut, pengguna jasa angkutan perintis juga menghendaki layanan dengan waktu perjalanan. Meliputi waktu tunggu dan waktu tempuh yang efisien. Serta tetap memerhatikan aspek keselamatan maupun keamanan selama perjalanan.
Di mana, angkutan perintis itu berupa bus dengan kapasitas 19 seat/kursi. Dengan jumlah minimal sembilan bus siap operasi dan lima bus cadangan. Dengan mempertimbangkan karakteristik angkutan perintis dalam hal jumlah permintaan relatif sedikit. Namun, menuntut adanya keteraturan pelayanan yang berkelanjutan. Jadi dipandang perlu disediakan anggaran subsidi operasional angkutan perintis.
“Dan rata-rata tingkat keterisiannya masih di bawah 30 persen. Trayek perintis dihapus jika tingkat keterisian lebih besar atau sampai 70 persen. Berubah menjadi trayek komersial, atau trayek tersebut sudah dilayani selama lima tahun, tetapi tingkat keterisian masih di bawah 30 persen. Trayek-trayek yang dihapus tahun ini merupakan trayek perintis yang sudah dilayani selama lima tahun,” tuturnya.
Tahun ini layanan operasional bus perintis Kaltim kembali dianggarkan menggunakan APBN 2024. Melalui satuan kerja BPTD Wilayah XVII Kaltim-Kaltara, pagu anggaran yang dialokasikan Rp 5,65 miliar dan harga perkiraan sendiri (HPS) Rp 5,33 miliar. Lelang kegiatan itu dimenangkan oleh Perusahaan Umum (Perum) DAMRI Stasiun Samarinda. Dengan nilai kontrak Rp 5,3 miliar. (rom/k16)

