BONTANG – Pesawat Pelita Air ATR 42-500 tujuan Bontang mengalami kecelakaan saat pendaratan di Bandar Udara LNG Badak, Jumat (29/11/2019), sekira pukul 16.15 Wita.
Ketika mendarat, roda pesawat menyentuh landasan dengan kecepatan masih tinggi. Menyebabkan mesin sebelah kanan pesawat rusak akibat benturan dengan landasan dan menyebabkan kebakaran di sebelah kanan ekor pesawat.
Pesawat berhenti 100ft melewati runaway 22. Aerodrome Flight Information Services (AFIS) Tower Bontang menginfokan penutupan bandara dan menyalakan sirine emergency local di Bandara. Fire Brigade Badak LNG yang sudah siap di bandara langsung melakukan penanganan api dengan foam sesuai koordinasi dari Menara AFIS Bontang.
Terdapat 4 orang mengalami cedera serius, 10 orang mengalami luka-luka ringan, 28 orang mengalami trauma pasca kecelakaan, dan 4 orang crew pesawat selamat. Seluruh korban berhasil dievakuasi oleh Rescue Team Badak LNG dan telah mendapatkan perawatan di RS LNG Badak.

Rupanya, kejadian tersebut merupakan simulasi Major Emergency Exercise dalam rangka menguji kesiapan seluruh personel saat menghadapi situasi darurat.
Kegiatan ini melibatkan kurang lebih 35 personel gabungan. Selain dari manajemen dan pekerja Badak LNG, pihak eksternal yang terlibat yakni operator pesawat (Pelita Air), otoritas bandara, RS LNG Badak, serta Badak LNG, bersinergi dengan stakeholder terkait untuk memantapkan koordinasi dalam penanganan darurat.
Act Chief Operating Officer Badak LNG, Bambang Prijadi menyatakan Major Emergency Exercise di Bandara LNG Badak ini merupakan langkah perusahaan dalam melatih kemampuan personel sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
“Mencakup fungsi komando, koordinasi, dan komunikasi antar fungsi terkait, serta uji handal terhadap berbagai fasilitas,“ ujarnya.
Simulasi yang berakhir pada pukul 16.52 Wita itu dinyatakan aman kembali (all clear). Ditegaskan Bambang, insiden tersebut tidak mengganggu produksi LNG serta tidak berdampak luas pada masyarakat sekitar area Badak LNG.
“Kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dan membantu kegiatan ini sehingga berjalan lancar,” tambah Bambang.
Sebelum kegiatan Major Emergency Exercise, terlebih dahulu dilakukan table top exercise, Kamis (28/11/2019). Kegiatan ini merupakan simulasi strategi yang dilakukan untuk menguji kemampuan personel dalam mengambil keputusan, sehubungan dengan kegiatan pertolongan, evakuasi, dan pemadaman kebakaran yang mungkin dilakukan sebelum latihan di lapangan.
Pelaksanaan Emergency Exercise di Bandara LNG Badak dilakukan satu kali setahun. Ini sebagai wujud komitmen bahwa pengelola Bandar Udara wajib memiliki Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat (Airport Emergency Plan) sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP 479 Tahun 2015 tentang Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat. (adv)







