SAMARINDA – Ibadah puasa Ramadan semestinya bisa menekan inflasi. Bukan malah sebaliknya yang justru memicu laju inflasi ketika memasuki Ramadan. Hal ini diungkapkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda, Zaini Naim.
“Hakikat puasa itu kan mengendalikan atau menahan hawa nafsu, termasuk hawa nafsu makan dan minum. Salah kalau waktu buka puasa justru makan dan minum berlebihan, sama saja itu puasanya gagal,” ujar Zaini usai sosialisasi pengendalian inflasi di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Jumat (11/5).
Dia mengatakan, setelah buka puasa kemudian makan dan minum berlebihan merupakan hal yang haram, bukan lagi makruh. Karena sesuatu yang berlebihan adalah hal yang tidak disukai oleh Rasul.
Jika dalam kesehariannya sesorang makan sayur bening, maka saat Ramadan juga seharusnya makan sayur bening. Tidak justru di balik ketika Ramadan malah makan yang enak-enak dan serba mahal. Sehingga hal itu yang menyebabkan inflasi naik saat Ramadan.
“Saat Ramadan, setan dibelenggu oleh Allah sehingga tidak punya kekuatan. Maka yang kita kendalikan hanya nafsu. Untuk itu, nafsu makan kita jangan berlebihan karena jika tetap makan berlebihan, maka puasanya gagal, berarti kita tidak dapat apa-apa dari puasa,” tuturnya dilansir dari Antara Kaltim.
Melalui sosialisasi yang digelar BI Kaltim tersebut, Zaini beharap semakin banyak santri yang paham bahwa pola mereka selama ini menyebabkan inflasi. Kemudian para ustaz juga diminta lebih gencar dalam ceramahnya tentang pengendalian hidup konsumtif agar tidak berimbas inflasi tinggi.
Lebih lanjut Zaini menyebut, tingginya inflasi yang terjadi saat Ramadan karena tingginya permintaan bahan kebutuhan pokok dari masyarakat. Hal ini terjadi karena pola konsumsi yang berubah dari sederhana menjadi mewah atau mendekati mewah.
“Inilah tugas para ulama dan dai untuk memberi pemahaman kepada umat. Bahwa jangan berlebihan makan dan minum setelah buka puasa. Karena jika pola ini tetap berjalan berarti puasanya sia-sia,” tutupnya. (*/luk)







