BONTANG – Pupuk Kaltim melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya bertema Better Living in Malahing menggelar pelatihan budidaya teripang. Pelatihan tersebut bertujuan untuk membuka peluang ekonomi baru agar bisa menambah pendapatan warga Malahing. Selain itu, Pupuk Kaltim juga ingin memaksimalkan potensi warga Malahing dalam pemanfaatan sumber daya alam (SDA) di lingkungan sekitarnya.
Superintendent Bina Lingkungan dan Kemitraan Departemen CSR Pupuk Kaltim Udiyanto mengatakan, sudah tak terhitung lagi dirinya datang ke Malahing. Pekan lalu, Udiyanto membuka pelatihan olahan turunan dari rumput laut dengan peserta para ibu-ibu warga RT 30 Kelurahan Tanjung Laut Indah Pulau Malahing.
“Saat membuka pelatihan itu saya pesimis, tetapi saya juga punya keoptimisan saat diskusi dengan rekan saya. Ternyata, hasil produksi dari ibu-ibu di Malahing ini di luar ekspektasi saya dan hasilnya benar-benar seperti olahan pabrik,” buka Udiyanto saat memberikan sambutan di acara Program Better Living in Malahing Pelatihan Budidaya Teripang Kerjasama CSR PT Pupuk Kaltim dengan Balai Bio Industri Laut Lipi Lombok NTB, Rabu (25/4) kemarin.
Rumput laut di Malahing, kata Udiyanto bisa diolah untuk dijadikan sabun, masker, dan lulur. Karena itu, pihaknya ingin menjadikan Malahing pusat dari segala macam pusat. Mengingat saat ini eranya kembali ke alam, maka bila ingin cantik dengan bahan alami bisa datang ke Malahing.
“Jadi nanti yang dicari itu kalau orang butuh hasil turunan olahan rumput laut, juga jika teripang sudah dibudidaya bisa datang ke Malahing,” ujarnya.
Udiyanto pun merasa senang karena instruktur pelatihan sudah datang jauh-jauh dari Lombok. Mengingat harga jual teripang yang nilai ekonomisnya cukup tinggi. Karena untuk harga perkilogramnya jika terisi 3 ekor teripang bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 7 juta. Tentunya jumlah tersebut merupakan nilai ekonomis yang tidak murah dan ini juga termasuk investasi jangka panjang.
“Kami ini akan mengembangkan sebanyak 3 juta larva teripang dangan jumlah potensi hidup sebanyak 500 ribu. Jika 100 ribu bisa hidup dan tumbuh besar saja maka harga jualnya akan mahal. Jadi potensi inilah yang kami gali,” ungkapnya.
Dari pelatihan budidaya teripang ini, Udiyanto mengharapkan ilmu yang disampaikan oleh instruktur bisa diterapkan dengan baik. Para peserta pun diminta untuk proaktif bertanya jika ada yang tidak dipahami.
Sementara itu, Person In Charge (PIC) Program CSR Malahing, Irma Safni mengatakan pelatihan budidaya teripang baru pertama kali dilaksanakan di tahun ini selama 3 hari. Tujuannya, yakni untuk membuka peluang ekonomi baru agar bisa menambah pendapatan bagi warga Malahing selain sebagai nelayan tangkap dan nelayan rumput laut.
“Kami juga ingin memandirikan masyarakat dalam salah satu rencana kerja CSR Pupuk Kaltim untuk program yang kami namai Better Living in Malahing. Terakhir, kami juga ingin warga Malahing memanfaatkan SDA yang ada di lingkungannya,” ujarnya.
Materi pelatihan ini, kata dia menyangkut teknik pemeliharaan dan lainnya. Diikuti oleh 20 peserta dari warga Malahing yang berasal dari perwakilan kelompok.
Sekretaris Lurah Tanjung Laut Indah, Rustam Effendi memberikan penghargaan kepada PKT yang telah memperhatikan masyarakatnya terutama di wilayah pesisir. Pihaknya berharap pelatihan ini dapat bermanfaat dan bisa menunjang perekonomian warga Malahing. “Teripang ini mulai langka, makanya saya apresiasi pelatihan budidaya teripang ini,” kata dia.
Perwakilan dari Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, David mengucapkan terima kasih kepada Pupuk Kaltim yang telah memberikan pelatihan untuk meningkatkan kesejahteraan warga Malahing. Pelatihan budidaya teripang ini baru dilaksanakan pertama kalinya di Bontang sehingga peserta patut bangga.
Selama waktu pelatihan ini, David meminta semua peserta bisa menyerap dan mencermati bagaimana caranya agar teripang difokuskan di Malahing. “Agar Malahing selalu dicari dan lebih terkenal harus diupayakan teripang itu hanya bisa didapat di Malahing, semoga tujuan dari program CSR ini bisa diterapkan,” ungkapnya.
Balai Bio Industri Laut Lipi Lombok NTB, Sigit Ap Dwiono mengatakan pelatihan budidaya teripang di Bontang ini merupakan lokasi ketiga setelah Lombok. Kata dia, di Indonesia belum ada teripang yang baik dengan ukuran 500 gram karena sudah susah dicari. Hal tersebut diakibatkan teripang yang masih kecil sering ditangkap.
Oleh karena itu, melalui pelatihan ini harapannya teripang yang kecil dibiarkan besar dan berkembang biak. Karena jika masih 50 gram terlalu kecil dan tidak sempat memiliki keturunan. “Harapan kami coba dipelihara anak-anak teripang hingga besar supaya bisa berkembang biak dan sebagai biota laut di sini. Semoga teripang bisa menjadi ikon baru di Malahing selain rumput laut,” pungkasnya.(mga/adv)







