BONTANGPOST.ID, Berau – Isu pendidikan kembali menjadi sorotan di Bumi Batiwakkal. Hingga akhir 2025, Dinas Pendidikan (Disdik) Berau mencatat sekitar 4.000 anak masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS). Jumlah ini menjadi alarm serius atas tantangan sosial dan pendidikan yang masih dihadapi daerah tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, menjelaskan bahwa tingginya angka ATS bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi berbagai persoalan. Salah satu faktor dominan adalah tingginya mobilitas penduduk, terutama pendatang yang berpindah antarwilayah tanpa menyelesaikan administrasi pendidikan.
“Banyak anak sebenarnya masih bersekolah, tetapi karena proses mutasi tidak tuntas di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), mereka tercatat sebagai anak putus sekolah,” jelas Mardiatul.
Selain persoalan administrasi, faktor ekonomi juga menjadi penghambat utama. Dengan tingkat kemiskinan Berau yang berada di angka 5,08 persen, sejumlah keluarga masih kesulitan memenuhi kebutuhan penunjang pendidikan. Kondisi tersebut kerap memaksa anak-anak meninggalkan sekolah untuk membantu ekonomi keluarga.
Meski secara statistik Berau berada di peringkat keempat terendah tingkat kemiskinan di Kalimantan Timur, kesenjangan sosial di lapangan masih nyata dan berkontribusi terhadap meningkatnya angka ATS.
Mardiatul menegaskan, penanganan masalah ATS tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan. Diperlukan kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, instansi sosial, hingga masyarakat.
Ke depan, Disdik Berau akan memfokuskan upaya pada validasi data yang lebih akurat serta intervensi sosial bagi keluarga rentan, agar setiap anak di Berau dapat kembali memperoleh hak pendidikannya. (KP)









