BONTANG – Sosialisasi gerakan serentak (Gertak) berantas demam berdarah dengue (DBD) juga dilakukan di RT 12 Kelurahan Api-Api, Kamis (24/1) malam. Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang bersama perwakilan Puskesmas Bontang Utara 1 dan pihak Kelurahan Api-Api menyambangi kediaman rumah Ketua RT 12 yang berada di Gang Pencak Silat 4.
Upaya penyuluhan dilakukan mengingat beberapa pekan sebelumnya telah terjadi kasus penderita DBD di wilayah tersebut. Hal itu dibenarkan dr Aini Darafia selaku Dokter Umum Puskesmas Bontang Utara 1 saat menerangkan bahaya nyamuk aedes aegypti dan cara penanganannya. DBD sendiri merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan virus dengue dan ditularkan melalui nyamuk aedes aegypti.
Adapun ciri-ciri nyamuk tersebut dapat terbang pada radius 100 meter dari tempat bertelur atau menetas. Aktif pada pagi dan sore hari. Suka di tempat gelap, baju-baju tergantung, atau tumpukan barang-barang. Uniknya, aedes aegypti tidak menetas pada tempat maupun air kotor namun menyukai genangan air bersih.
“DBD penularannya melalui nyamuknya. Misal ada penderita DBD, nyamuk tersebut abis menggigit si penderita. Jadi nyamuk tersebut akan menyerap virus dan darah penderita. Seminggu kemudian, nyamuk siap menularkan kembali ke calon penderita baru,” terangnya.
Ia juga mengajarkan cara penanganan awal bagi penderita saat mengalami demam tinggi. Biasanya penderita DBD akan mengalami demam tinggi 2-7 hari terus-menerus disertai tanda-tanda pendarahan. Seperti mimisan, gusi berdarah, atau bintik-bintik merah. Langkah yang dilakukan, banyak minum air putih, teh, atau susu karena nafsu makan menurun. Minum obat demam dan terpenting kompres dengan air hangat.
“Jika hingga setelah tiga hari dirasa tidak membaik dengan kompres dan minum obat penurun demam, segeralah ke puskesmas. Pemeriksaan lab akan dilakukan ketika demam sudah memasuki hari ketiga jadi dapat diketahui apa demam biasa, demam karena DBD, atau demam karena sakit lainnya,” papar dr Aini.
Di tempat sama, Siti Ulfah, SKM selaku Pemegang Program Surveylance Puskesmas Bontang Utara 1 menambahkan cara membasmi berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti di lingkungan rumah masing-masih dapat melakukan 4M+ yakni menutup tempat penampungan air, menguras tempat menampungan air, mendaur ulang sampah plastik, memantau jentik nyamuk, dan menghindari gigitan nyamuk.
Ia menambahkan, nyamuk aedes aegypti selain menyukai genangan air bersi juga bersarang di pot bunga, tempat minum di dalam kandang burung, sampah-sampah botol plastik maupun ban bekas, dan lainnya. Sementara penanganan melalui fooging memiliki aturan main. Dilakukan sesudah adanya penderita DBD. Maka sebaiknya warga dapat melakukan pencegahan terlebih dahulu.
“Jika dilakukan fooging dan tidak membuka pintu atau jendela sama saja sia-sia. Usahakan buka pintu dan jendela lebar-lebar. Fooging hanya membunuh nyamuk dewasa saja, tujuh hari jentik dapat tumbuh dewasa jika tidak melakukan 4M+,” ucapnya.
Pada kesempatan itu pula, Siti mempraktikkan alat ovitrap atau cara membuat perangkat nyamuk dengan beberapa bahan. Seperti botol plastik bekas, gula merah atau gula putih sebanyak 50 gram, air panas 200 mili liter atau 1 gelas kecil, gunting, lakban atau solasi, ragi 1 gram, dan keresek hitam. Adapun cara membuatnya, potong bagian atas botol plastik, siapkan air panas untuk melarutkan gula merah dan ragi, kemudian masukkan ke dalam botol dan bungkus menggunakan keresek hitam yang sudah disolasi.
“Ovitrap tidak digunakan untuk ruangan ber-AC. Letakkan di pojokan sudut rumah. Nantinya jentik nyamuk dapat dicek selamat dua minggu sekali. Dapat di buang di lubang galian tanah agar menghindari nyamuk atau jentik yang masih pingsan” saran dia.
Hadir pula Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni memberikan sambutannya bahwa ia mendukung kegiatan Diskes melalui Puskesmas Bontang Utara 1 memberikan penyuluhan DBD ke masyarakat. Di mana saat ini Diskes telah memiliki 15 alat fooging yang dapat dimaksimalkan untuk masyarakat Bontang.
“Jaga lingkungan, jangan buang sampah sembarangan, jaga kebersihan paret atau got di lingkungan rumah masing-masing agar nyamuk aedes aegypti tidak berkembang biak,” harap Neni.
Pada kesempatan itu pula, Puskesmas Bontang Utara 1 membagikan bubuk abate kepada warga RT 12 Api-Api. (ra/adv)







