<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>anak Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/anak/</link>
	<description>Portal resmi Bontang Post, menyajikan berita terkini dari wilayah Bontang, Kalimantan Timur, Nasional, dan Internasional.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Apr 2020 01:24:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>anak Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/anak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jurus Bunda Agar Anak Tak Bosan di Rumah Lewat Konten Edukasi</title>
		<link>https://bontangpost.id/jurus-bunda-agar-anak-tak-bosan-di-rumah-lewat-konten-edukasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2020 03:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[dirumahaja]]></category>
		<category><![CDATA[konten edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=74414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang tua, khususnya para ibu harus selalu memutar otak agar anak tak jenuh.</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jurus-bunda-agar-anak-tak-bosan-di-rumah-lewat-konten-edukasi/">Jurus Bunda Agar Anak Tak Bosan di Rumah Lewat Konten Edukasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Berada di rumah saja selama pandemi virus Korona membuat anak-anak mulai merasa bosan. Pasalnya mereka harus berada di rumah saja dan belajar dari rumah. Orang tua, khususnya para ibu harus selalu memutar otak agar anak tak jenuh.</p>
<p>Lewat kampanye Kodomo Challenge : Shimajiro #Dirumahaja, para bunda diberi tips edukasi untuk menjalani perilaku hidup sehat dan bersih. Materi itu bisa dibagikan bunda kepada buah hati mereka sebagai pengisi kegiatan anak di rumah. Sehingga anak akan mendapatkan materi terkait dengan Covid-19 dan informasi terkait dengan tindakan pencegahannya.</p>
<p>“Saat ini, PAUD dan TK diliburkan. Mungkin banyak orangtua yang tidak tenang di tengah semua ketidakpastian dan kekhawatiran akan tertularnya orang terdekat. Sebagai orangtua anak usia dini dan usia Sekolah Dasar, saya sendiri juga memiliki banyak kekhawatiran,” kata Wakil Presiden Director PT. Benesse Indonesia Akinori Tazume kepada wartawan baru-baru ini.</p>
<p>Salah satunya bagaimana caranya agar anak-anak tetap bisa mengisi waktunya secara bermanfaat di rumah. Maka lewat konten edukasi yang dapat diakses orang tua akan lebih efektif.</p>
<p>“Misalnya konten Ayo Mencuci Tangan dengan Air dan Sabun. Bisa dengan buku bergambar, video edukasi, dan poster. Sehingga anak bisa praktik langsung,” tuturnya.</p>
<p>Dekan Fakultas Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Sofia Hartati menjelaskan, kondisi pamdemi ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk menanamkan kepada anak bagaimana cara hidup bersih dan sehat. Lewat konten edukasi, orang tua dapat terbantu dalam memberikan pembelajaran kepada anak mengenai hal ini di rumah.</p>
<p>“Dengan konten-konten menarik akan menjadi sarana edukasi bagi anak dengan cara yang positif,” tandasnya. (jpc)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/jurus-bunda-agar-anak-tak-bosan-di-rumah-lewat-konten-edukasi/">Jurus Bunda Agar Anak Tak Bosan di Rumah Lewat Konten Edukasi</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Orang Tua Harus Jeli, Ini Cara Menentukan Game Yang Tepat Buat Anak</title>
		<link>https://bontangpost.id/orang-tua-harus-jeli-ini-cara-menentukan-game-yang-tepat-buat-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2020 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[game]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=73096</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sangat normal bagi anak-anak untuk bermain game, baik pada jenis komputer dan seluler. Namun orang tua harus jeli, hal tersebut mengingat tidak semua permainan atau game adalah sama. Untuk itu, tulisan di sebuah kotak permainan dan deskripsi online mengenai batasan usia bukanlah sebuah informasi tanpa tujuan. Agar orang tua tahu, Kaspersky membeberkan tentang bagaimana penentuan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/orang-tua-harus-jeli-ini-cara-menentukan-game-yang-tepat-buat-anak/">Orang Tua Harus Jeli, Ini Cara Menentukan Game Yang Tepat Buat Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sangat normal bagi anak-anak untuk bermain game, baik pada jenis komputer dan seluler. Namun orang tua harus jeli, hal tersebut mengingat tidak semua permainan atau game adalah sama.</p>
<p>Untuk itu, tulisan di sebuah kotak permainan dan deskripsi online mengenai batasan usia bukanlah sebuah informasi tanpa tujuan. Agar orang tua tahu, Kaspersky membeberkan tentang bagaimana penentuan klasifikasi ini, apa saja alasan di baliknya, dan seberapa ketat batasan tersebut dalam praktiknya.</p>
<h3>Siapakah yang Menetapkan Batasan Usia Untuk Game Video?</h3>
<p>Terdapat sekitar dua lusin sistem peringkat usia game video yang ada di seluruh dunia. Sebagian besar negara Eropa, misalnya, mematuhi standar Pan European Game Information (PEGI), dan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, penetapan batasan dilakukan oleh Entertainment Software Rating Board (ESRB). Jerman, Rusia, Australia, dan beberapa negara lain juga menggunakan berbagai sistem klasifikasi seperti RARS untuk Rusia.</p>
<p>Lainnya, Jepang memiliki dua lembaga yang berwenang: Computer Entertainment Rating Organization (CERO) dan Ethi’cs Organization of Computer Software (EOCS). Untuk App Store pada Apple, mereka menggunakan sistemnya sendiri.</p>
<p>Sementara itu, Google Play mendukung berbagai standar regional, tetapi di sebagian besar negara menggunakan sistem International Age Rating Coalition (IARC).</p>
<p>Dengan kata lain, terdapat banyak peringkat game video yang berbeda, dan klasifikasi mana yang tepat untuk dijadikan pedoman sepertinya bukan terdengar hal yang mudah. Kaspersky akan kembali membahasnya, namun pertama mari kita cari tahu kategori umur apa dan bagaimana menafsirkannya.</p>
<h3>Bagaimana menafsirkan batasan usia?</h3>
<p>Sebagian besar sistem menunjukkan usia minimum yang disarankan menggunakan nomor yang sesuai. Tetapi tidak semua angka-angka ini dapat dipahami secara harfiah. Misalnya, peringkat Rusia 0+ kira-kira sama dengan PEGI 3 (cocok untuk segala umur). Sementara itu, sistem seperti ESRB menggunakan deskripsi alih-alih angka E atau Semua Orang atau <em>Everyone</em>, T, Remaja atau <em>Teenager</em>, dan sebagainya, tetapi setiap deskripsi sesuai dengan kelompok umur tertentu.</p>
<p>Dengan kata lain, tujuan dari klasifikasi ini adalah untuk memberi tahu pembeli bahwa game tersebut mungkin mengandung bahasa dewasa, adegan kekerasan, dan konten yang mungkin tidak diinginkan lainnya.</p>
<p>Untuk membantu orang tua memutuskan, selain batasan usia itu sendiri, banyak sistem menentukan mengapa game mendapatkannya. Misalnya, ESRB menggunakan deskripsi verbal dari elemen yang dapat menyebabkan pelanggaran. Di Eropa, Korea Selatan, dan Jepang, di sisi lain, piktogram digunakan.</p>
<p>Di beberapa daerah, peringkat bersifat ‘memerlukan bimbingan (<em>advisory</em>)’ pada wilayah lain, mereka bersifat jauh lebih ketat. Di banyak negara, misalnya, adalah sebuah pelanggaran hukum untuk menjual game 18+ kepada anak di bawah umur.</p>
<p>Adapun mengapa batasan umur bervariasi berdasarkan sistem peringkat hal tersebut lantaran setiap negara berbeda memiliki definisi berbeda tentang apa yang termasuk konten tidak pantas. Sebagai contoh, game multipemain DayZ dilanda beberapa pembatasan ritel besar di Australia tahun lalu.</p>
<p>Alasannya adalah bahwa pemain bisa mendapatkan bonus untuk penggunaan narkoba. Untuk dapat menembus toko-toko di Australia, para pengembang merilis versi modifikasi permainan.</p>
<p>Ambil contoh lain game The Sims. Game The Sims 4 adalah contoh permainan yang diberikan klasifikasi usia yang berlawanan secara diametral pada berbagai negara dari yang paling biasa (6+) hingga yang paling ketat (18+).</p>
<p>Sementara sebagian besar sistem penilaian sepakat bahwa itu cocok untuk klasifikasi remaja. Di Rusia, game tersebut diperuntukkan bagi orang dewasa karena permainan memungkinkan pemain untuk menciptakan pasangan sesama jenis dan bertengkar dengan kerabat. Sedangkan Jerman, misalnya, mengambil pandangan yang sama sekali berbeda, regulator Jerman menganggap The Sims, tanpa adanya kekerasan yang realistis, adalah cocok untuk orang yang lebih muda.</p>
<p>Situasi juga begitu beragam pada permainan anak-anak. Sebagai contoh, Pokemon Sword dan Pokemon Shield adalah cocok untuk anak-anak dari segala usia menurut ESRB, meskipun mengandung kekerasan kartun. Tetapi di Eropa dan Rusia, itu dianggap sepenuhnya tidak pantas untuk mata si kecil, PEGI menempatkan nya di peringkat usia 7 dan RARS di peringkat usia 6+.</p>
<h3>Bagaimana memilih game yang tepat untuk anak?</h3>
<p>Seperti yang sudah dibeberkan di atas, berbagai lembaga penentu batasan usia masih jauh dari suara bulat ketika berbicara mengenai klasifikasi game video. Namun bukan berarti Anda harus menolak sebuah judul game hanya karena anak Anda berusia lebih muda dari yang ditunjukkan pada kotak deskripsi aplikasi.</p>
<p>Akan lebih baik jika itu terbentuk dari opini Anda berdasarkan beberapa pertimbangan. Tidak hanya memperhatikan batasan usia, tetapi juga apa alasan sebuah game tersebut dirilis.</p>
<p>Jika Anda tinggal di negara yang tidak menyediakan konten dan informasi game dalam kotak deskripsi, carilah secara online. Mengetahui tentang jenis permainannya akan membantu Anda untuk memutuskan.</p>
<p>Bandingkan peringkat di negara Anda dengan negara lain untuk gambaran yang lebih komprehensif. Ingatlah bahwa, misalnya, kata-kata umpatan mungkin hilang dalam terjemahan, sehingga memungkinkan permainan tersebut memiliki batasan usia lebih tinggi di Negara-negara di mana pengucapan aslinya diucapkan dalam permainan.</p>
<p>Tontonlah <em>trailer</em> game di YouTube atau pada situs web pengembang permainan. Baca atau menonton beberapa ulasan online, Anda dapat menemukan blogger dan vloggers permainan video di jejaring sosial apa pun. Itu biasanya cukup untuk mendapatkan gambaran yang layak tentang seperti apa permainan tersebut.</p>
<p>Setelah pembelian, cobalah untuk memainkannya bersama sang buah hati. Cari tahu bagaimana cara permainan tersebut berjalan, dan bicarakan grafik, alur, serta dialog di dalamnya. Selalu dampingi buah hati ketika mereka bermain online. Dengan begitu, Anda akan mendapatkan gagasan yang jauh lebih baik tentang apakah itu pilihan yang tepat untuk anak Anda, sekaligus mendapatkan waktu berkualitas bersama .</p>
<p>Dan, agar buah hati tidak menghabiskan terlalu banyak waktu bermain gim, gunakan alat kontrol orangtua untuk menetapkan batas waktu misalnya dengan aplikasi Kaspersky Safe Kids. (jpc)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/orang-tua-harus-jeli-ini-cara-menentukan-game-yang-tepat-buat-anak/">Orang Tua Harus Jeli, Ini Cara Menentukan Game Yang Tepat Buat Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>8 Cara Sederhana Bagi Orang Tua Agar Buah Hati Gemar Membaca</title>
		<link>https://bontangpost.id/8-cara-sederhana-bagi-orang-tua-agar-buah-hati-gemar-membaca/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2020 04:30:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[literasi]]></category>
		<category><![CDATA[membaca\]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=71711</guid>

					<description><![CDATA[<p>Soal minat baca, riset Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara. Sementara itu, riset Kemendikbud pada 2012 menyebut kesenjangan pendidikan dan kemampuan dasar menyebabkan anak-anak di Indonesia Timur memiliki tingkat literasi yang rendah. Founder dan CEO Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil mengatakan, membuat anak gemar membaca [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/8-cara-sederhana-bagi-orang-tua-agar-buah-hati-gemar-membaca/">8 Cara Sederhana Bagi Orang Tua Agar Buah Hati Gemar Membaca</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Soal minat baca, riset Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 menempatkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara. Sementara itu, riset Kemendikbud pada 2012 menyebut kesenjangan pendidikan dan kemampuan dasar menyebabkan anak-anak di Indonesia Timur memiliki tingkat literasi yang rendah.</p>
<p>Founder dan CEO Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil mengatakan, membuat anak gemar membaca memang tidak mudah dan butuh kesabaran. Teladan dari orang tua sangat dibutuhkan.</p>
<p>Nila Tanzil memberikan tips bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya agar mau membaca. Apa saja? Berikut tipsnya dirangkum<em> JawaPos.com</em>, Senin (27/1/2020).</p>
<h3>1. Fasilitas perpustakaan yang baik</h3>
<p>Fasilitas dan akses buku di perpustakaan akan mendorong minat baca anak-anak. Senior Marketing Manager PT Tozy Sentosa (Parkson Centro Departement Store) Putu Lidrina Liskadarty menuturkan, masalah literasi rendah itu rupanya bukan disebabkan oleh ketidakmampuan anak.</p>
<p>Akan tetapi, lanjutnya, itu diakibatkan oleh sarana prasarana yang tidak memadai, seperti fasilitas perpustakaan yang kurang memadai. “Bahkan beberapa sekolah belum memiliki ruang perpustakaan,” katanya.</p>
<p>Putu pun mengajak masyarakat untuk berdonasi membangun perpustakaan guna meningkatkan literasi, khususnya di Nusa Tenggara Timur.</p>
<h3>2. Berlakukan waktu khusus</h3>
<p>Membiasakan anak membaca bisa dimulai dengan pemberlakuan waktu khusus aktivitas membaca. Usahakan waktunya sama agar menjadi kebiasaan.</p>
<h3>3. Jadilah contoh</h3>
<p>Orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi buah hati mereka. Orang tua yang suka membaca akan dicontoh oleh anak-anaknya.</p>
<h3>4. Lakukan bertahap</h3>
<p>Jika anak belum terbiasa, lakukan selama bertahap. Membaca diawali mulai 15 menit. Lalu tambah lagi 30 menit untuk sesi selanjutnya.</p>
<h3>5. Cari buku yang menarik</h3>
<p>Carilah buku yang sesuai dengan usia anak. Untuk anak balita tentunya buku disesuaikan dengan gambar dan warna yang menarik.</p>
<h3>6. Bacakan buku cerita</h3>
<p>Ayah atau ibu boleh membacakan akan buku cerita.</p>
<h3>7. Intonasi dan ekspresi</h3>
<p>Saat membacakan buku pada anak, orang tua harus memiliki ekspresi yang baik dan intonasi yang tepat. Sehingga karakter yang ada di buku bisa lebih hidup.</p>
<h3>8. Bacakan <em>e-book</em></h3>
<p>Era digital membuat orang tua mudah untuk mendapatkan buku lewat aplikasi. Maka tak harus buku dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dengan buku digital yang menarik untuk anak. (jpc)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/8-cara-sederhana-bagi-orang-tua-agar-buah-hati-gemar-membaca/">8 Cara Sederhana Bagi Orang Tua Agar Buah Hati Gemar Membaca</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Waspada dan Kenali 8 Jenis Kanker Pada Anak</title>
		<link>https://bontangpost.id/waspada-dan-kenali-8-jenis-kanker-pada-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2019 02:00:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=59633</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang tua berperan penting untuk mengenali serta mendeteksi dini gejala kanker pada anak. Jika ada perubahan sikap dalam beraktivitas, atau terdapat gejala-gejala mencurigakan lainnya yang tak kunjung sembuh, orang tua patut curiga. Sebab kanker pada anak banyak jenisnya dan menunjukkan gejala yang berbeda. Jenis-jenis kanker yang paling sering terjadi pada anak-anak berbeda dari yang terlihat [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/waspada-dan-kenali-8-jenis-kanker-pada-anak/">Waspada dan Kenali 8 Jenis Kanker Pada Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang tua berperan penting untuk mengenali serta mendeteksi dini gejala kanker pada anak. Jika ada perubahan sikap dalam beraktivitas, atau terdapat gejala-gejala mencurigakan lainnya yang tak kunjung sembuh, orang tua patut curiga. Sebab kanker pada anak banyak jenisnya dan menunjukkan gejala yang berbeda.</p>
<p>Jenis-jenis kanker yang paling sering terjadi pada anak-anak berbeda dari yang terlihat pada orang dewasa. Kanker anak yang paling umum adalah leukemia, tumor otak dan sumsum tulang belakang, neuroblastoma, tumor Wilms, limfoma (termasuk Hodgkin dan non-Hodgkin), Rhabdomyosarcoma, Retinoblastoma, kanker tulang (termasuk osteosarkoma dan sarkoma Ewing).</p>
<p>&#8220;Biasanya terdeteksi sebelum usia sekolah. Tetapi bayi bisa juga terkena. Makanya, deteksi dini sebenernya harus menyentuh di pelayanan primer di puskesmas. Program deteksi dini kanker sudah dibuat pemerintah,&#8221; kata Pakar Kesehatan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Allenidekania, kepada <em>JawaPos.com</em> baru-baru ini.</p>
<p>Perempuan yang akrab disapa Allen dan fokus di bidang Keperawatan Anak itu menjelaskan tiap jenis kanker memiliki gejala awal yang berbeda-beda. Umumnya yang dirasakan anak dari mulai kelelahan, perdarahan, nyeri sendi, hingga demam.</p>
<section>
<div id="smt-130519445" class="smaato-out-stream"></div>
</section>
<p>Dalam <em>Cancer.org</em> disebutkan ada delapan jenis kanker yang biasa dialami anak. Di antaranya,</p>
<p><strong>Leukemia</strong></p>
<p>Leukemia merupakan kanker darah, yang paling umum menyerang anak-anak. Mereka menyumbang sekitar 30 persen dari semua kanker pada anak-anak. Jenis yang paling umum pada anak-anak adalah leukemia limfositik akut (ALL) dan leukemia myelogenous akut (AML). Leukemia ini dapat menyebabkan nyeri tulang dan persendian, kelelahan, kelemahan, kulit pucat, perdarahan atau memar, demam, penurunan berat badan, dan gejala lainnya. Leukemia akut dapat tumbuh dengan cepat, sehingga harus diobati (biasanya dengan kemoterapi) segera setelah ditemukan.</p>
<p><strong>Tumor Otak dan Sumsum Tulang Belakang</strong></p>
<p>Tumor otak dan sistem saraf pusat adalah kanker yang paling umum kedua pada anak-anak. Yakni sekitar 26 persen dari kanker anak-anak. Ada banyak jenis tumor otak, dan perawatannya berbeda.</p>
<p>Sebagian besar tumor otak pada anak-anak dimulai di bagian bawah otak, seperti otak kecil atau batang otak. Mereka dapat menyebabkan sakit kepala, mual, muntah, pandangan kabur atau ganda, pusing, kejang, kesulitan berjalan atau menangani benda, dan gejala lainnya. Tumor sumsum tulang belakang lebih jarang daripada tumor otak pada anak-anak dan orang dewasa.</p>
<p><strong>Neuroblastoma</strong></p>
<p>Neuroblastoma dimulai dalam bentuk awal sel-sel saraf yang ditemukan pada embrio atau janin yang sedang berkembang. Sekitar 6 persen kanker pada masa kanak-kanak adalah neuroblastoma. Jenis kanker ini berkembang pada bayi dan anak kecil. Ini jarang ditemukan pada anak-anak di atas 10 tahun. Tumor dapat mulai di mana saja tetapi biasanya dimulai di perut (perut) seperti bengkak. Ini juga dapat menyebabkan nyeri tulang dan demam.</p>
<p><strong>Tumor Wilms</strong></p>
<p>Tumor Wilms (juga disebut nephroblastoma) dimulai pada satu, atau pada kedua ginjal. Ini paling sering ditemukan pada anak-anak sekitar 3 hingga 4 tahun. Tapi jarang terjadi pada anak-anak di atas usia 6. Hal ini dapat muncul sebagai pembengkakan atau benjolan di perut (perut). Terkadang anak mungkin memiliki gejala lain, seperti demam, sakit, mual, atau nafsu makan yang buruk. Tumor Wilms menyumbang sekitar 5 persen dari kanker anak-anak.</p>
<p><strong>Limfoma</strong></p>
<p>Limfoma mulai dalam sel sistem kekebalan yang disebut limfosit. Mereka paling sering mulai pada kelenjar getah bening dan jaringan getah bening lainnya, seperti amandel. Kanker ini juga dapat mempengaruhi sumsum tulang dan organ lainnya. Gejalanya tergantung pada tempat kanker berada dan bisa termasuk penurunan berat badan, demam, berkeringat, kelelahan (fatigue), dan benjolan (pembengkakan kelenjar getah bening) di bawah kulit di leher, ketiak, atau selangkangan.</p>
<p>Dua jenis limfoma utama adalah limfoma Hodgkin (kadang-kadang disebut penyakit Hodgkin) dan limfoma non-Hodgkin. Kedua jenis ini terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Limfoma Hodgkin menyumbang sekitar 3 persen dari kanker anak-anak. Limfoma Hodgkin jarang terjadi pada anak di bawah 5 tahun. Jenis kanker ini sangat mirip pada anak-anak dan orang dewasa, termasuk jenis perawatan yang paling berhasil.</p>
<p>Limfoma non-Hodgkin menyumbang sekitar 5 persen dari kanker anak-anak. Tetapi masih jarang terjadi pada anak-anak yang lebih muda dari 3 tahun. Jenis limfoma non-Hodgkin yang paling umum pada anak-anak berbeda dari yang ada pada orang dewasa.</p>
<p><strong>Rhabdomyosarcoma</strong></p>
<p>Rhabdomyosarcoma dimulai pada sel yang biasanya berkembang menjadi otot rangka. Jenis kanker ini dapat terjadi di hampir semua tempat di tubuh, termasuk kepala dan leher, pangkal paha, perut (perut), panggul, atau di lengan atau kaki. Ini dapat menyebabkan rasa sakit, bengkak (benjolan), atau keduanya. Kanker ini adalah jenis sarkoma jaringan lunak yang paling umum pada anak-anak. Ada sekitar 3 persen dari jumlah kanker anak-anak.</p>
<p><strong>Retinoblastoma</strong></p>
<p>Retinoblastoma adalah kanker mata. Ini menyumbang sekitar 2 persen dari kanker anak-anak. Ini biasanya terjadi pada anak-anak sekitar usia 2, dan jarang ditemukan pada anak-anak di atas 6. Retinoblastoma biasanya ditemukan karena orang tua atau dokter memperhatikan mata anak yang terlihat tidak biasa. Pada mata dengan retinoblastoma, pupil sering terlihat putih atau merah muda.</p>
<p><strong>Kanker Tulang</strong></p>
<p>Kanker yang dimulai pada tulang (kanker tulang primer) paling sering terjadi pada anak-anak yang lebih tua dan remaja, tetapi mereka dapat berkembang pada usia berapa pun. Mereka menyumbang sekitar 3 persen dari kanker anak-anak.<br />
Dua jenis utama kanker tulang primer terjadi pada anak-anak adalah Osteosarkoma paling sering terjadi pada remaja. Kanker ini biasanya berkembang, yakni tulang tumbuh dengan cepat, seperti di dekat ujung tulang panjang di kaki atau lengan. Ini sering menyebabkan nyeri tulang yang memburuk di malam hari atau dengan aktivitas. Ini juga dapat menyebabkan pembengkakan di daerah sekitar tulang.</p>
<p>Lalu Sarkoma Ewing adalah jenis kanker tulang yang kurang umum, yang juga dapat menyebabkan nyeri tulang dan pembengkakan. Ini paling sering ditemukan pada remaja muda. Tempat yang paling umum untuk memulai adalah tulang panggul, dinding dada (seperti tulang rusuk atau tulang belikat), atau di tengah tulang kaki panjang. (jpc)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/waspada-dan-kenali-8-jenis-kanker-pada-anak/">Waspada dan Kenali 8 Jenis Kanker Pada Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mana Lebih Tepat untuk Anak, Susu Sapi atau Susu Kedelai?</title>
		<link>https://bontangpost.id/mana-lebih-tepat-untuk-anak-susu-sapi-atau-susu-kedelai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2019 10:30:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[susu kedelai]]></category>
		<category><![CDATA[susu sapi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=58803</guid>

					<description><![CDATA[<p>Para ahli dan organisasi kesehatan merekomendasikan pemberian ASI kepada anak selama enam bulan pertama, dan bisa dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih. Bagi anak yang sudah berhenti minum ASI, biasanya orang tua akan memberikan susu sapi atau susu kedelai sebagai gantinya. Terkadang sebagai orang tua, Anda mungkin bingung dengan banyaknya produk susuyang tersedia [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mana-lebih-tepat-untuk-anak-susu-sapi-atau-susu-kedelai/">Mana Lebih Tepat untuk Anak, Susu Sapi atau Susu Kedelai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Para ahli dan organisasi kesehatan merekomendasikan pemberian ASI kepada anak selama enam bulan pertama, dan bisa dilanjutkan hingga anak berusia dua tahun atau lebih.</p>
<p>Bagi anak yang sudah berhenti minum ASI, biasanya orang tua akan memberikan susu sapi atau susu kedelai sebagai gantinya.</p>
<p>Terkadang sebagai orang tua, Anda mungkin bingung dengan banyaknya produk susuyang tersedia di pasaran. Tapi, susu untuk anak seperti apakah yang lebih tepat diberikan untuk si kecil? Biasanya, para orang tua kerap merasa bimbang antara memilih susu sapi atau susu kedelai.</p>
<p><strong>Pilih susu sapi atau susu kedelai?</strong></p>
<p>Di masa lalu, pilihan susu untuk anak tidak terlalu banyak, sehingga susu sapi menjadi salah satu pilihan populer. Susu formula yang banyak dikonsumsi di masa sekarang pun berbahan dasar susu sapi. Karena itu, tak heran susu sapi masih sering kali diberikan pada anak hingga saat ini.</p>
<p>Meski begitu, kini susu kedelai tengah menjadi produk susu yang dilirik para orang tua. Bila dilihat dari bahannya, kedelai merupakan salah jenis kacang yang biasa dikonsumsi sehari-hari, misalnya saja dalam bentuk tahu atau tempe. Jika dihancurkan, kacang ini dapat menghasilkan susu kedelai.</p>
<p>Saat ini, susu kedelai dipilih sebagai asupan alternatif bagi anak-anak yang memiliki alergi susu sapi. Namun, konsumsinya juga perlu diperhatikan. Karena diperkirakan setengah dari anak dengan alergi susu sapi juga bisa bereaksi terhadap susu kedelai.</p>
<p>Susu sapi mengandung berbagai nutrisi. Umumnya, dalam satu cangkir susu sapi terkandung 146 kalori dengan kandungan protein 8 g, lemak 8 g (biasanya lemak jenuh), dan karbohidrat 13 g. Susu sapi tidak mengandung zat besi.</p>
<p>Pada susu kedelai, umumnya dalam satu cangkir susu kedelai terkandung 100 kalori dengan kandungan protein 8 g, lemak 4 g (biasanya lemak tak jenuh), dan karbohidrat atau gula 4 g.</p>
<p>Jika dibandingkan, jumlah kalori yang diberikan susu sapi lebih banyak daripada susu kedelai. Selain itu, kandungan lemak pada susu sapi pun lebih banyak. Walau lemak sering kali dikaitkan dengan zat yang tidak menyehatkan, namun pada anak-anak, konsumsi lemak justru sangat dibutuhkan.</p>
<p>Adanya konsumsi sumber lemak yang sesuai dengan rekomendasi kebutuhan harian pada anak-anak akan membantu perkembangan otaknya.</p>
<p>Oleh karena itu, konsumsi susu kedelai tidak disarankan bagi anak di bawah dua tahun, mengingat perkembangan otak anak berjalan dengan pesat pada dua tahun pertama kehidupannya.</p>
<p><strong>Apabila anak alergi susu sapi</strong></p>
<p>Selain lemak, terdapat beberapa perbedaan kandungan gizi antara susu sapi dan susu kedelai. Misalnya, susu kedelai umumnya tidak mengandung vitamin A, D dan B sementara susu sapi memiliki vitamin-vitamin tersebut. Namun, bagi anak yang alergi susu sapi, orang tua biasanya akan memilih susu kedelai.</p>
<p>Jika ingin memberi anak susu kedelai, pastikan pilih produk yang sudah terfortifikasi dengan vitamin tersebut. Kandungan kalsium pada susu sapi umumnya lebih banyak daripada susu kedelai. Oleh karena itu, kalsium pun sering kali ditambahkan pada kemasan susu kedelai.</p>
<p>Di sisi lain, susu kedelai mengandung phytate, yaitu suatu zat yang dapat mengganggu penyerapan kalsium. Jadi, jika Anda memilih susu kedelai untuk anak, pastikan ia banyak makan atau minum sumber vitamin C bersamaan dengan konsumsi susu kedelai untuk membantu penyerapan kalsium dalam tubuhnya.</p>
<p>Sebuah studi menemukan konsumsi susu dapat memengaruhi tinggi anak. Dalam penelitian tersebut, anak berusia 3 tahun yang biasa mengonsumsi tiga cangkir susu sapi dalam satu hari, ternyata lebih tinggi 1,5 cm dibandingkan teman sebayanya yang mengkonsumsi tiga cangkir susu selain susu sapi dalam satu hari.</p>
<p>Diperkirakan, hasil ini berkaitan dengan jumlah protein dan lemak yang ditemukan lebih banyak pada susu sapi. Dari kandungan di dalamnya, susu sapi memang lebih baik daripada jenis susu lainnya. Tapi, apabila anak alergi terhadap susu sapi, tidak masalah bila minum susu kedelai.</p>
<p>Jadi, memilih susu sapi atau susu kedelai untuk anak tergantung pada berbagai pertimbangan. Misalnya saja usia anak (apakah di bawah atau di atas dua tahun), adanya alergi terhadap susu sapi, pola makan anak, dan sebagainya. Oleh karena sejumlah pertimbangan tersebut, maka pilihlah susu yang sesuai untuk si Kecil agar tumbuh kembang anak optimal.<strong>(NP/RVS/klikdokter)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mana-lebih-tepat-untuk-anak-susu-sapi-atau-susu-kedelai/">Mana Lebih Tepat untuk Anak, Susu Sapi atau Susu Kedelai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SIMAK! Ini Rumusan Gizi Seimbang untuk Anak</title>
		<link>https://bontangpost.id/simak-ini-rumusan-gizi-seimbang-untuk-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2018 00:00:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=51935</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dalam masa pertumbuhan, setiap anak berhak untuk mendapatkan asupan gizi seimbang. Terutama pada 1000 hari pertama sejak kelahirannya. &#8220;1.000 hari pertama kehidupan, merupakan momen sangat penting untuk mengatur gizi si kecil agar tetap seimbang. Begitu juga dengan sang ibu. Hal ini bisa menjamin kualitas hidup anak hingga dewasa&#8221; ujar Endang Achadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/simak-ini-rumusan-gizi-seimbang-untuk-anak/">SIMAK! Ini Rumusan Gizi Seimbang untuk Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam masa pertumbuhan, setiap anak berhak untuk mendapatkan asupan gizi seimbang. Terutama pada 1000 hari pertama sejak kelahirannya.</p>
<p>&#8220;1.000 hari pertama kehidupan, merupakan momen sangat penting untuk mengatur gizi si kecil agar tetap seimbang. Begitu juga dengan sang ibu. Hal ini bisa menjamin kualitas hidup anak hingga dewasa&#8221; ujar Endang Achadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.</p>
<p>Gizi yang seimbang bisa diperoleh dengan mengonsumsi menu makan bayi penuh gizi dan sesuai porsi. Endang pun memberikan rumus agar menu makanan untuk anak terjamin aspek gizinya.</p>
<p>&#8220;Secara umum, setengah piring makan terdiri dari makanan pokok yang sedikit lebih banyak dari lauk pauk. Separuhnya lagi, sayur yang banyak dan buah. Dan protein hewani agar asupan asam amino esensialnya terpenuhi,&#8221; ungkap Endang.</p>
<p><strong>Camilan enak yang lezat</strong></p>
<p>Anak-anak suka sekali dengan makanan kecil dan garing. Cobalah menyediakan camilan yang sehat seperti keripik sayur, cracker berisi rogut ayam atau yogurt.</p>
<p>&#8220;Taste itu dibangun sejak kecil. Bahkan sejak dalam kandungan. Jadi, biasakan konsumsi snack sehat seperti rebusan wortel atau kacang-kacangan,&#8221; kata Endang.</p>
<p>Selain makanan diatas, pudding apel juga bisa dijadikan cemilan sehat anak anda. Dengan berbagai varian rasa yang lezat dicampuri dengan apel yang berserat tinggi, sangat cocok untuk dijadikan cemolan untuk anak anda. (Liputan6.com/mg2/merdeka.com)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/simak-ini-rumusan-gizi-seimbang-untuk-anak/">SIMAK! Ini Rumusan Gizi Seimbang untuk Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meiliana: Anak Jangan Sering “Disariki” </title>
		<link>https://bontangpost.id/meiliana-anak-jangan-sering-disariki/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2018 03:30:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=32462</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAMARINDA – Ada banyak hak yang wajib diberikan bagi anak agar tumbuh kembangnya bisa lebih baik dan berkualitas. Karenanya, para orangtua wajib memperhatikan dan memberikan hak kepada anaknya serta tidak sering memarahi atau melarangnya dalam melakukan hak-haknya. Hal itu ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim Meiliana pada rapat kerja teknis (Rakernis) Kabupaten/Kota Layak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/meiliana-anak-jangan-sering-disariki/">Meiliana: Anak Jangan Sering “Disariki” </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SAMARINDA – Ada banyak hak yang wajib diberikan bagi anak agar tumbuh kembangnya bisa lebih baik dan berkualitas. Karenanya, para orangtua wajib memperhatikan dan memberikan hak kepada anaknya serta tidak sering memarahi atau melarangnya dalam melakukan hak-haknya.</p>
<p>Hal itu ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltim Meiliana pada rapat kerja teknis (Rakernis) Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) se-Kaltim Tahun 2018. Menurut dia, tumbuh kembang dan kualitas hidup anak sangat ditentukan atas hak-hak yang diterimanya dari para orang tua.</p>
<p>“Anak jangan sering disariki (dimarahi). Berikan hak-hak mereka, namun tetap diawasi orangtua,” katanya di Ruang Rapat Tepian 2 Kantor Gubernur Kaltim, Selasa (20/2).</p>
<p>Dia mengungkapkan beberapa daerah di Kaltim telah dicanangkan sebagai kabupaten/kota layak anak (KLA). Bahkan beberapa diantaranya meraih penghargaan secara nasional dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).</p>
<p>Seperti  penghargaan KLA Pratama yang diraih Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Berau dan Kota Samarinda. Sedangkan  katagori Madya diterima Kota Bontang dan Balikpapan.</p>
<p>Namun demikian lanjut Meiliana, masih ada tiga daerah yang belum menginisiasi pembentukan KLA yakni Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Mahakam Ulu dan Kabupaten Kutai Timur.</p>
<p>“Saya minta agar daerah-daerah yang belum menginisiasi KLA agar segera melakukan upaya-upaya teknis mewujudkan pembentukan Kota Layak Anak di daerah masing-masing,” tegas Meiliana.</p>
<p>Sementara itu Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKPPPA) Kaltim Hj Halda Arsyad mengemukakan  rakernis guna memotivasi sekaligus mendorong percepatan terwujudnya KLA di Kaltim.</p>
<p>“Melalui kegiatan ini mampu meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak sehingga terwujud KLA di Kaltim,” ujar Halda Arsyad.</p>
<p>Rakernis dilaksanakan dua hari (20-21 Februari) diikuti 50 peserta terdiri anggota DPRD, Bappeda, Dinas PPPA kabupaten dan kota se-Kaltim, Gugus Tugas KLA Kaltim dan lembaga masyarakat/organisasi pemerhati anak. <strong>(</strong><strong>*/drh</strong><strong>)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/meiliana-anak-jangan-sering-disariki/">Meiliana: Anak Jangan Sering “Disariki” </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Atasi Masalah Gizi Buruk, IRT Didorong Perbaiki Polah Asuh Anak </title>
		<link>https://bontangpost.id/atasi-masalah-gizi-buruk-irt-didorong-perbaiki-polah-asuh-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jan 2018 03:33:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gizi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=29860</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAMARINDA – Pada 2015 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim pernah merilis data, terdapat 17 ribu balita mengalami gizi buruk. Merebaknya balita yang mengalami gizi buruk ini karena kurangnya perhatian ibu meningkatkan asupan gizi anak. Hal itu diakui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Dinkes Kaltim, Wahyudinata. Ia mengimbau pada para ibu untuk terus memperhatikan dan meningkatkan gizi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/atasi-masalah-gizi-buruk-irt-didorong-perbaiki-polah-asuh-anak/">Atasi Masalah Gizi Buruk, IRT Didorong Perbaiki Polah Asuh Anak </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SAMARINDA – Pada 2015 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim pernah merilis data, terdapat 17 ribu balita mengalami gizi buruk. Merebaknya balita yang mengalami gizi buruk ini karena kurangnya perhatian ibu meningkatkan asupan gizi anak.</p>
<p>Hal itu diakui Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Dinkes Kaltim, Wahyudinata. Ia mengimbau pada para ibu untuk terus memperhatikan dan meningkatkan gizi anak. Pasalnya, ibu yang akan menentukan dan memahami masalah gizi anak.</p>
<p>“Makanya edukasi, penyuluhan, dan penyadaran soal gizi ini harus dimulai dari ibu balita. Karena dari ibu lah masalah gizi ini dimulai. Jika gizi anak baik, itu tandanya ibu benar-benar memperhatikan asupan makan anak,” jelasnya, Kamis (25/1) lalu.</p>
<p>Wahyudinata mengaku, gizi buruk umumnya dialami keluarga yang latar belakang ekonominya menengah ke bawah. Sebabnya, golongan ini cenderung mengabaikan pola makan dan pola hidup anak.</p>
<p>“Kalangan menengah ke bawah ini memberikan makanan yang tidak memenuhi standar gizi pada anak. Itulah sebabnya, banyak yang terkenan gizi buruk. Anak diberikan makanan bakso dan krupuk, sedangkan itu standarnya sangat rendah, tak heran gizi buruk didominisi kelompok ini,” ungkapnya.</p>
<p>Namun, tidak menutup kemungkinan masalah gizi buruk juga dialami masyarakat dengan tingkat ekonomi menegah ke atas. Karena masalah ini disebabkan pola hidup, pola makan, dan lingkungan.</p>
<p>“Ada juga dari kalangan ekonomi menegah ke atas yang pola makan anaknya buruk. Sehingga tak sedikit yang mengalami gizi buruk. Artinya apa? Ini soal perilaku, bukan semata-mata karena rendahnya asupan gizi yang diberikan pada anak,” terangnya.</p>
<p>Perilaku hidup yang dimaksud yakni makanan yang diberikan tidak teratur, ibu tidak menimbang anak secara rutin, dan kebersihan lingkungan sangat buruk. Soal lingkungan, ia memberikan catatan bahwa banyak anak gizi buruk karena saluran pembuangan air tidak dibenahi, di rumah banyak sarang lalat, dan sampah dibuang tidak pada tempatnya.</p>
<p>“Kebersihan lingkungan ini yang tidak diperhatikan secara serius, sehingga berpengaruh pada kesehatan anak dan timbulnya gizi buruk. Makanya harus seimbang antara pemenuhan gizi dan lingkungan, karena keduanya saling mendukung untuk menciptakan anak yang sehat,” imbuhnya.</p>
<p>Staf Ahli Bidang Ekonomi Pemerintah Provinsi Kaltim, Nina Endang Rahayu menyebut, hampir semua kota dan kabupaten di Benua Etam terdapat balita yang mengalami gizi buruk. Namun, tahun ini pihaknya lebih konsen di Kabupaten Penajam Paser Utara, karena di daerah tersebut banyak balita yang terkena gizi buruk.</p>
<p>“Tahun ini gizi buruk merata di kabupaten dan kota di Kaltim. Jadi tidak ada yang benar-benar dominan. Dinas Kesehatan fokus di Kabupaten Penajam Paser Utara itu bukan berarti daerah lain tidak ada gizi buruk, hanya saja ini tahapan penyelesaian masalah,” sebutnya.</p>
<p>Sementara di Samarinda, masalah gizi buruk mayoritas dialami masyarakat di Kecamatan Samarinda Seberang. Namun di kecamatan tersebut tidak ada satu pun bayi yang terkena gizi buruk.</p>
<p>“Tapi kekurangan gizi ini, jika dibiarkan akan meningkat jadi gizi buruk. Makanya masyarakat harus rutin ke posyandu, konsultasi dan memeriksa kesehatan anak. Dengan begitu, secara bertahap kekurangan gizi bisa diatasi,” tandasnya. <strong>(*/um/drh)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/atasi-masalah-gizi-buruk-irt-didorong-perbaiki-polah-asuh-anak/">Atasi Masalah Gizi Buruk, IRT Didorong Perbaiki Polah Asuh Anak </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ternyata ini Dampak Buruk Membentak Anak</title>
		<link>https://bontangpost.id/ternyata-ini-dampak-buruk-membentak-anak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jan 2018 23:10:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak]]></category>
		<category><![CDATA[membentak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=29103</guid>

					<description><![CDATA[<p>Membentak kerap dilakukan orangtua ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan. Namun, berdasarkan sebuah penelitian terbaru, membentak anak ternyata bisa menimbulkan dampak negatif saat mereka beranjak remaja. &#8220;Ini merupakan penelitian pertama yang mengindikasikan bahwa memarahi anak dengan berteriak dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa,&#8221; ujar Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian yang juga merupakan asisten profesor psikologi pendidikan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/ternyata-ini-dampak-buruk-membentak-anak/">Ternyata ini Dampak Buruk Membentak Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Membentak kerap dilakukan orangtua ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan. Namun, berdasarkan sebuah penelitian terbaru, membentak anak ternyata bisa menimbulkan dampak negatif saat mereka beranjak remaja.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan penelitian pertama yang mengindikasikan bahwa memarahi anak dengan berteriak dapat merusak kepribadian mereka saat dewasa,&#8221; ujar Dr Ming-Te Wang, pemimpin penelitian yang juga merupakan asisten profesor psikologi pendidikan di Universitas Pittsburgh.</p>
<p>Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development ini melibatkan 976 orangtua di Amerika Serikat yang sebagian besar merupakan keluarga kelas menengah. Riset mengungkap bahwa orangtua cenderung mengubah cara mendisiplinkan anak saat mereka beranjak remaja.</p>
<p>Cara disiplin yang awalnya diterapkan dalam bentuk fisik, kini berubah menjadi verbal yang kasar. Verbal kasar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah orangtua yang memarahi anak-anaknya dengan meneriakkan kata-kata kasar.</p>
<p>Seperti dikutip laman Daily Mail, penelitian ini mengungkap bahwa jika orangtua mulai memarahi anak saat berusia 13 tahun, anak tersebut akan berisiko besar memiliki masalah perilaku dan emosional saat dewasa. Anak-anak ini bisa menderita depresi di usia 13 dan 14 tahun. Mereka cenderung berperilaku negatif di sekolah, sering berbohong, mencuri, bahkan berkelahi.</p>
<p>Dr. Wang menegaskan, memarahi anak dengan berteriak bukan langkah yang efektif dalam menyelasaikan suatu masalah. Tindakan tersebut justru hanya akan berdampak buruk pada anak. Bahkan meskipun hubungan si anak dan orangtua sebenarnya cukup dekat. (umi)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/ternyata-ini-dampak-buruk-membentak-anak/">Ternyata ini Dampak Buruk Membentak Anak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemaksaan Karier Terhadap Anak Termasuk Kekerasan</title>
		<link>https://bontangpost.id/pemaksaan-karier-terhadap-anak-termasuk-kekerasan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Oct 2017 03:31:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=22031</guid>

					<description><![CDATA[<p>KPAI Minta Orang Tua Dukung Potensi Anak SAMARINDA – Pemaksaan kehendak orang tua kepada anak dalam hal pemilihan karier rupanya termasuk dalam bentuk kekerasan secara psikis. Pasalnya pemaksaan seperti ini berpengaruh pada kondisi psikis yang berhubungan dengan masa depan anak. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda meminta para orang tua untuk menghormati pilihan karier [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pemaksaan-karier-terhadap-anak-termasuk-kekerasan/">Pemaksaan Karier Terhadap Anak Termasuk Kekerasan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KPAI Minta Orang Tua Dukung Potensi Anak</p>
<p>SAMARINDA – Pemaksaan kehendak orang tua kepada anak dalam hal pemilihan karier rupanya termasuk dalam bentuk kekerasan secara psikis. Pasalnya pemaksaan seperti ini berpengaruh pada kondisi psikis yang berhubungan dengan masa depan anak. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda meminta para orang tua untuk menghormati pilihan karier sang anak.</p>
<p>Ketua Umum KPAI Samarinda Sri Lestari menuturkan, bentuk kekerasan terhadap anak bukan sekadar kekerasan secara fisik maupun seksual. Melainkan juga kekerasan psikis yang berpengaruh pada masa depan anak. Misalnya anak dipaksa mengikuti kehendak orang tua dalam hal karier.</p>
<p>“Ini salah satu pemicu. Kadang-kadang kalau sudah maunya orang tua, dipaksakan. Ini juga sebuah kekerasan,” kata Sri kepada Metro Samarinda.</p>
<p>Istri Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail ini menjabarkan, adanya pemaksaan kehendak membuat kondisi psikis anak menjadi tertekan. Sehingga menuruti kehendak orang tua. Padahal apa yang dilakukan bukan sesuatu yang disenangi atau bukan potensi yang dimiliki. Sementara orang tua seharusnya memahami dan menghormati apa yang menjadi bakat, hobi atau kemampuan anak.</p>
<p>“Contohnya saya dan suami yang sama-sama orang teknik. Kami pernah ingin anak kami mengikuti jejak orang tuanya dengan mendorong untuk kuliah teknik. Tapi anak kami tidak senang dengan teknik, padahal nilai eksaknya di SMA bagus,” kenangnya.</p>
<p>Sebaliknya sang anak malah menyenangi bidang kedokteran. Sri dan suami lantas memberikan kebebasan untuk menjalani sesuai bidang yang disenangi. Hasilnya, sang anak kini telah meraih kesuksesan di dunia kedokteran. Menurut Sri, ada kecenderungan bila memaksakan kehendak, sang anak tidak menemui kesuksesan karena tidak menyenangi apa yang dijalani.</p>
<p>“Mudah-mudahan <em>mindset</em> orang tua tidak seperti itu. Jangan otoriter dan memaksakan. Karena semakin dia kurang menyenangi, di tengah jalan bisa macet karena berontak,” ungkap Sri.</p>
<p>Termasuk dalam hal ini orang tua tidak boleh meremehkan bila anaknya memilih masuk ke SMK. Masalahnya masih ada orang tua yang lebih memilih anaknya masuk SMA ketimbang SMK. Padahal tidak ada perbedaan berarti antara SMA dengan SMK. Malahan sudah banyak contoh anak-anak SMK yang meraih kesuksesan.</p>
<p>“Peran orang tua itu yang terpenting dalam turut andil menentukan masa depan anak. Khususnya mendorong anak menemukan hobi dan bakat yang diminati. Karena ternyata banyak anak yang belum tahu bercita-cita menjadi apa. Bahkan tidak memahami apa hobinya,” pungkas Sri. <strong>(luk)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pemaksaan-karier-terhadap-anak-termasuk-kekerasan/">Pemaksaan Karier Terhadap Anak Termasuk Kekerasan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
