SANGATTA – Aktivitas warga yang mulai membakar lahannya untuk menyambut musim tanam tahun ini mulai menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya, meski larangan sudah dikeluarkan, namun masih banyak warga yang melakukannya.
Menyikapi hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) pun akan segera menyusun kajian akademis untuk menyelesaikan masalah tersebut.
“Saya sudah perintahkan semua camat untuk membuat kajian, bagaimana merubah pola hidup warga yang sebelum berladang menjadi tidak berladang. Karena upaya itu tentu, akan berimbas pada hasil pertanian warga. Makanya, kajian dibuat betul-betul,” ucap Bupati Kutim Ismunandar.
Dia mengatakan, selama ini untuk memenuhi kebutuhan beras, warga yang ada di pedalaman selalu menggantungkan hidup dengan membuka lahan hutan. Pola yang dilakukan secara turun temurun itu pun dengan membakar lahan. Setelah dibuka, kemudian ditanami padi gunung. Hanya saja, pola yang sudah menjadi kebiasaan tersebut harus diubah, karena berdampak negatif baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Namun, disisi lain juga perlu diperhatikan solusi terhadap warga yang menggantungkan hidup dari usaha itu.
“Nah, di sinilah Pemkab hadir, untuk bisa menghitung berapa kebutuhan yang diperlukan, jika mereka tidak berladang lagi. Karena, jangan sampai pola diubah, tapi mereka kemudian tidak bisa makan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Ismu pun meminta, dalam membuat kajian para camat harus memasukan data yang akurat dan jelas. Sehingga, anggaran yang dialokasikan sebagai pemenuhan dari perubahan pola hidup itu bisa terakomodir ke semua warga yang memang menggantungkan hidup dari berladang.
“Kajian ini nanti juga akan jadi dasar kami untuk mengetahui dapak perubahan pola hidup warga yang biasa berladang menjadi tidak berladang. Karena, mencegah aktifitas pembakaran lahan murupakan upaya menjaga ekosistem hutan Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia,” tutup Ismu. (aj)







