• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Tradisi Massorong Suku Pattae, Belajar Hidup dari Alam

by Jelita Nur Khasanah
16 Oktober 2023, 12:38
in Bontang
Reading Time: 2 mins read
0
Share on FacebookShare on Twitter

bontangpost.id – Deru mesin perahu terdengar samar. Mata seorang pria paruh baya dari Suku Pattae menatap jauh ke lahan bakau di perairan Berbas Pantai, Bontang Selatan. Air laut mulai surut, sementara ratusan pasang mata mendamba puluhan perahu berlomba-lomba membelah laut.

Ada tradisi yang lahir di tengah masyarakat Suku Pattae sejak dahulu. Salah satu etnis yang berasal dari wilayah sebelah barat Pulau Sulawesi, yakni Kabupaten Polewali Mandar. Tradisi yang terus hidup turun temurun, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat menyebutnya Massorong.

Tradisi itu dibawa masyarakat Suku Pattae ke manapun dan di manapun mereka berada. Sama halnya dengan sekitar 400 masyarakat Suku Pattae yang menggantungkan hidupnya di pesisir Bontang. Mayoritas penduduknya melaut dan mencari ikan.

Massorong menjadi tradisi perwujudan rasa syukur atas hasil alam dari bumi yang selama ini dipijak. Mereka hidup dari hasil laut. Berteman dengan gelombang, membawa gerombolan ikan yang berenang di bawah perahu. Hamparan laut menjadi ladang penghidupan. Segala rasa syukur dan keyakinan itu membulat, dan Massorong menjadi bentuk pengingat atas kebaikan alam.

“Puluhan tahun saya hidup di Bontang dan tradisi ini masih dilestarikan hingga sekarang,” tutur Abdul Gani, salah satu tokoh adat Suku Pattae.

Pria paruh baya itu mengisahkan Massorong, bukan sekadar warisan nenek moyang, namun juga pelajaran hidup. Dalam tradisi Massorong, masyarakat mengarungkan sejumlah makanan di laut. Menyajikan sokko’, yaitu ketan berwarna putih, hitam, dan kuning lalu diberi telur di atasnya. Hal itu memiliki makna yang dibawa dari keyakinan.

Ia menjelaskan, ketiga ketan itu melambangkan hati, jantung, dan paru-paru serta lebih menyiratkan makna secara lahiriah. Bila ketiga organ tersebut rusak, maka tidak ada hidup. Mengingatkan untuk hidup apa adanya, bertanggung jawab atas hidup yang dijalani, dan menerima nasib yang telah ditetapkan.

Jika dikaitkan dengan spiritual, sebelum lahir ke dunia, manusia telah diperlihatkan bagaimana hidupnya. Telah diciptakan sesuai nasibnya, sehingga menjalani hidup sepenuhnya didasarkan pada apa yang telah diberikan Tuhan.

Adapun Massorong dilakukan dua kali dalam satu tahun. Pada awal tahun, Massorong ditujukan untuk harapan agar menjadi lebih baik. Sementara di akhir tahun, Massorong mengingatkan apa saja yang telah terjadi satu tahun terakhir, sebagai bentuk evaluasi diri dalam situasi yang telah dihadapi.

Kendati begitu, makanan yang telah dilarung ke laut masih dapat dicicipi oleh masyarakat. Hal itu sekaligus menjawab pertanyaan soal mubazir. Namun tidak boleh dibawa pulang ke rumah, hanya boleh disantap di tengah atau di pinggir laut.

“Itulah mengapa disebut berpesta dengan alam semesta,” lanjut dia sambil tersenyum.

Lebih jauh, ia mempercayai bahwa segalanya lahir dari alam. Adanya air, tanah, udara, dan matahari menjadi pendamping manusia. Apa yang tersedia di alam, dinikmati pula oleh manusia. Ia mengibaratkan rerumputan yang hidup dan terus tumbuh meski telah dipangkas menandakan bahwa seperti itu juga manusia hidup, harus bertumbuh.

Binatang yang hidup di dalam hutan tak pernah takut kekurangan makanan. Mereka tetap hidup selayaknya. Minum dari air yang mengalir, makan dari sumber alam yang tersedia.

“Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari alam. Tidak ada yang dapat melihat sosok Tuhan. Tetapi melalui alam, manusia dapat merasakan kehadiran Tuhan,” imbuh dia.

Tradisi Massorong dilakukan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Bagi masyarakat Suku Pattae yang hidup sebagai petani, Massorong dilakukan di sawah atau ladang tempat mereka bekerja. Biasanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur karena hasil panen yang telah didapatkan.

“Caranya kurang lebih sama, hanya tempatnya yang berbeda. Kami melakukannya di laut, karena kami hidup dari hasil laut. Tapi ya harus saat pasang, kalau surut mana mungkin sampai ke tengah laut,” ujarnya sambil melempar canda. (*)

ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Pangan Murah di Kanaan, Warga Berebut 7,5 Ton Beras

Next Post

MK Tolak Gugatan Usia Minimal Capres-Cawapres 35 Tahun

Related Posts

Empat Tanda Kerusakan Ginjal yang Bisa Dikenali Lewat Urine
Kesehatan

Empat Tanda Kerusakan Ginjal yang Bisa Dikenali Lewat Urine

31 Oktober 2026, 19:05
Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat
Bontang

Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

31 Oktober 2026, 15:33
Jatam Soroti Ancaman Tambang dan Sawit terhadap Habitat Badak Pari di Mahulu
Kaltim

Jatam Soroti Ancaman Tambang dan Sawit terhadap Habitat Badak Pari di Mahulu

31 Oktober 2026, 14:10
25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah
Bontang

25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

31 Oktober 2026, 11:23
Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang
Kriminal

Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

31 Oktober 2026, 10:54
3.485 Pekerja di Kaltim Terdata Kehilangan Pekerjaan, Penyebabnya Masih Ditelusuri
Kaltim

3.485 Pekerja di Kaltim Terdata Kehilangan Pekerjaan, Penyebabnya Masih Ditelusuri

31 Oktober 2026, 10:00

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.