BONTANG – Pelaksanaan hari pertama Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bontang relatif lancar dan tidak menemukan kendala berarti. Mulai dari listrik, jaringan internet, maupun sinkronisasi soal dengan jawaban.
Hanya saja karena sarana dan prasarana komputer yang terbatas, sehingga pelaksanaannya tidak bisa dilakukan dalam satu waktu dan harus dibagi menjadi dua hingga tiga sesi.
Di SMAN 1 misalnya, Kepala SMAN 1 Titi Wurdiyanti mengatakan, dari total 213 siswa yang mengikuti pelaksanaan UNBK, jumlah kelas yang digunakan sebanyak dua ruangan. Satu ruangan terdiri dari 40 peserta.
Karena itu, pelaksanaan sesi pertama dari pukul 07.30-09.30 Wita, sesi kedua dari pukul 10.30-12.30 Wita, dan sesi terakhir dari pukul 14.00-16.00 Wita. “Kami juga siapkan sepuluh unit komputer cadangan jika sewaktu-waktu ada komputer yang bermasalah,” ujarnya kepada Bontang Post, Senin (10/4) kemarin.
Hal senada disampaikan Catur, Ketua Yayasan SMA YKP Monamas. Kata dia, dalam pelaksanaan UNBK hari pertama kemarin, peserta maupun guru pengawas tidak menemukan kendala berarti. “Listriknya tidak ada padam. Jaringannya juga tidak ada masalah. Semua aman,” terangnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dari 26 siswa Monamas yang ikut UNBK, pelaksanaan ujian dibagi menjadi dua sesi. Adapun jumlah kelas yang digunakan, hanya satu ruangan saja.
“Jumlah komputernya ada 20 unit. Satu sesi berjumlah 13 siswa. Enam sisanya digunakan untuk komputer cadangan,” sebutnya.
Hal berbeda justru dirasakan SMAN 2 Bontang. Meski tidak ada kendala listrik, jaringan internet, maupun sinkronisasi soal dengan jawaban, namun pihaknya masih terkendala dengan kurangnya sarana komputer. Untuk mengatasinya, pihak sekolah harus meminjam laptop siswa sebanyak 18 unit.
“Jumlah peserta yang ikut ujian ada 180 siswa. Ruangan yang dipakai ada dua kelas, pelaksanaannya dibagi menjadi tiga sesi,” jelas Kepala SMAN 2, Sumariyah.
Kata dia, jumlah keseluruhan komputer yang tersedia harus 81 unit komputer. Jumlah tersebut terdiri atas 60 komputer utama, dan 21 komputer cadangan. Sementara jumlah komputer sekolah hanya ada 48 unit saja. Ditambah laptop sekolah sebanyak 15 unit. “Jadi untuk menutupi kekurangan laptopnya, kami pinjam ke siswa sebanyak 18 unit,” pungkasnya. (bbg)







