SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ismunandar mengaku prihatin dengan masih banyaknya sarana dan prasarana sekolah yang belum laik. Sementara, keterbatasan anggaran akibat krisis keuangan yang dialami Pemerintah Kabupaten (Pemkab) menjadi batu sandungan dalam membenahi kekurangan tersebut. Oleh karena itu, kerjasama dengan pihak perusahaan swasta pun coba dilakukan.
“Jadi begini kepedulian kawan-kawan (perusahaan) harus fokus. Jangan bantuan yang disalurkan hanya berbentuk uang. Tetapi fokus pada fisik. Misal, jika di satu kecamatan ada bangunan sekolah yang butuh diperbaiki, itu yang harusnya dibantu perusahaan,” ucap Ismu.
Dia mengatakan, dari hasil kunjungannya ke sejumlah wilayah kecamatan, masih banyak ditemukan kondisi sarana prasarana sekolah yang belum laik. Mulai dari bangunan dinding sekolah yang rusak, pelafon ruang kelas jebol, jalan lingkungan sekolah yang becek, hingga kekurangan fasilitas sekolah lainnya.
“Inilah yang akan jadi fokus kami. Makanya saya suka berkeliling ke pedalaman itu untuk mengecek kondisi sesungguhnya di lapangan. Mungkin kalau di kota, kondisinya (bangunan sekolah) baik semua. Tapi, di pedalaman justru banyak yang masih kurang layak,” akunya.
Apalagi, lanjut Ismu, namanya sarana dan prasarana pendidikan itu harus merata. Sebab, akan berpengaruh besar terhadap kualitas dan mutu pendidikan.
“Bagaimana bisa merata. Jika soal yang diberikan sama, tapi kondisi di kota sumber informasi mudah didapat, fasilitas lengkap, sedangkan di pedalaman justru masih tanah bahkan ada yang duduk lesehan. Bagaimana mau belajar dengan baik. Pasti jomplang,” kata Ismu.
Oleh karena itu, aku Ismu, selama masa kepemimpinannya peningkatan sarana dan prasarana sekolah akan menjadi salah satu fokus utama. Sehingga diharapkan ada keseimbangan antara kualitas pendidikan di perkotaan dan pedesaan. (aj)







