Sejumlah warga Bontang mengaku tidak keberatan dengan adanya kenaikkan harga garam di pasaran. Alasannya, kenaikan harga garam di pasaran tersebut masih bisa dijangkau, karena harganya relatif masih murah.
“Cuma naik Rp seribu per bungkus, yang biasanya Rp 2.000 menjadi Rp 3.000. Saya rasa masyarakat masih bisa membelinya,” kata Yuniati, warga Kelurahan Belimbing.
Hanya saja ibu rumah tangga ini berharap, kelangkaan salah satu bumbu dapur ini tidak bertambah parah, semisal sampai tidak tersedianya stok di pasaran. “Yang penting barangnya masih ada buat kami ibu rumah tangga tidak masalah biar naik harganya, karena pasti akan repot bila kita harus memasak tanpa garam,” jelasnya.
Ungkapan senada dikatakan Hamida, ibu rumah tangga warga Loktuan. Ia menilai bahwa kebutuhan akan bumbu dapur tersebut sudah bisa diprediksi sebelumnya.
“Kalau saya biasanya memakai garam cukup dua bungkus saja sebulan. Kalau langka seperti ini saya biasa menyetok sampai empat bungkus. Biar ketika langka benar saya tidak repot,” katanya.
Muriani, warga Loktuan berharap kelangkaan garam tidak berlangsung lama, sehingga para ibu rumah tangga tidak kesusahan mencari garam ke mana-mana. “Semoga tidak berlangsung lama. Apa jadinya masakan tanpa garam,” ucapnya.
Kelangkaan garam di sejumlah daerah di Indonesia ternyata juga berimbas untuk wilayah Bontang dan sekitarnya, karena memang kebutuhan bumbu dapur ini didatangkan dari luar Kalimantan. (*/nug)







