BONTANG – Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi. Sistem ini sudah dilaksanakan dalam praktek pemilu. Seperti pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur ataupun Pilkada. Tak mau kalah dengan demokrasi di pemerintahan, sistem ini pun diadaptasi oleh SMA Negeri 1 Bontang. Dalam acara pemilihan Ketua OSIS periode 2017/2018.
Berbeda dengan sistem pemilihan ketua OSIS tahun-tahun sebelumnya, yang hanya menggunakan metode menulis nama calon yang dipilih dalam sobekan kertas kecil, tahun ini SMAN 1 Bontang membuat gebrakan dengan menggandeng KPU. Jadi, pemilihannya dengan sistem pencoblosan dan hasilnya dimasukkan dalam kotak suara. Untuk menandai pemilih yang sudah menggunakan hak pilihnya, panitia juga menggunakan sistem celup jari ke dalam tinta untuk menanggulangi kecurangan.
Menurut Kepala Sekolah SMA N 1 Bontang, Titi Wurdiyanti menyebutkan, tahun ini SMAN1 bekerja sama dengan KPU Kota Bontang. Sekolah meminjam fasilitas atau properti yang diperlukan untuk pencoblosan. Sekolah juga memohon kepada KPU untuk mensosialisasikan kepada peserta didik, bagaimana tata cara pelaksanaan pemilihan calon pemimpin demokratis yang dirujuk oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Supaya ke depannya peserta didik di SMAN1 memahami dan mengerti bagaimana memilih calon-calon pemimpin secara demokratis.
“Kenapa kami bekerjasama dengan KPU, karena ahlinya ada di sana. Jadi belajar langsung dengan ahlinya,” jelas Titi.
Pemilihan ketua Osis menggunakan sistem KPU bertujuan supaya, pelaksanaan pemilihan Ketua Osis bisa berlangsung demokratis, sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia. Untuk mengantisipasi adanya golput, panitia memahamkan kepada peserta didik bahwa setiap individu siswa memiliki hak dan kewajiban. Hak dipilih dan kewajiban memilih.
Barang siapa mengaku menjadi peserta didik SMAN 1 maka semua wajib turut serta memilih, karena dengan menyalurkan suaranya maka secara tidak langsung sudah turut berkontribusi dalam merencanakan mutu SMAN1 ke depan dan sebaliknya, barang siapa tidak memilih atau menyalurkan suaranya maka dia tidak turut serta berkontribusi.
“Jika tidak berkontribusi, ya ngapain ada di sekolah menjadi warga sekolah. lebih baik tidak ada di sana. Intinya, setiap individu yang sudah berkomitmen menjadi warga sekolah, harus berkontribusi terhadap kemajuan sekolah. Toh semua warga sekolah yang terdiri dari peserta didik, guru dan tenaga kependidikan semua ikut berperan menyalurkan suaranya,” tutur Titi.
Sedangkan tahap-tahap dalam pemilihan ketua osis tahun ini, Kepala Sekolah yang sudah 2 periode menjabat ini menuturkan, perbedaan pemilihan ketua osis tahun ini menggunakan properti yang lengkap, sehingga terlihat lebih serius. Adapun tahapannya pertama, pemilihan bakal calon, kemudian orasi calon di hadapan para pemilih, kemudian pelaksanaan pemilihan yang kemarin secara tekhnis sudah dilaksanakan.
Banyak sekali panitia yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini diantaranya pengurus Osis tahun 2016/2017, Ibu Iffa beserta jajarannya dari KPU, Pak Nurdin MPd selaku Pembina Osis, Dra. Sri Malayati, Wakasis serta manejemen sekolah dan pihak yang telah turut berpartisipasi dan mendukung kelancaran kegiatan ini.
“Kalau tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya para calon Ketua Osis belum di test atau diuji secara detail, maka tahun depan para calon akan diuji secara lengkap misalnya, kemampuan Bahasa Inggrisnya, cinta tanah airnya, sosial kemasyarakatannya di sekolah, kemandiriannya, kemampuan akademik dan seninya, dan integritas serta loyalitasnya kepada sekolah dan para guru. Sehingga ke depan didapatkan calon-calon pemimpin yang benar-benar cerdas dan tangguh, teruji mentalitasnya dan turut membantu memajukan SMAN1 ke depan. Semoga calon-calon pemimpin bangsa terlahir dari SMAN 1 Bontang,” Urainya.
Sementara itu, Ketua Osis terpilih, Muhammad Alham (16) mengaku, ia terpilih menjadi Ketua Osis karena faktor dukungan dari teman-temannya, bukan murni karena niatnya. Ia menyampaikan visi misinya yaitu menjadikan Osis lebih baik ke depannya, berdasarkan pendapat dan aspirasi siswa agar menjadi tolak ukur kemajuan program Osis.
Di samping itu, siswa kelas XI IPA 5 ini, menambahkan, bahwa selama ini yang menjadi kendala berkembangnya program Osis adalah masalah dana. Untuk itu ia akan berkonsultasi dengan Wakasis tentang bagaimana program Osis bisa berjalan dengan baik dan didukung dengan dana yang menunjang. (naw/mus/nis/res)







