SANGATTA – Mulai awal Juni 2017 mendatang tarif air bersih di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Tuah Benua akan mengalami kenaikan. Pasalnya, tarif yang diterapkan saat ini jauh diatas harga pokok produksi. Mengingat, kenaikan tarif air bersih yang dilakukan terakhir pada Juni 2012 lalu. Kenaikan tarif air pun berkisar antara 60 hingga 70 persen dari sebelumnya.
“Rencana kenaikan tarif ini akan kita berlakukan awal Juni. Nah jeda waktu saat ini akan kami manfaatkan untuk sosialisasi ke masyarakat,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Tuah Benua Aji Mirni Mawarni, Kamis (26/1).
Dia mengatakan, perhitungan ulang tarif air bersih dilakukan bersama Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Kaltim. Sebab, sesuai Audit Kinerja Tahun (AKT) 2015 harga jual air bersih yang dikeluarkan rata-rata Rp5.103,98 per M3, sementara harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp9.433,73 per M3.
“Jadi minus sekitar Rp4 ribu perM3,” ucapnya.
Tarif air yang belum menutup biaya secara penuh, jelas dia, akibat terjadi kenaikan bahan baku, seperti bahan bakar minyak (BBM), bahan kimia, material sambungan rumah, jaringan dan asesoris pipa, serta biaya pemeliharaan genset dan pompa, ditambah inflasi rata-rata setiap tahun sebesar 5.48 %.Selain itu, dalam kurun waktu 5 tahun PDAM juga tidak melakukan penyesuaian tarif air.
“Idealnya kenaikan tarif dilakukan setiap dua tahun sekali, sehingga kami (PDAM, Red.) tambah sehat dan mampu meningkatkan kinerjanya,” akunya.
Sementara, lanjut Mawar, jika kenaikan tarif tidak dilakukan, maka bisa berdampak terhadap kinerja keuangan. Tentu juga akan berpengaruh pada kelancaran pelayanan air bersih kepada masyarakat.
“HPP kami (PDAM Kutim, Red.) paling tinggi dibandingkan PDAM lainnya.Karena 90% fasilitas masih menggunakan genset yang berbahan bakar Solar dengan harga industry, meski kinerja perusahaan tahun 2015 menurut Kepmendagri No. 47/1999 tergolong cukup dengan nilai 50,76,” jelas Mawar.
Tentu, kata dia, dengan tarif yang seimbang dengan HPP, peningkatan pelayanan PDAM secara Kualitas, kuantitas dan kontinuitas terjamin.Selain itu kersedianya bahan baku seperti bahan kimia, serta peralatan untuk pemeliharaan juga terjamin.
“Nah, kita juga bisa lebih mandiri, sehingga tidak tergantung pada subsidi pemerintah lagi,” tutupnya. (aj)






