• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Ma Changqing dengan Ratusan Ribu Pelayat

by BontangPost
29 Juli 2018, 10:40
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
Dok Pribadi

Dok Pribadi

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Beberapa pembaca disway mengirim pertanyaan: benarkah ulama besar di Tiongkok meninggal? Kapan? Siapa beliau? Mengapa yang mengiringkan jenazahnya sampai ratusan ribu orang?

Saya sudah menerima kabar duka itu lebih dulu. Sehari setelah beliau wafat tanggal 16 Juli lalu. Tapi saya tidak menulis untuk disway. Saya tidak merasa kompeten. Saya memang beberapa kali ke Qinghai tapi belum pernah bertemu beliau. Saya tahu ketenaran beliau tapi saya tidak mengenalnya secara langsung.

Betul. Beliau meninggal. Nama: Ma Changqing. Usia: 83 tahun. Meninggal: 16 Juli 2018.

Beliau adalah imam besar Tiongkok. Dari masjid Dongguan di kota Xining, ibukota propinsi Qinghai.

Nama mesjid itu diambil dari nama jalan: Jalan Dongguan. Nama-nama masjid di Tiongkok selalu mengambil dari nama jalan. Karena itu ada masjid yang namanya Masjid Jalan Sapi. Itu karena masjidnya di jalan Niu Jie. Itulah mesjid terkenal di Beijing. Yang arsitekturnya seperti kelenteng itu.

Tidak ada ulama di Tiongkok yang melebihi imam Ma Changqing. Masjidnya besar sekali: bisa untuk 10.000 orang. Termasuk halaman yang di dalam pagar masjid. Arsitekturnya kombinasi: Arab, Tiongkok, dan Barat.

Baca Juga:  Meski Tidak Ada Uang di Balik Kutang

Inilah salah satu masjid tertua di Tiongkok. Berumur hampir 1.000 tahun. Memang sudah beberapa kali direnovasi tapi bangunan aslinya masih ada. Termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi. Sekalian jadi pusat turisme. Tidak ayal kalau kadang ada wanita bercelana pendek masuk masjid itu. Di luar jam peribadatan.

Soal arsitektur masjid ini lagi hangat dibicarakan di Tiongkok. Terutama di propinsi-propinsi yang padat ummat Islamnya: Xinjiang, Qinghai, Gansu dan Ningxia. Juga di Kunming. Saya sudah menjelajahi semua propinsi tersebut. Jumatan di sana atau buka puasa.

Pemerintah Tiongkok lagi mendekati masyarakat Islam: agar mengubah arsitektur masjid. Menjadi lebih bernuansa lokal. Jangan mengimpor budaya Arab seperti selama ini.

Kata pemerintah: tidak perlu lagi ada kubah. Yang mereka sebut bentuknya menyerupai bawang itu. Maka masjid yang mirip Masjid Chengho di Surabaya kian banyak di Tiongkok.

Baca Juga:  Kembali ke OBOR

Di samping imam besar Ma Changqing adalah juga anggota MPR. Mewakili golongan minoritas. Juga menjabat Wakil Ketua DPRD Provinsi Qinghai.

Beliau juga pengurus partai komunis. Para takmir masjid di Tiongkok umumnya juga pengurus partai komunis setempat.

Dari pemakaman imam Ma Changqing itu bisa dilihat bahwa kuburan masih diperbolehkan di Tiongkok. Tapi khusus untuk orang Islam. Untuk yang bukan Islam tidak boleh ada kuburan. Mayat mereka harus dibakar. Abunya disimpan di rumah abu. Untuk diziarahi setiap Jingbing. Kalau mau.

Orang Islam di Tiongkok selalu ke keburan. Setiap idul fitri. Itulah acara pertama dan utama setelah salat idul fitri.

Saya pernah ke kuburan di hari raya seperti itu. Tapi karena salah paham. Belum mengerti budaya ke kuburan.

Pagi itu, saya sudah rapi. Begitu juga istri. Ingin salat Idulfitri di masjid terdekat. Harus naik taksi.

Kepada sopir taksi saya bilang: saya ingin salat idul fitri yang paling banyak didatangi orang Islam. Sopir taksi itu mengerti. Tahu yang saya maksud.

Baca Juga:  Piala Dunia untuk Celeng

Ternyata saya diantar ke kuburan. Ya sudah. Gak mungkin balik. Kalau pun ngotot minta diantar ke masjid salatnya juga sudah selesai. Toh itu hanya salat sunnah. Bukan wajib. Sudah begitu sering saya salat Idulfitri di Tiongkok.

Hari itulah saya tahu: kuburan itu ramainya bukan main. Pantas sopir taksi sampai terkesan.

Peziarah itu umumnya datang satu keluarga. Membawa alas duduk dan makanan serta minuman. Mereka pesta Lebaran di makam itu. Yang tidak  bawa makanan pun bisa beli. Banyak pedagang makanan dadakan di kuburan itu. Juga pedagang barang lainnya.

Saya terkesan belakangan ini: banyak anak muda ke masjid. Tidak seperti 20 tahun lalu. Tapi saya belum melihat anak-anak di sana.

Menjadi Islam –maupun Kristen– tidak mudah di negara komunis seperti Tiongkok. Tapi selalu ada jalan. Selalu lahir “Walisongo”. Di mana saja. (dis)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
Share2TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Parpol Kesulitan Cari Figur Caleg

Next Post

Diskes Kutim Pahamkan Cara Penggunaan Obat di Masyarakat

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    Proyek Renovasi Rujab Kaltim Rp25 Miliar Sampai ke Pusat, Kemendagri Turunkan Tim Periksa Belanja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Bontang Berulah Lagi, Uang Curian Rp20 Juta Ludes untuk Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Parkiran Semrawut di Tanjung Laut Bontang, Warga Keluhkan Akses Tertutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 30 Penginapan di Bontang Kuala, Baru 2 yang Bayar Pajak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dishub Bontang Siapkan Penataan Parkir Kafe di Tanjung Laut Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.