• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Meski Tidak Ada Uang di Balik Kutang

by BontangPost
30 Oktober 2018, 17:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 4 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

JEPANG masih tergolong negara cash. Tidak terlihat ada orang membayar dengan klik handphone. Jarang juga terlihat orang membayar dengan kartu. Bahkan di stasiun kereta Nikko tertulis pengumuman: hanya menerima uang tunai. Untuk membeli karcis.

Naik bus kota pun masih dengan cara lama: harus cash. Kecuali yang langganan.

Bus kotanya selalu dilengkapi satu mesin. Saya sebut mesin kernet. Di sebelah sopir. Dengan dua lubang. Satu lubang untuk menerima uang koin. Satu lubang lagi untuk menukar uang kertas: menjadi koin. Siapa tahu ada penumpang tidak punya uang receh.

Saya bisa memasukkan uang lembaran 1.000 yen. Menggerojoklah uang-uang koin senilai 1.000 yen. Dari mesin kernet itu. Lalu saya bayar ongkos bus kotanya. Senilai tarifnya.

Dari mana tahu berapa tarifnya? Tidak perlu tanya sopir. Toh, sopir tidak mengerti bahasa lain kecuali Jepang. Waktu naik tadi cukup ambil karcis. Ukurannya selebar ibu jari. Yang otomatis keluar dari boks kecil. Di dekat pintu masuk.

Turun dari bus nanti karcis itu dimasukkan ke mesin kernet. Akan terlihat di layar digital: berapa harus bayar. Sesuai dengan jaraknya. Lalu masukkan koin sejumlah yang diminta.

Sopir tidak pernah menerima uang pembayaran. Atau menyerahkan uang kembalian. Sopir sudah punya kernet: yang punya dua lubang tadi.

Di kota Otsunomiya, dekat Nikko, saya selalu naik bus kota. Murah. Nyaman. Di Jepang tarif taksi mahal sekali. Sekali jalan bisa Rp 500 ribu. Dari Shinjuku ke Ginza.

Kalau di Tokyo saya pilih naik subway. Kereta bawah tanah. Jarak Rp 500 ribu tadi hanya perlu bayar Rp 27 ribu (200 yen).

Baca Juga:  Transfer Caleg Jelang Final Piala Dunia

Untuk makan malam di Yotshuya pun saya pilih naik subway. Berdesakan. Meski bayar makannya nanti bisa Rp 2 juta. Itulah restoran yang amat populer: Kirakutei. Di Shinmichi Doori. Di satu gang yang semuanya restoran enak. Teman Jepang saya bilang: salah masuk pun akan enak. Bintang-bintang film banyak makan di situ. Makanannya: yakiniku. Jangan bayangkan lezatnya. Dan lumer dagingnya.

Saya memerlukan ke situ. Setiap ke Tokyo. Kangen. Yang sebenarnya.

Memang angkutan umum di kota-kota di Jepang tidak membuat orang asing terasa asing. Tidak pula perlu bertanya-tanya. Yang entah bagaimana cara bisa bertanya.

Kembali ke Nikko. Kota kecil sekali itu. Yang indah sekali itu.

Di dekat stasiun Nikko ada antrean panjang. Saya mengintip. Untuk tahu. Lagi antre apa itu. Saya ikut antre: beli kue. Seperti ketan goreng. Dalamnya isi kacang merah. Yang dilembutkan. Bukan main larisnya. Semua bayar cash: 200 yen sebutir. Tidak satu pun yang pakai uang elektronik.

Saya ingat saat ke Tiongkok terakhir: di kaki lima pun sudah tidak pakai uang tunai lagi. Sudah pakai sejenis Paytren.

Sampai Tokyo saya makan siang di Shinjuku. Di meja sebelah saya duduk dua wanita setengah umur. Asyik ngobrol dalam bahasa Jepang. Waktunya membayar saya lirik sesapuan: masing-masing mengeluarkan dompet. Bayar dengan uang cash. Bayar sendiri-sendiri.

Saya lihat uang yen mereka rapi-rapi. Lurus-lurus. Dompetnya memanjang. Seukuran uang. Tidak mungkin membuat uangnya lusuh.  Rasanya baru di Jepang ini saya lihat: tidak ada uang kumuh. Semua uang seperti baru.

Baca Juga:  Ditahan Semalam Demi Hukum

Membawa uang yen memang tidak repot. Pecahannya besar. Ada pecahan 10.000 yen. Yang nilainya Rp 1.350.000. Untuk membawa uang Rp 13 juta cukup 10 lembar.

Bandingkan dengan pecahan terbesar rupiah: Rp 100.000. Untuk membawa Rp 13 juta tidak bisa lagi masuk dompet.

Rapi sekali orang Jepang menata uang. Di dompetnya. Beda dengan pengalaman lama saya. Di desa dulu. Uang selalu disimpan dalam bentuk lungsetan.

Waktu kecil saya hampir tidak pernah melihat ada uang kertas yang masih lurus. Setiap menerima uang lusuhnya bukan main. Gambarnya sudah kabur. Sering juga uangnya tambalan: pernah tersobek ditengahnya. Lalu disambung lagi. Saya juga sering menyambung uang. Saat sambungan lamanya terlepas. Dilem dengan butiran nasi putih.

Di desa, uang pasti lusuh. Bagaimana tidak. Saya hafal: ibu saya selalu menyimpan uang di balik kutangnya. Campur keringat dari susunya.

Kalau mau membayar ibu merogoh dulu balik kutangnya. Saat menerima uang memasukkannya ke balik kutang. Kutang adalah BH zaman dulu. Waktu memasukkan ke balik kutang itu uangnya dilipat empat. Sering juga dalam bentuk gumpalan.

Itu tempat menyimpan uang paling aman. Bagi wanita. Bukan karena tidak punya dompet. Memang orang desa tidak ada yang punya dompet. Dompet tidak penting. Yang penting isinya.

Saya juga hafal tempat aman lainnya: diselempitkan di lempitan-lempitan stagen. Yang dililitkan di pinggang. Agar kain batiknya tidak melorot. Tapi menyimpan uang di stagen mudah jatuh. Saat stagennya longgar.

Baca Juga:  Trump Kecele Lagi

Waktu kecil saya sering merogoh-rogoh kutang ibu. Untuk mencari uang. Untuk beli permen. Ibu lebih sering mengatakan tidak punya uang. Makanya ibu membiarkan saja kutangnya dirogoh-rogoh. Toh tidak akan menemukan apa-apa.

Kalau ayah punya cara sendiri: menyimpan uang di lipatan kopiahnya. Itu tempat paling aman. Tidak pernah kopiah itu lepas dari kepalanya. Kalau tidur pun kopiah di taruh di atas bantal. Begitu bangun yang dicari kopiah dulu. Seperti kita sekarang: begitu bangun cari handphone.

Sekarang tidak mungkin lagi  menyimpan uang di lipatan kopiah. Atau di balik bra. Dulu bisa. Yang disimpan hanya satu dua lembar. Sekarang orang punya uang berlembar-lembar.

Kopiahnya bisa tidak berbentuk lagi. Atau dadanya bisa besar sebelah.

Saya tidak tahu mengapa orang Jepang masih suka bawa uang cash. Dalam jumlah banyak. Padahal wanitanya tidak punya kutang. Dan laki-lakinya tidak punya kopiah.

Adakah akar budaya uang cash itu amat dalam. Misalnya, untuk apa menaruh uang di bank. Toh bank tidak memberi bunga. Sumber dana terbesar bank, di Jepang, bukan dari deposito. Melainkan dari dana asuransi. Atau dana pensiun.

Orang Jepang pilih taruh uang di saham. Atau obligasi. Untuk keperluan sehari-hari lebih baik bawa cash.

Toh tidak ada copet. Atau tidak perlu takut uang istri diambil suami. Atau uang suami diambil istri.

Tidak perlu juga khawatir ada anaknya yang merogoh-rogohkan tangannya di balik kutang ibunya.

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tolak Politik Praktis Masuk Kampus, Mahasiswa Untag Gelar Aksi dan Pencopotan APK

Next Post

CAT Tunggu Jadwal dari BKN

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Digerebek Tengah Malam, Pemuda di Bontang Baru Kedapatan Simpan 28 Paket Sabu di Rumah

    Digerebek Tengah Malam, Pemuda di Bontang Baru Kedapatan Simpan 28 Paket Sabu di Rumah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Motor vs Pikap di Poros Sangatta–Bontang, Pengendara Asal Tanjung Laut Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Heboh Petugas MBG Jadi ASN, SPPG Bontang Ungkap Fakta Sebenarnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Bontang Ingatkan Sekolah, Tak Boleh Pungut Biaya Bimbel dan LKS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Pengedar Sabu Dibekuk di Marangkayu, Polisi Sita Belasan Gram Barang Bukti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
No Result
View All Result

Komentar Terbaru

    Arsip

    • Januari 2026
    • Desember 2025
    • November 2025
    • Oktober 2025
    • September 2025
    • Agustus 2025
    • Juli 2025
    • Juni 2025
    • Mei 2025
    • April 2025
    • Maret 2025
    • Februari 2025
    • Januari 2025
    • Desember 2024
    • November 2024
    • Oktober 2024
    • September 2024
    • Agustus 2024
    • Juli 2024
    • Juni 2024
    • Mei 2024
    • April 2024
    • Maret 2024
    • Februari 2024
    • Januari 2024
    • Desember 2023
    • November 2023
    • Oktober 2023
    • September 2023
    • Agustus 2023
    • Juli 2023
    • Juni 2023
    • Mei 2023
    • April 2023
    • Maret 2023
    • Februari 2023
    • Januari 2023
    • Desember 2022
    • November 2022
    • Oktober 2022
    • September 2022
    • Agustus 2022
    • Juli 2022
    • Juni 2022
    • Mei 2022
    • April 2022
    • Maret 2022
    • Februari 2022
    • Januari 2022
    • Desember 2021
    • November 2021
    • Oktober 2021
    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Desember 2020
    • November 2020
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Agustus 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Februari 2020
    • Januari 2020
    • Desember 2019
    • November 2019
    • Oktober 2019
    • September 2019
    • Agustus 2019
    • Juli 2019
    • Juni 2019
    • Mei 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Februari 2019
    • Januari 2019
    • Desember 2018
    • November 2018
    • Oktober 2018
    • September 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Juni 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Februari 2018
    • Januari 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2017
    • Juni 2017
    • Mei 2017
    • April 2017
    • Maret 2017
    • Februari 2017
    • Januari 2017
    • Desember 2016

    Kategori

    • Advertorial
    • Bontang
    • Breaking News
    • Catatan
    • Celoteh Edwin
    • Cerpen
    • Dahlan Iskan
    • Dispopar
    • DPRD Bontang
    • ekonomi
    • Entertainment
    • Feature
    • Hikmah
    • Hoaks atau Tidak?
    • Infografis
    • Internasional
    • Kaltim
    • Kesehatan
    • Kolom Redaksi
    • Kriminal
    • Kriminal
    • Kuliner
    • Lensa
    • Lifestyle
    • Lingkungan
    • Loker Bontang
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Pemkot Bontang
    • Pendidikan
    • Pilihan Editor
    • Politik
    • Polling
    • PON 2021 Papua
    • Pupuk Kaltim
    • Ragam
    • Society

    Meta

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org
    • Indeks Berita
    • Redaksi
    • Mitra
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Pedoman Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
    • Kontak

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • Bontang
    • Kaltim
    • Nasional
    • Advertorial
      • Advertorial
      • Pemkot Bontang
      • DPRD Bontang
    • Ragam
      • Infografis
      • Internasional
      • Olahraga
      • Feature
      • Resep
      • Lensa
    • LIVE

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.