• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post | Mencerdaskan dan Menginspirasi
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post | Mencerdaskan dan Menginspirasi
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Tarrant-Felix-Owns

by M Zulfikar Akbar
30 April 2019, 14:19
in Dahlan Iskan
Reading Time: 5 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Tuduhan untuk Brenton Tarrant berubah. Semula hanya dituduh melakukan pembunuhan. Kini tuduhannya baru: ‘melakukan 50 pembunuhan dan 29 percobaan pembunuhan’.

Perkembangan baru persidangan pengadilan Jumat lalu itu tentu jauh dari yang Tarrant bayangkan sebelumnya.

“Paling saya nanti dihukum 27 tahun,” tulis Tarrant di media sosial. Sebelum Tarrant datang ke dua masjid di Selandia Baru. Dengan menyandang senjata otomatis. Dan kamera menempel di keningnya. Agar aksinya hari itu bisa disiarkan secara live streaming. Saat ia menembaki jamaah salat Jumat. Di masjid An Noor di pusat kota Christchurch dan masjid yang lebih kecil di Jalan Linwood. Jumat 15 Maret lalu.

Korbannya: 50 orang tewas, 29 terluka. Salah satunya Alen Al Sati, anak berumur 5 tahun. Yang baru bisa siuman seminggu lalu. Yang saat dijenguk Pangeran William dari Inggris Alen sudah mulai bisa bicara. Pendek-pendek.

“Apakah Pangeran juga punya anak kecil?,” tanya Alen.

“Punya. Seumur kamu,” jawab Pangeran.

“Siapa namanya?”

“Namanya Charlotte… “.

“Siapa nama panggilannya?”

“Panggilannya juga Charlotte,” jawab Pangeran.

Ayah Alen sendiri sudah sembuh. Yang juga terkena tembakan di bahu dan perut.

Tarrant langsung mengakui tuduhan itu. Dengan persiapan mental ‘paling 27 tahun’ itu.

Tapi dengan tuduhan baru itu tidak bisa dibayangkan: berapa ratus tahun hukuman yang akan dijatuhkan kepada Tarrant.

Saat membayangkan ‘paling dihukum 27 tahun’ Tarrant menganggap itu enteng. Bahkan heroik. Kalau pun harus masuk penjara “sama dengan Nelson Mandela,” tulisnya. “Dan setelah itu menerima hadiah Nobel perdamaian,” tambahnya.

Motif utama Tarrant Anda sudah tahu: bukan agama. Agama hanya terikut. Yang lebih ia perjuangkan adalah supremasi kulit putih.

Itu bermula setelah ayahnya meninggal dunia. Tahun 2011. Tarrant mendapat warisan. Ia pergunakan uang itu untuk jalan-jalan. Ke berbagai negara. Timur dan barat.

Saat berada di Perancis jiwa Tarrant tersedak. Ia melihat begitu banyak imigran. Ia khawatir. Eropa yang putih lama-lama akan hilang keputihannya.

Lihatlah manifesto Tarrant. Yang diposting di facebook itu. Yang panjangnya 74 halaman itu. Juga di twitternya. Dengan followers 19 juta. Begitu terusik jiwa Tarrant. Jiwa yang menurutnya tetap jiwa Eropa. Meski ia sendiri orang Australia. Lahir di Australia.

“Aslinya bahasa saya bahasa Eropa, budaya saya Eropa, keyakinan politik saya politik Eropa, filosofi saya filosofi Eropa, identitas saya Eropa, dan yang terpenting darah saya darah Eropa” tulisnya.

Baca Juga:  Kembali ke Tiga Bangunan Biru

Di Perancis itu Tarrant menggambarkan sesuatu yang mengganggu keEropaan-nya. Besarnya jumlah orang non-putih yang ia lihat saat itu ia gambarkan sebagai ‘invasi imigran’.

Nenek Tarrant, Marie Fitzgerald mengakui sejak pulang dari jalan-jalan itulah ia berubah.

Tarrant yang dulu bekerja di pusat kebugaran menjadi lebih asik di dunia medsos. Ketemulah di situ orang-orang yang juga gelisah. Akan menurunnya dominasi kulit putih.

Banyak ide aksi yang muncul di pikirannya. Termasuk merencanakan pembunuhan imigran dengan cara yang spetakuler: live show.

Maka live streaming pembunuhan massal itu begitu mengerikan. Begitu dramatik. Begitu lama: 17 menit. Abadi di medsos. Memang video aslinya sudah dihapus dari Youtube  tapi rekamannya terus beredar.

Dan yang tidak bisa dihapus adalah seruan Tarrant itu: “Ingatlah wahai para muda. Berlanggananlah PewDiePie”.

PewDiePie adalah milik Youtuber kulit putih. Yang lagi berjuang mengalahkan Youtuber kulit berwarna dari India. Tinggal sedikit lagi akan menang.

Rupanya Tarrant memenuhi syarat kekhasan generasi muda sekarang: sadar medsos. Ia seperti Anda juga. Begitu terkesan dengan tayangan PewDiePie di Youtube. Yang tema pokok contennya sebenarnya ngajak asyik bermain: let’s play. Tapi kadang terasa pesan perjuangan kulit putihnya.

PewDiePie memang top. Subscriber Youtube-nya terbesar kedua di dunia: 95 juta orang. Jumlah viewernya 21 miliar.

Di balik PewDiePie itu adalah pemiliknya: Felix Kjellberg. Nama lengkapnya Felix Arvid Ulf Kjellberg. Kelahiran Swedia. Tinggal di Brighton, Inggris. Bersama pacarnya: gadis Italia. Namanya Maria Bisognin. Yang dikenalnya sebagai sesama Youtuber. Felix sampai mengejarnya ke Italia. Tinggal di sana. Sebelum akhirnya tinggal bersama di Brighton. Mereka suka tinggal di kota kecil. Di dekat pantai. Dan lagi, pengakuannya, jaringan internet di Inggris lebih baik dari Swedia atau Italia.

Felix memang Yuetuber asli. Kuliahnya pun ia tinggal. Drop out. Dari studi tehnik di Chalmers of Technology University di Gotenberg, pantai barat Swedia. Untuk menekuni bidang desain, grafis, editing foto. Itulah modal utamanya untuk menjadi Youtuber profesional.

Tentu awalnya tidak bisa langsung menghasilkan uang. Felix harus hidup. Ia pun pilih jualan hotdog di pinggir jalan. Daripada kuliah. Meski bapaknya seorang eksekutif perusahaan. Ibunya juga. Di barat seorang anak yang sudah 18 tahun pantang minta uang ke orang tua.

Baca Juga:  Masjid di Depok-nya Dallas

Hasil jualan hotdog itulah. Ditambah hasil jualan beberapa karya olahan photoshopnya itulah. Ia bisa beli komputer. Agar bisa lebih serius dalam membuat content  Youtube-nya.

Tiga hari lalu Felix memposting edisi khusus. Selama 4 menit. Isinya klasifikasi. Bahwa ia bukan seorang white supremacy. Tidak seperti yang dikesankan oleh meme yang dibuat Tarrant.

Felix juga menjelaskan bahwa isi postingan yang seperti itu bukan dimaksudkan untuk bisa mendapatkan subscriber lebih banyak.

Memang ada kesan Felix lagi mengejar status juara dunia. Untuk bisa segera menjadi Youtuber terbesar di jagad raya. Kurang beberapa juta lagi sudah akan mengalahkan T-Series. Yakni Youtuber Bollywood dari New Delhi. Yang isinya tentang musik. Yang subscriber-nya 95.6 juta.

Kejar-kejaran sebagai yang terlaris itulah yang membuat Felix seperti menghalalkan segala cara. Termasuk mengejar subscriber dari kalangan fanatik white supremacy. Sampai-sampai ada Youtuber yang isinya khusus menyerang Felix. Dan subscribernya juga jutaan.

Felix bisa saja mengejar T-Series. Dalam hal memperoleh subscriber. Tapi akan sulit mengejar jumlah viewer T-Series. Yang sekarang sudah mencapai 65 miliar. Masih tiga kali lipat viewer PewDiePie.

Semula saya bingung mencari arti PewDiePie. Ternyata itu gabungan nama lama dan baru.

Nama lama ‘rumah’ Felix adalah PewDie. Diambil dari kegemaran ya main game. Terutama tembak-menembak. Pew adalah bunyi tembakan. Menurut telinga orang Swedia. Mirip ‘dor’ di telinga kita. Atau ‘bang’ di telinga orang Amerika.

Die adalah hasil tembakan itu: mati. Nama PewDie bisa diartikan: Dor! Mati!

Suatu saat Felix lupa password rumahnya itu. Terpaksa ia bikin ‘rumah baru’. Kebetulan ia suka makanan pie. Jadilah: PewDiePie.

Tarrant tidak hanya menyebut nama PewDiePie di manivestonya. Aksi pembunuhan massalnya itu disebutkan terinspirasi oleh Candace Owens. Seorang wanita muda Amerika. Yang, anehnya, kulit hitam.

Umur mereka sepantaran. Tarrant, Felix dan Candace adalah anak muda 28-29 tahunan.

Owens juga tidak lulus universitas di kota kelahirannya: Stamford, Connecticut. Semula dia ambil mata kuliah jurnalistik. Sebelum lulus Owns sudah bisa diterima bekerja di majalah wanita Vogue.

Waktu SMA Owns jadi korban bully. Yang bersifat rasialis. Dia telusuri sumber bully itu. Ternyata anak walikota Stamford.

Baca Juga:  Tempe Setelah Belajar Doroyaki

Dengan bantuan seorang pengacara Owns menggugat sang walikota. Dianggap gagal melindungi warga kotanya. Owns pun mendapat ganti rugi hampir Rp 500 juta.

Sejak itu Owns menjadi lebih aktif di medsos. Membela para korban bully. Namanya jadi terkenal. Dia bikin website yang isinya daftar pembully. Dan menyerang mereka.

Owns lantas juga masuk ke isu-isu politik.

Setahun sebelum Pilpres, 2015, isi website Owns masih Pro-Demokrat. Masih anti Trump. Anti konservatif. Bahkan berani mendoakan agar Tea Party segera mati.

Tentu Owns dibenci kalangan republikan. Tea Party adalah sayap radikal konservatif yang sangat penting. Seperti RSS di BJP-nya Narendra Modi di India.

Saking antinya pada Trump Owns sampai berani membuat meme sensitif: ukuran kemaluan Trump. Yang di Amerika diisukan sangat kecil itu.

Tapi dalam satu malam Owns  berubah haluan: pro-konservatif, pro Donald Trump dan amat anti Demokrat. “Demokrat lah yang sangat rasialis,” tulisnya. Dia melawan pendapat umum: Republik lah yang lebih rasialis.

Pokoknya sejak satu malam itu  Owns membenarkan apa pun yang diucapkan Trump. Sampai-sampai Trump memuji Owns setinggi langit.

Sampai Trump menilai komentar-komentar politik Owns itu telah membawa impact yang besar bagi perpolitikan nasional Amerika. Candace ia nilai sebagai pemikir besar.

Owns seperti terbang melambung tinggi. Pro-konservatifnya kian menjadi-jadi.

Suatu saat Owns menyelenggarakan Blexit rally. Untuk mendukung Trump. Agar kelompok kulit hitam pindah ke Trump. Rally itu sukses. Pesertanya banyak. Umumnya orang kulit putih.

Tidak segan-segan Owns  menunjukkan sikap pro Ku Klux  Klan. Yang sudah dilarang di Amerika. Sebagai gerakan yang ultra white supremacy.

Sampai-sampai Owns sendiri anti gerakan kulit hitam paling berpengaruh di Amerika: Black Lives Matter.

Owns baru kena batunya ketika kelihatan juga pro-Hitler. Menjadi olok-olok nasional di Amerika.

Minggu lalu Owns juga bikin klarifikasi. Membersihkan namanya dari apa yang dilakukan Tarrant di Selandia Baru.

Tarrant mengejar popularitas lewat live treaming pembunuhan massal yang dilakukannya. Felix mengejar popularitas lewat karirnya sebagai Youtuber. Owns  mengejar popularitasnya lewat komentar-komentar ekstrimnya.

Adakah unsur kejiwaan narsistis-negatip yang berlebihan di balik setiap aksi teror?

Itulah yang lagi diteliti para ahli kejiwaan tentang dampak sosmed zaman ini.(dahlan iskan)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Nama Anggota Dewan Terpilih Sudah Tersebar, KPU Sebut Tak Valid

Next Post

Ibu Kota Negara Bakal Dipindah ke Luar Jawa

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Silau Lampu Diduga Jadi Pemicu, Xenia dan Truk Adu Banteng di Jalan Poros Bontang

    Silau Lampu Diduga Jadi Pemicu, Xenia dan Truk Adu Banteng di Jalan Poros Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beda dengan Bontang, Pemkab Kutim Pangkas TPP ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemotor Korban Laka di Cipto Mangunkusumo Bontang Meninggal Saat Perjalanan ke Rumah Sakit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Keluarga Owner Arisan Online di Samarinda Dijarah, Kuasa Hukum Duga Ada Kaitan dengan Member

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan di Jalan Cipto Mangunkusumo Bontang, Pemotor Luka Berat Usai Tabrak Truk

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
No Result
View All Result

Komentar Terbaru

    Arsip

    • Desember 2025
    • November 2025
    • Oktober 2025
    • September 2025
    • Agustus 2025
    • Juli 2025
    • Juni 2025
    • Mei 2025
    • April 2025
    • Maret 2025
    • Februari 2025
    • Januari 2025
    • Desember 2024
    • November 2024
    • Oktober 2024
    • September 2024
    • Agustus 2024
    • Juli 2024
    • Juni 2024
    • Mei 2024
    • April 2024
    • Maret 2024
    • Februari 2024
    • Januari 2024
    • Desember 2023
    • November 2023
    • Oktober 2023
    • September 2023
    • Agustus 2023
    • Juli 2023
    • Juni 2023
    • Mei 2023
    • April 2023
    • Maret 2023
    • Februari 2023
    • Januari 2023
    • Desember 2022
    • November 2022
    • Oktober 2022
    • September 2022
    • Agustus 2022
    • Juli 2022
    • Juni 2022
    • Mei 2022
    • April 2022
    • Maret 2022
    • Februari 2022
    • Januari 2022
    • Desember 2021
    • November 2021
    • Oktober 2021
    • September 2021
    • Agustus 2021
    • Juli 2021
    • Juni 2021
    • Mei 2021
    • April 2021
    • Maret 2021
    • Februari 2021
    • Januari 2021
    • Desember 2020
    • November 2020
    • Oktober 2020
    • September 2020
    • Agustus 2020
    • Juli 2020
    • Juni 2020
    • Mei 2020
    • April 2020
    • Maret 2020
    • Februari 2020
    • Januari 2020
    • Desember 2019
    • November 2019
    • Oktober 2019
    • September 2019
    • Agustus 2019
    • Juli 2019
    • Juni 2019
    • Mei 2019
    • April 2019
    • Maret 2019
    • Februari 2019
    • Januari 2019
    • Desember 2018
    • November 2018
    • Oktober 2018
    • September 2018
    • Agustus 2018
    • Juli 2018
    • Juni 2018
    • Mei 2018
    • April 2018
    • Maret 2018
    • Februari 2018
    • Januari 2018
    • Desember 2017
    • November 2017
    • Oktober 2017
    • September 2017
    • Agustus 2017
    • Juli 2017
    • Juni 2017
    • Mei 2017
    • April 2017
    • Maret 2017
    • Februari 2017
    • Januari 2017
    • Desember 2016

    Kategori

    • Advertorial
    • Bontang
    • Breaking News
    • Catatan
    • Celoteh Edwin
    • Cerpen
    • Dahlan Iskan
    • Dispopar
    • DPRD Bontang
    • ekonomi
    • Entertainment
    • Feature
    • Hikmah
    • Hoaks atau Tidak?
    • Infografis
    • Internasional
    • Kaltim
    • Kesehatan
    • Kolom Redaksi
    • Kriminal
    • Kriminal
    • Kuliner
    • Lensa
    • Lifestyle
    • Lingkungan
    • Loker Bontang
    • Nasional
    • Olahraga
    • Opini
    • Pemkot Bontang
    • Pendidikan
    • Pilihan Editor
    • Politik
    • Polling
    • PON 2021 Papua
    • Pupuk Kaltim
    • Ragam
    • Society

    Meta

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org
    • Indeks Berita
    • Redaksi
    • Mitra
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Pedoman Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
    • Kontak

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

    No Result
    View All Result
    • Home
    • Bontang
    • Kaltim
    • Nasional
    • Advertorial
      • Advertorial
      • Pemkot Bontang
      • DPRD Bontang
    • Ragam
      • Infografis
      • Internasional
      • Olahraga
      • Feature
      • Resep
      • Lensa
    • LIVE

    © 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.