SANGATTA – Atlet dari sejumlah cabor asal Kutim yang akan bertanding di Palu, Sulawesi Tengah, belum seluruhnya didapati kabar selamat dari bencana gempa dan tsunami yang terjadi di kawasan tersebut.
Rencana akan mengikuti perlombaan di ajang olahraga, sejumlah atlet malah menjadi tim relawan yang membantu penyelamatan korban bencana alam.
Seperti yang dilakukan oleh dua orang atlet panjat tebing asal Kutim, Fitriyadi dan Herlangga. Usai bencana tersebut memporak-porandakan kota, keduanya membantu tim penyelamatan untuk mengangkat mayat.
Fitriyadi menceritakan kondisinya di daerah itu. Melihat kejadian di depan mata, membuatnya tergugah untuk membantu sesama. Lebih lanjut, ia menerangkan keadaan Palu yang hancur dan sulit mendapat jaringan untuk memberi kabar.
“Tidak ada akses pulang, jembatan dan jalan ke bandara selain Palu banyak yang putus. Bandara Palu belum bisa didaratin pesawat komersil, sejak kemarin hanya helikopter dan pesawat hercules TNI yang mendarat. Jaringan juga susah, listrik mati total, keadaan kota lumpuh,” jelasnya melalui pesan singkat whatssup.
Ia menerangkan, kegiatan hari dimana saat terjadi gempa dan tsunami, sebenarnya merupakan waktu mereka untuk berlaga di ajang olahraga Palu. Namun, faktanya berbeda. Ia dan rekannya mengaku tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Seluruh gedung mayoritas rusak berat, termasuk kondisi bandara.
“Sampai saat ini saya belum beli tiket pulang. Kemarin kami ingin membantu evakuasi di lokasi terparah, namun kami tidak maksimal karena masih ada isu air naik dan gempa susulan, jadi kami membantu mengebumikan satu jenazah korban reruntuhan Masjid Agung Palu, yang mana saat kejadian beliau sedang azan,” tuturnya.
Tidak hanya itu, atlet senior ini memaparkan kondisi daerah dan kebutuhan di lokasi pasca bencana. Termasuk kondisi ratusan jenazah yang berserakan di beberapa kawasan. Sehingga banyak tim penyelamatan yang kesana-kemari mengangkut mayat.
“Di Rumah Sakit Tentara, pasien sangat banyak, mayat-mayat terus berdatangan di antar relawan dan pergi diambil oleh keluarga. Bahkan masih banyak yang tidak dikenali dan belum diambil keluarga,” ungkapnya.
Kesulitan air bersih dan kebutuhan dipaparkannya. Menurutnya keadaan saat ini semakin mengkhawatirkan. Ratusan tempat tinggal rusak dan harus dialihkan ke tenda pengungsian.
“Tadi malam truk tangki diserbu masyarakat. Mungkin jika dua atau tiga hari ke depan tidak ada bantuan kami bisa khawatir. Sekarang kami tinggal di sekretariat FPTI Kota PALU, di Jalan Cendrawasih no 15 A, Gedung Kwarcab pramuka lantai 2,” bebernya.
Ia menuturkan, bantuan utama yang dibutuhkan yakni logistik, mengingat persediaan makanan mulai menipis, tenda pengungsian, air bersih, obat-obatan, termasuk kebutuhan perempuan. (*/la)







