• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Membangun Mimpi dari Atas Atap

by BontangPost
7 November 2018, 06:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 4 mins read
0
SUKSES: Rustono memamerkan tempe buatannya.(Disway)

SUKSES: Rustono memamerkan tempe buatannya.(Disway)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

Ujian Rustono akhirnya mencapai batas. Berkat sumber air dari kuil itu, Rustono berhasil membuat tempe dengan sempurna. Berikut laporan wartawan Disway, Dahlan Iskan, dari Jepang.

—–

Akhirnya Tsuruko Kuzumoto jadi wanita hebat itu. Di belakang lelaki sukses itu: Rustono. Anak desa asal Grobogan itu.

”Ayo kita ke kuil,” ujar Tsuruko pada suaminya itu. Suatu waktu. Setelah melihat tempe suaminya selalu gagal. Berminggu-minggu.

Padahal sudah membeli selimut listrik. Untuk menyelimuti bakal tempenya. Agar tidak terkena udara dingin di musim dingin.

Juga tetap saja gagal.

Biar pun terus konsultasi dengan ahli tempe: ibunya atau tetangga ibunya. Lewat sambungan telepon internasional.

Pengantin baru itu pun berangkat ke kuil. Naik sepeda. Menuju stasiun terdekat. Lalu naik kereta api. Sejauh 30 km. Ada stasiun di dekat kuil itu.

Mereka membawa jirigen. Untuk mengambil air dari pancuran. Yang selalu mancur tanpa henti. Di komplek kuil itu.

Banyak orang antri ambil air di situ. Umumnya membawa botol. Tapi Rustono membawa jeriken. Agar bisa membawa pulang air lebih banyak.

Kalau jerigen itu harus sampai  penuh akan lama mengisinya. Antrian di belakangnya akan panjang. Rustono mengisi dulu  jirigen itu setengahnya. Lalu mundur. Ikut antri lagi di barisan paling belakang. Untuk mengisinya lagi. Sampai penuh.

Air dari kuil itulah yang dibawa pulang. Untuk membuat tempe.

Menggantikan air dari kran di rumahnya.

Ternyata kali ini tempenya jadi!  Untuk pertama kalinya.

Berkat air dari kuil itu.

Yang sepenuhnya mengalir dari sumber di pegunungan.

Kesimpulannya: membuat tempe tidak bisa dengan air kran.

Memang, di Jepang, kita bisa langsung minum air dari kran. Tanpa harus direbus. Begitu bersihnya. Tapi kandungan zat pembersih air itu masalahnya. Membuat ragi tempe tidak bisa berkembang.

Baca Juga:  Antara Bali dan Jakarta

Sejak menggunakan air dari sumber itulah tempenya tidak pernah gagal.

Rustono berhasil membuat tempe. Tantangan berikutnya: bagaimana bisa menjual tempe itu. Untuk lidah orang Jepang. Yang belum mengenal tempe sama sekali.

Tiap hari Rustono mendatangi restoran di Kyoto. Menawarkan terus tempenya. Dari pintu ke pintu.

Tidak mudah membuat orang asing membukakan pintu. Untuk orang tidak dikenal. Apalagi berwajah asing.

Sudah bisa diduga: tidak ada yang mau menerimanya.

Rustono tidak putus asa. Tekadnya sudah terlalu bulat untuk jadi pengusaha.

Lebih banyak lagi restoran yang ia datangi. Tidak juga ada yang mau.

Mendatangi terus. Ditolak terus.

Setelah berhari-hari gagal, ia sampai pada putusan ini:  memberikan tempenya begitu saja. Ke pemilik sebuah restoran.

Caranya: saat menemui pemilik restoran terakhir itu ia tidak bicara apa pun. Ia langsung pegang tangan pemilik restoran itu.Ia taruh tempenya ditelapak tangannya. Lalu ia tinggal pergi.

Cara itu ia lakukan karena terpaksa. Kalau Rustono minta ijindulu pasti ditolak. Biar pun itu untuk memberikan tempenya secara gratis.

Tapi optimisme Rustono tidak pernah padam. Ia bertekad mencari rumah di pegunungan. Dekat hutan. Yang ada sumber airnya. Agar tidak selalu ke kuil. Yang 30 km itu.

Rustono mencari lokasi. Membangun rumah sendiri. Ditukangi sendiri. Dengan dibantu istri. Yang ikut mengangkat kayu. Atau menaikkan kayu.

Ia akan tinggal di rumah baru itu. Di situ pula ia akan terus memproduksi tempe.

Saat membangun rumah itulah Jepang lagi musim salju. Apalagi di desa  Rustono ini. Yang di lereng gunung. Yang ketinggiannya 900 meter.

Baca Juga:  Kisah Ikan Eka

Yang saljunya lebih tebal.

Rustono tidak berhenti bekerja. Ia naik ke atap. Menyelesaikan rumahnya. Dengan menggigil kedinginan.

Ternyata kerja bersalju-salju itu tidak sia-sia. Ada wartawan lewat di jalan depan rumahnya. Terheran-heran. Kok ada orang kerja di atas atap. Saat salju lagi turun. Difotolah itu Rustono.

”Lagi bikin apa? ” teriak si wartawan. Dari mobilnya.

”Membangun impian,” jawab Rustono. Antara serius dan bercanda.

Kata ‘membangun impian’ itu membuat si wartawan terpikat. Ia turun dari mobil. Mengajak Rustono bicara. Diwawancara. Tentang filsafat ‘membangunimpian’ itu.

Maka terpaparlah ‘membangun impiannya’ Rustono di surat kabar Jepang. Hampir satu halaman penuh. Beserta foto-fotonya.

Dan itu di koran Yumiuri Shimbun. Koran yang sangat besar di Jepang. Saya pernah ke kantor pusatnya. Dulu. Juga ke percetakannya. Dulu.

Koran-koran Jepang juga ikut memberi inspirasi penting bagi saya. Terutama Chunichi Shimbun. Koran terbesar di Jepang Tengah. Di Nagoya: bagaimana koran daerah bisa mengalahkan koran ibukota di daerahnya. Saya ikuti kiat-kiat Chunichi Shimbun. Sampai berhasil.

Yang memotret Rustono itu rajanya koran di seluruh Jepang: Yumiuri Shimbun.

Itulah titik balik Rustono. Dimuat di koran besar. Satu halaman pula.

Restoran-restoran yang pernah ia datangi kaget. Membaca koran itu. mereka pada telpon. Memesan tempenya. Mereka simpati pada Rustono.

Bukan soal kehebatan tempenya. Tapi pada besarnya tekad anak Indonesia itu. Dalam membangun mimpinya.

Di koran tadi kisah tentang tempenya hanya sekilas. Yang banyak justru tentang impian seorang manusia muda.

”Dari tulisan itu saya belajar. Menjual tempe ternyata tidak harus bercerita tentang tempe,” ujar Rustono.

Sejak itu tempenya terus berkembang. Kini Rustono punya tiga lokasi pembuatan tempe. Semuanya di daerah pegunungan. Dekat rumahnya. Yang sumber airnya banyak. Yang pemandangannya indah.

Baca Juga:  Mengandalkan Kreativitas Bubur Remas

Di setiap lokasi itu dilengkapi cool storage. Sekali bikin tempe: 1,5 ton kedelai.

Tidak tiap hari ia bikin tempe. Saat saya ke lokasi No 3 nya,tempenya masih tampak kedelai. Di bungkusanbungkusan plastik. Di jejer-jejer di rak-rak. Baru sehari sebelumnya dibuat.

Rustono baru membuat tempe lagi kalau yang 1,5 ton itu hampir habis terjual. Dan itu tidak lama. Hanya seminggu.

Ada pengukur suhu di ruang itu: 35 derajat. Ada tiga kipas angin. Yang bergerak semua.

”Itu untuk memutar udara agar suhunya merata,” ujar Rustono.

Saya amati anak Grobogan ini: penuh energi. Sangat antusias. Optimistis. Khas orang sukses.

Ia juga humble. Sopan. Rendah hati. Khas orang sukses.

Ia selalu tersenyum.Kadang tertawa. Matanya berbinar. Khas orang sukses.

Saat mengunjungi lokasinya yang No 2 ada pemandangan unik. Ada kulkas di lantai bawah. Yang seperti garasi. Ada tulisan ditempel di kulkas itu. Ukurannya cukup besar. Bisa dibaca oleh orang yang lewat di jalandi dekatnya.

Bunyi tulisannya: silakan ambil sendiri. Harganya: 300 yen sebiji.

Ada kaleng berlubang yang digantung di atas kulkas. Itulah kasir Rustono.

Rustono membuka kulkas isi tempe itu. Isinya berkurang. Ia kocok kaleng berlubang itu. Yang ia gantung di atas kulkas itu. Berbunyi kecrek-kecrek.Pertanda ada uang di dalamnya.

Ia buka kaleng itu. Ia tumpahkan isinya. Ada uang lembaran 1000 yen. Ada pula segenggam uang koin.

Siapa saja boleh mengambil tempe di kulkas itu. Ia percaya semua orang Jepang pasti memasukkan uang ke kaleng itu. Sesuai harganya. (Dahlan iskan/bersambung)

Catatan Redaksi:

Mulai hari ini, Pak Dahlan Iskan kembali aktif di instagram: dahlaniskan19

Tags: dahlan iskan
Share8TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Penanggalungan Banjir Fokus Normalisasi Sungai

Next Post

Rp 2,278 Miliar untuk 85 Mitra Binaan Pupuk Kaltim

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wanita di Loktuan Bontang Diringkus Polisi, Sabu Ditemukan di Pinggir Jalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.