• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Daripada Nostalgia

by BontangPost
18 Desember 2018, 16:00
in Dahlan Iskan
Reading Time: 2 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

 

Tujuan akhir saya kali ini: Lebanon. Negeri kecil yang terjepit itu. Israel di selatannya. Syiria di utaranya. Laut di baratnya.

Untung ada langit di atasnya.

 

Tapi tidak ada penerbangan ke Beirut. Langsung dari Jakarta. Pilihannya sih banyak: lewat Istanbul, Turki. Lewat Dubai. Atau Abu Dhabi. Dua kota di Uni Emirat Arab. Atau lewat Muscat di Oman. Atau lewat Jeddah, Arab Saudi. Masih bisa lewat Cairo, Mesir.

 

Pilihan saya: lewat Doha. Di Qatar.

 

Sekalian saya ingin tahu: perkembangan terbarunya. Setelah dikucilkan selama dua tahun. Oleh Arab Saudi dan sohibnya: Emirat Arab, Bahrain, Oman dan Kuwait.

 

Sebenarnya ingin juga lewat Oman. Ingin nostalgia: ke situlah saya ke luar negeri pertama. Dalam hidup saya.

 

Itu 40 tahun lalu. Saat saya masih wartawan pemula. Harus meliput ketegangan di Salalah. Perbatasan Oman dengan Yaman (Hadramaut).

 

Sayangnya tidak tiap hari ada penerbangan ke Muscat. Padahal ngiler sekali bisa ke Oman lagi. Mengenang ini: pertama kali tinggal di hotel bintang lima. Intercontinental: saya bawa pulang pernik-pernik hotel itu.

Baca Juga:  Ajak Makan Ikan Papuyu, Dinasihati Pentingnya Sebuah Reward

 

Pertama kali naik helikopter. Milik tentara. Terbang dari Muscat ke Salalah.

 

Pertama kali tahu dan merasakan sarapan ala Eropa.

Pertama kali merasakan apa itu jetlag. Tidak bisa tidur tengah malam.

 

Pertama kali naik business class: saya bawa pulang pernik-pernik pesawat.

 

Semua itu dibayar oleh kerajaan Oman. Yang kaya. Meski termiskin di semenanjung Arabia.

 

Juga pertama kali saya melakukan liputan bersama lima wartawan asing. Saya tergagap-gagap: cewek-cewek bule itu, wartawati dari Inggris itu, berambut pirang itu, begitu fasih berbahasa Arab. Saya KO.

 

Saya tidak malu mengakui ini: tidak berani mengajukan pertanyaan. Setiap kali ada momen saya hanya mendengarkan. Mencatat. Toh yang ingin saya tanyakan  sudah terwakili. Sudah ditanyakan oleh wartawati-wartawati yang memperlakukan saya itu.

 

Pikiran saya pun terbuka: siapa pun berbahasa Arab di Arab. Bukan hanya yang seperti kami yang Islam.

Baca Juga:  Selang Rp 500 Juta di Pembuluh Saya

 

Kemampuan bahasa Arab saya ternyata tidak ada apa-apanya. Hanya bisa membedakan mana itu doa. Dan mana itu pengumuman pramugari yang diucapkan dalam bahasa Arab: jangan merokok di toilet.

 

Lupakan nostalgia.

 

Melihat perkembangan Qatar lebih penting.

 

Qatar. Yang menjadi pusatnya jaringan stasiun televisi Al-Jazeera: CNN-nya Timur Tengah. Yang begitu objektif. Independen. Tidak pernah ‘no signal’. Dalam melihat perkembangan apa pun di dunia Arab. Sampai wartawannya masih di dalam penjara. Di Mesir.

 

Qatar. Saya juga ingin melihat, ehm, stadionnya. Yang lagi dibangun. Untuk piala dunia 2022. Yang banyak ditentang itu: bagaimana sepakbola dilaksanakan di negara gurun.  Yang suhunya bisa 45 derajat. Pada bulan Juli.

 

Qatar. Anda sudah tahu: ngotot. Sampai menawarkan ini: membangun empat stadion baru sekaligus. Yang semuanya full AC.

 

Qatar. Saya sebenarnya masih menunggu tawaran baru Qatar: semua penontonnya diberi tiket pesawat gratis. Juga saat masuk stadion. Tambah voucher hotel. Lalu ada door price Jaguar.

Baca Juga:  Hukuman Baru yang Dicepatkan

Sayang lembaga sepakbola dunia tidak minta syarat  itu. Keputusan FIFA justru mengagetkan: Demi Qatar Piala Dunia 2022 diubah. Tidak Juli. Diganti Desember. Saat suhu udara Qatar sejuk sekali. Seperti di saat kedatangan saya sekarang ini: 15 derajat.

 

Maka pertama kali dalam sejarah: Pertama, Pala Dunia di musim dingin. Pertama di benua Arab. Pertama stadion-stadion barunya selesai dibangun lebih cepat: dua tahun sebelum acaranya.

 

Di Brazil dulu, sehari sebelum pembukaan pun masih ada tukang yang bekerja.

 

Qatar. Akhir 2018. Saya pun beruntung: bisa makan di pasar tradisional Arab. Di Qatar yang begitu modern.

 

Qatar. Tentu saya juga ingin melihat ini: apakah Arab Saudi jadi membangun parit. Parit besar. Di sepanjang perbatasannya dengan Qatar. Agar Qatar benar-benar terisolasi: darat, laut, udara. Saking marahnya.

 

Qatar. Tunggulah besok. (Dahlan Iskan)

Tags: dahlan iskan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Sejuta Rumput Laut di Kampung Terapung

Next Post

Tiga Kabupaten Masih Bermasalah

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    Kabar Jasad Bayi Ditukar Bantal Gegerkan Warga Bontang, Polisi Lakukan Penelusuran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan yang Dibangun dengan APBD Rp13 Miliar Ditutup Seng, Warga Kampung Gotong Royong Bontang Terdampak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengakuan Pimpinan Ponpes di Bontang Selatan Terkait Laporan Pelecehan Seksual; Mencuat Sejak 2024, Korban Trauma Berat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fogging Berbayar Muncul di Bontang, Warga Ditagih Rp50 Ribu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes Bontang, Korban Disebut Lebih dari Lima Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.