[dropcap]D[/dropcap]engan penuh hati-hati, dua lelaki melangkah di atas jembatan beralaskan papan berukuran 60 sentimeter. Terbentang sekira sepanjang 200 meter dengan ditopang beberapa balok setinggi sekira 5 meter menancap ke air.
Sesekali jantung berpacu lebih kencang dan kaki bergetar ketika melewati papan yang bergoyang. Lantaran paku pengikatnya sudah tidak kuat menahan lagi. Melewati jalan ini juga dituntut tidak egois, karena saat berpapasan dengan orang dari arah berlawanan, salah satu harus berhenti memberikan jalan. Jika tidak dipastikan badan akan jatuh dari ketinggian sekira 5 meter ke laut.
Itulah kondisi akses jalan yang dilewati wartawan Bontangpost.id saat menuju rumah warga di kawasan RT 12 dan RT 20 Kelurahan Bontang Kuala. Maklum, alat penyeberangan itu hanya dibangun dari dana swadaya masyarakat. Berbeda dengan kondisi akses jembatan yang dibangun oleh Pemkot Bontang di seberangnya, berdiri kokoh dan dapat dilewati oleh kendaraan bermotor.
Diakui Ketua RT 12 Kelurahan Bontang Kuala, Rida Rohani, angin segar untuk dapat menikmati jalan berbahan kayu yang kokoh pernah dirasakan warganya. Tepatnya 2015 lalu, Pemkot Bontang telah memulai membangun jembatan.Tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Panjang jembatan yang terealisasi hanya sekira sepanjang 40 meter saja.
“Sudah saya ajukan terus setiap musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan), jembatan, IPAL dan lampu. Tapi belum juga terlaksana,” ucapnya.
Jika jalan itu tak kunjung dibangun, dia khawatir akan timbul korban. Pasalnya sudah tidak dapat terhitung lagi anak-anak terjatuh ketika melintas di jalan itu. Bahkan anak yang hendak sekolah harus menghentikan niatnya untuk mengemban ilmu, karena terpeleset lalu terjebur ke air. Kondisi ini diperparah jika turun hujan, papan akan menjadi licin.
“Pas jatuh ada banyak orang begini enak, masih ada yang tolongin. Takutnya kalau pada ke laut semua, tidak ada yang bisa berenang mau nolong gimana,” ujarnya.
Hal ini membuat warga yang bermukim tepat di belakang kediamannya itu terus bertanya kepadanya. Kapan jalan tersebut dikerjakan lagi. Sehingga 10 rumah di daerah tersebut dapat menikmati akses jalan seperti warga lainnya.

Sementara itu Lurah Bontang Kuala, Rony memaparkan belum mengetahui ada laporan jembatan yang belum tersambung di wilayah RT 12 dan 20 Kelurahan Bontang Kuala. Dia baru menerima kabar ini dari wartawan.
“Laporan dari RT secara keseluruhan bukan itu saja, karena yang rusak banyak, bukan itu aja,” katanya.
Dia yakin semua paham dan mengerti apa yang terjadi di bawah dan pemerintah. Karena semua usulan di musrenbang itu dari tingkat RT berjenjang hingga tingkat kota. Akan tetapi ada skala prioritas di kecamatan dan tingkat Kota.
“Berharap tahun depan kegiatan ini (perbaikan jembatan, Red.) dapat terealisasi,” ujarnya. (Zaenul)






