BONTANG – Pemkot Bontang resmi menunjuk Hotel Grand Mutiara sebagai tempat isolasi sejumlah keluarga pasien positif Covid-19. Dan belum lama ini, puluhan paramedis yang reaktif Covid-19 versi tes cepat (Rapid test) juga diinapkan di sana.
Pengelola Hotel Grand Mutiara, Roy menuturkan, Pemkot mengajukan pada manajemen agar hotel yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim itu dijadikan tempat isolasi, awal April lalu. Kala angka orang dalam pemantauan (ODP) di Bontang mulai menanjak.
“Permintaan Ibu Wali Kota Bontang (Neni Moerniaeni) langsung,” ujarnya kala dihubungi Bontangpost.id, Senin (4/5/2020) siang.
Roy mengaku, hingga kini belum ada pembicaraan lebih jauh antara Pemkot Bontang dan manajemen perihal teknis pembayaran sewa kamar. Sebab menurutnya, yang jadi fokus saat ini ialah membantu menyelesaikan persoalan virus corona di Kota Taman.
“Teknis pembayaran belum dibicarakan. Kami bantu atasi masalah dulu, pembayaran kemudian,” akunya.
“Kami mengabaikan pertimbangan nama baik hotel. Semua benar-benar demi kemanusiaan dan membantu Pemkot Bontang,” tambah Roy.
Meski belum ada pembicaran serius soal harga, Roy mengaku pihaknya tak mematok sewa kamar yang mahal. Justru sebaiknya, manajemen berani “banting harga” jauh di bawah rata-rata hotel yang miliki kelas serupa Grand Mutiara.
“Yang jelas enggak mahal dan jauh di bawah rate. Semua demi membantu menyelesaikan masalah kemanusiaan ini,” akunya.
Adapun, selama difungsikan sebagai tempat isoalsi, hotel tidak akan dibuka umum atau untuk tamu reguler.
“Enggak, sementara khusus untuk isolasi saja,” tegas Roy.
Untuk saat ini, manajemen menyiapkan 100 kamar sebagai ruang isolasi. Namun bisa ditambah bila otoritas setempat meminta.
“Kami siapkan 100 kamar. Jika diperlukan bisa kami tambah,” bebernya.
Kelak bila pademi usai, dan hotel dibuka untuk umum. Manajemen bakal melakukan disinfeksi besar-besaran ke seluruh bagian hotel. Memastikan hotel itu kembali seperti semula. (*)







