Paus Franciskus dan Imam Besar Mesir Sheikh Ahmed Al Tayeb bertemu di Abu Dhabi pada Senin (4/2). Keduanya saling berpelukan dan menyerukan perdamaian. Kedua pemimpin agama menandatangani pernyataan dengan harapan mereka bisa mendorong perdamaian dunia.
“Dokumen itu ditandatangani atas nama semua korban perang, penganiayaan, dan ketidakadilan, juga bagi mereka yang disiksa di bagian manapun di dunia, tanpa perbedaan,” kata Paus dilansir dari India Today pada Selasa (5/2).
“Kami dengan tegas menyatakan, agama-agama tidak boleh menghasut perang, sikap kebencian, permusuhan dan ekstremisme. Mereka juga tidak boleh menghasut kekerasan atau penumpahan darah.”
“Terus rangkullah saudara-saudaramu warga negara Kristen di mana pun, karena mereka adalah teman kami di negara kami,” kata Imam Besar.
Paus juga menyerukan kebebasan beragama penuh di wilayah mayoritas Muslim. Ini dilakukan untuk mempromosikan jalan damai yang konkret, dan orang-orang dari berbagai agama harus bersatu.
Paus juga menandai bahaya berita palsu setelah boikot Qatar oleh Bahrain, Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Krisis telah dimulai setelah kantor berita Qatar yang dikelola pemerintah diretas.
Kunjungan 40 jam Paus Francis ke Abu Dhabi berakhir pada Selasa (5/2) diwarnai dengan misa kepausan pertama di Semenanjung Arab. Pertemuan ini dihadiri oleh 135.000 orang yang diharapkan untuk berpartisipasi, yang belum pernah dilihat sebelumnya di wilayah itu. (jpc)



