Kota Tepian kembali meneteskan air mata. Sosok akademisi, birokrasi, dan politisi ulung tanah Kaltim kembali berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Dialah Nusyirwan Ismail. Wakil Walikota Samarinda itu tutup usia di RSUD AW Syahranie, Selasa (27/2) pukul 12.32 Wita kemarin.
UFKIL MUBIN, Samarinda
CALON Wakil Gubernur Kaltim yang diusung koalisi Partai Golkar dan NasDem itu, berpulang di usia ke-58 tahun. Nusyirwan meninggalkan dua anak, Muhammad Dedy Pratama dan Ayu Milasari, buah cintanya dengan Sri Lestari, wanita kelahiran Bali, 26 Mei 1959 silam.
Semangat dan tekadnya yang kuat untuk tidak mengeluh, adalah gambaran betapa Nusyirwan begitu rapi menyembunyikan penyakit yang menderanya. Sebelum terjatuh pingsan saat melawat ke Kecamatan Muara Muntai, ahli pembangunan itu, tidak pernah sedikitpun memperlihatkan sedang sakit.
Hingga, Jumat (24/2) pukul 07.30 Wita pagi itu, menjadi saksi bisu betapa sosok politisi Partai NasDem Kaltim itu, enggan mengumbar fisiknya sedang dalam kondisi kurang sehat. Di Tanah Hulu itu, Nusyirwan terjatuh dan dikabarkan mengalami pecah pembuluh darah otak.

RSUD AW Syahranie Samarinda, tempat dimana almarhum mendapatkan penanganan medis, juga menjadi saksi atas kepergiannya. Di rumah sakit plat merah itu, Nusyirwan menghembuskan napas terakhir.
Ketika keluar dari ruangan perawatan IPI ICU –ICCU di gedung berlantai dua itu, Sri Lestrasi tampak diapit dua orang. Seiring disiarkannya pengumuman meninggalnya Nusyirwan, tubuh Sri Lestari menjadi kaku dan lemas. Selintas dengan itu, tak henti-hentinya Sri mengucapkan permohonan maaf atas kesalahan suaminya.
“Maafkan suami saya,” katanya sambil berjalan di lorong berukuran tiga meter, lantai dua rumah sakit berplat merah tersebut. Para pelayat tak kuasa melihat perempuan dua anak itu. Sambil menitikkan air mata, tubuhnya terlihat lemas, karena hanya cairan infus yang masuk ke dalam tubuhnya.
Puluhan pengunjung menyalaminya, tetapi tubuh ringkiknya tak kuasa melayani dan menyambut orang-orang yang ikut berduka karena kepergian suaminya. Seorang perempuan muda berumur sekira 25 tahun mendampingi perempuan kelahiran Bali itu dari belakang, menopang langkahnya yang lunglai.
Sri dibawa ke lobi RSUD untuk mendampingi suaminya yang akan disemayamkan di rumah duka di Jalan Basuki Rahmad Samarinda. Tak berselang lama setelah ibu dari Muhammad Dedy Pratama dan Ayu Milasari itu meninggalkan lorong yang dipenuhi awak media, seorang dokter yang mengenakan jaket putih dan celana kain hitam meminta seluruh pelayat dan awak media mengosongkan lorong.
“Kami minta semuanya bersabar dan tertib. Jenazah akan dibawa pulang, tolong berikan jalan agar memudahkan kami menurunkan jelazah,” katanya sambil berjalan menyusuri kerumunan massa. Hal itu terjadi tepat pukul 13.00 Wita, setelah Nusyirwan dinyatakan menghembuskan nafas terakhir pada pukul 12.30 Wita.
Lima menit kemudian, empat orang keluar dari ruangan sambil mendorong roda yang mengangkut almarhum. Wakil Walikota Samarinda itu akan segera dibawa ke rumah duka. Sebuah mobil ambulance bernomor polisi KT 8608 XA sudah menunggu di pintu keluar di lantai dasar.
Setelah dinaikkan di atas mobil ambulance, iring-iringan mobil polisi dan tiga mobil berplat merah mendampingi mobil yang membawa almarhum. Tak terkecuali, ratusan orang mengiringi jenazah yang akan disemayamkan di rumah duka.
Di Jalan Basuki Rahmad, pelayat memenuhi seisi rumah dan halaman. Mulai dari pejabat provinsi, kota, hingga kecamatan dan kelurahan di Kota Tepian, mereka bahu membahu melihat Nusyirwan disemayamkan di kediamannya.
Di rumah yang berdekatan dengan jalan raya itu, puluhan pengunjung berdesak-desakan. Mereka ingin melihat langsung wakil walikota yang bersahaja itu. Kala dimasukkan di dalam rumah, saling dorong tak terhindarkan.
Seorang laki-laki yang mengangkat mayat berujar setengah teriak, “tolong kosongkan pintu masuk”. Sekejap, massa yang berasal dari kalangan birokrat, politisi, hingga masyarakat biasa berhamburan. Tapi tak sedikit pun melepaskan pandangan pada jenazah yang ditutupi kain berwarna banana dark brown.
Kematian Nusyirwan memang mengagetkan banyak orang. Karena sampai penetapan dirinya sebagai cawagub, tim dokter yang ditunjuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim menyatakan bahwa laki-laki kelahiran 24 Oktober 1959 itu sehat dan layak mengikuti kontestasi politik Benua Etam.
Calon Gubernur Kaltim, Andi Sofyan Hasdam menyebut, sebelum Nusyirwan pingsan di Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tak nampak ada isyarat yang menunjukkan bahwa almarhum memiliki penyakit.
Ketika berangkat kampanye di Muara Muntai, Nusyirwan dengan semangat meminta tim sukses AN NUR menyediakan speed boat untuk menyusuri Sungai Mahakam. Baru di perjalanan menuju lokasi kampanye, cawagub yang diusung Partai NasDem dan Partai Golkar itu mengeluhkan pusing.
“Sebelum berangkat tidak ada tanda-tanda penyakit. Kalau saja sebelum berangkat beliau mengeluhkan sakit, maka saya akan melarang beliau ikut kampanye,” kata Sofyan.
Baik di Kukar maupun di Kutai Barat (Kubar), Nusyirwan dengan semangat mengikuti seluruh rangkaian kampanye, termasuk bertemu langsung dengan masyarakat di dua daerah tersebut.
“Beliau mengeluh pusing itu di Muara Muntai. Di situ beliau istirahat. Untung kami membawa tim medis dan obat-obatan yang kami bawa, itu lah yang memberi pertolongan pertama, hingga dievakuasi ke Samarinda,” ungkapnya. (*/um/drh)
Sosok Nusyirwan Ismail
=Nusyirwan Ismail, Lahir di Kota Samarinda, tanggal 24 Oktober 1959 silam.
=Pendidikan:
SDN35 Samarinda (1971)
SMPN 1 Samarinda (1974)
SMAN 2 Samarinda (1977)
=Perguruan Tinggi
ITS Surabaya – Teknik Elektro (1983)
Unhas Makassar – Ekonomi Perencanaan Pembangunan – Strata 2 (2001)
=Memiliki istri bernama Sri Lestari, kelahiran Bali, 26 Mei 1959
Sri Lestari adalah alumni dari ITS Surabaya
Kini dikaruniai dua orang anak, Muhammad Dedy Pratama dan Ayu Milasari
Perjalanan Karir:
= 1984-1985, menjabat staff engineer pada proyek UPDP/UNIDO di Dept Perindustrian
= 1986-1994, Pembantu Dekan III Fakultas Teknik UNTAG Samarinda
=1987-1989, Kasi Bimbingan Produksi bidang Industri Dasar
= 1989-1993, Kasi Bimbingan Sarana bidang Industri Dasar
=1993-1996, Kepala Bidang Industri Dasar
=1994-1996, Dosen Fakultas Teknik Univesitas 17Agustus 1945 Samarinda
=1987-1996, Pembantu Dekan III Fakultas Teknik Universitas 17 agustus 1945
=1996-1998, Kepala Bidang Industri Logam, Mesin, Kimia & Elektronika
=1998-2000, Kepala Bidang Perencanaan
=2000-2001, Plt Kakanwil Depperindag Provinsi Kaltim
=2001-2004, Kepala Dinas Perindag & Koperasi Prov Kaltim
=Rentan tahun 2004-2008, Nusyirwan mejabat:
Assisten II Setprov Kaltim dan Kepala Badan Perizinan dan Penanaman Modal Daerah Kaltim
=2010-2015 dan 2016-2018, menjabat Wakil Walikota Samarinda
=2018, maju sebagai calon wakil gubernur Kaltim bersama Andi Sofyan Hasdam
Keduanya dikenal dengan jargon AN-NUR
Diusung koalisi Partai Golkar dan NasDem
= 27 Februari 2018, Nusyirwan tutup usia pada umur 58 tahun di RSUD AW Syaharanie, Samarinda, pukul 12.32 Wita, setelah mengalami pecah pembuluh darah otah saat kampanye politik di Kutai Barat.
Sumber data: dihimpun Metro Samarinda dari berbagai sumber







