BONTANGPOST.ID – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kalimantan Timur (Kaltim) pada Agustus 2026 mencapai 5,23 persen. Angka tersebut naik 0,05 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terjadi meski jumlah penduduk yang bekerja turut bertambah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai menyampaikan, berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah angkatan kerja pada Agustus 2026 mencapai 2.129.126 orang. Jumlah tersebut bertambah 51.713 orang dibandingkan Agustus 2025.
“Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah angkatan kerja di Kalimantan Timur pada Agustus 2026 mencapai 2.129.126 orang. Jumlah itu bertambah 51.713 orang dibandingkan dengan Agustus 2025,” ujarnya dalam rilis, Kamis (5/11/2026).
Sementara itu, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 2.017.865 orang atau meningkat 48.126 orang dalam setahun. Artinya, pertambahan jumlah penduduk bekerja belum mampu mengimbangi kenaikan angkatan kerja.
Di sisi lain, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2026 justru turun 0,51 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi pendidikan, TPT tertinggi berasal dari kelompok lulusan SMA, yakni 7,06 persen. Sementara tingkat pengangguran terendah tercatat pada lulusan SMP sebesar 2,72 persen.
Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, peningkatan pengangguran terjadi pada kelompok lulusan SD ke bawah sebesar 0,27 persen poin, SMA sebesar 0,71 persen poin, serta Diploma I/II/III yang naik cukup tinggi, yakni 3,34 persen poin.
Kenaikan pada kelompok lulusan diploma menjadi salah satu catatan dalam kondisi ketenagakerjaan Kaltim. Hal ini menunjukkan tantangan penyerapan tenaga kerja juga dihadapi oleh lulusan pendidikan tinggi tertentu.
Dari sisi lapangan pekerjaan, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Sektor tersebut menampung 382.186 pekerja atau 18,94 persen dari total penduduk yang bekerja.
Sebaliknya, sektor Penyediaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas, dan Udara Dingin menjadi lapangan pekerjaan dengan jumlah pekerja paling sedikit, yakni 6.933 orang atau 0,34 persen.
Pekerja Formal Turun 3,62 Persen Poin
Selain peningkatan pengangguran, struktur ketenagakerjaan Kaltim juga menunjukkan penurunan proporsi pekerja formal.
Pada Agustus 2026, jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal mencapai 1.072.840 orang atau 53,17 persen. Sementara pekerja informal tercatat sebanyak 945.025 orang atau 46,83 persen.
Proporsi pekerja formal tersebut turun 3,62 persen poin dibandingkan Agustus 2025. Kondisi ini memperlihatkan bahwa bertambahnya jumlah penduduk bekerja belum diikuti penguatan penyerapan tenaga kerja formal.
Berdasarkan status pekerjaan utama, mayoritas penduduk Kaltim bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai dengan proporsi 50,19 persen. Adapun pekerja bebas di sektor pertanian menjadi kelompok dengan proporsi terkecil, yakni 1,99 persen.
Dibandingkan tahun sebelumnya, proporsi penduduk yang berusaha sendiri meningkat 2,27 persen poin. Kenaikan juga terjadi pada pekerja keluarga atau tidak dibayar sebesar 1,83 persen poin serta pekerja bebas di sektor pertanian sebesar 0,52 persen poin.
Sebaliknya, proporsi buruh, karyawan, atau pegawai turun 2,65 persen poin. Penurunan juga terjadi pada kelompok penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga tidak dibayar sebesar 0,97 persen poin, serta mereka yang berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar sebesar 0,97 persen poin.
Sementara itu, proporsi pekerja bebas di sektor nonpertanian turun 0,03 persen poin.
BPS mengategorikan pekerja formal sebagai penduduk yang berusaha dibantu buruh tetap atau dibayar serta buruh, karyawan, dan pegawai. Adapun pekerja informal mencakup penduduk yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau tidak dibayar, pekerja bebas, serta pekerja keluarga atau tidak dibayar. (prokal)





