SAMARINDA – Para pelajar dan mahasiswa Benua Etam di Mesir menagih janji pengadaan asrama. Pemprov dan DPRD Kaltim sampai kini belum memenuhi ucapannya. Padahal, sudah tiga kali pemerintah dan dewan melakukan perjalanan dinas ke Negeri Piramid secara bergantian.
Kunjungan terakhir dilakoni ketua DPRD dan tiga anggota komisi I, serta asisten Sekprov Kaltim Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Juli 2016. Tapi, hampir setahun berlalu, belum ada manfaat yang bisa dipetik dari perjalanan tersebut. Dalam APBD Kaltim 2017, tak sepeser pun dukungan anggaran yang dialokasikan. Sementara itu, dua lawatan sebelumnya pada Maret 2009 dan Agustus 2010.
Tidak heran, bila pelajar dan mahasiswa kembali mempertanyakan rencana pengadaan asrama tersebut. Secara khusus, pekan lalu, perwakilan dari mereka datang ke Samarinda untuk meminta kejelasan.
“Kami pengin tahu tindak lanjutnya (pengadaan) seperti apa?” ucap ketua panitia pengadaan rumah Kaltim di Mesir, Rahmah Rasyidah, akhir pekan lalu. Pertama kali yang ditemui ialah kepala Biro Kesra Setprov Kaltim.
Kala itu, Senin (13/3), Syafrian Hasani beserta staf menyambut hangat kedatangan Rahmah. Dia mendapatkan penjelasan bahwa Biro Kesra akan membantu teknis pembelian. Persoalannya, tinggal ketersediaan dana.
“Dana siap, kami bantu,” kata dia menirukan penyampaian Syafrian. Defisit keuangan daerah disebut-sebut yang membuat rencana itu terhambat.
Dapat penjelasan itu, kemudian Rahmah menemui ketua DPRD Kaltim M Syahrun HS di ruang kerjanya, 14 Maret lalu. Jawaban yang sama ia terima; Kaltim sedang defisit keuangan. Jadi, untuk bisa direalisasikan tahun ini belum bisa. Begitu pula, untuk dianggarkan dalam APBD Perubahan 2017.
Tapi, kata Rahmah, ketua dewan komitmen mendorong pengadaan asrama yang rencananya akan menampung total sekitar 50 pelajar dan mahasiswa asal Kaltim di Mesir.
Tidak berhenti di situ, Rahmah yang juga ketua organisasi khusus mahasiswi Mesir yang beranggotakan 1.077 orang itu, juga menyampaikan hal sama kepada gubernur, Jumat (17/3).
“Beliau (gubernur) juga komit. Saya diminta melengkapi berkas permohonan dan mengirimkan lewat pesan elektronik. Tampaknya, beliau belum menerima laporan menyeluruh dari staf,” tuturnya.
Bagi pelajar dan mahasiswa asal Kaltim di Mesir, keberadaan asrama sangat membantu. Paling tidak, hampir 50 persen biaya hidup tak lagi dikeluarkan dari ongkos tempat tinggal. Menurut dia, asrama itu akan bermanfaat jangka panjang. Pelajar dan mahasiswa baru dari Kaltim tak lagi kerepotan tempat menginap saat datang di sana.
“Kami berharap, asrama itu bisa diprioritaskan,” pinta ketua Aliansi Keputrian Timur Tengah dan Afrika yang menaungi 11 negara.
Diketahui, pada 2010, anggaran pengadaan asrama sempat dialokasikan dalam APBD Perubahan sebesar Rp 2 miliar. Sayangnya, tak bisa dibelanjakan. Kendala mulai muncul saat tahap pencairan. Ada kekhawatiran bila diteruskan akan menjadi temuan. Mengingat, bila dana hibah itu diberikan kepada mahasiswa, lantas kebingungan untuk laporan pertanggungjawaban.
Pun demikian, bila dana itu langsung digunakan pemerintah untuk membeli. Ada pula pemikiran agar dana itu diberikan kepada kedutaan besar. Dari ketiga opsi, tak ada yang dipilih pemprov.
“Sekarang tinggal dukungan pemerintah. Kami juga akan intens berkoordinasi dengan KBRI di Mesir,” ucap dia. Ada dua pilihan asrama yang diajukan pelajar dan mahasiswa Kaltim.
Pertama, pembelian flat atau apartemen minimal dua lantai. Dengan demikian, antara putra dan putri dipisahkan. Dana yang diperlukan sekitar Rp 30-an miliar.
Kedua, bangunan dengan empat lantai. Dari segi harga, memang lebih mahal, yakni Rp 54 miliar. Namun, selain dijadikan sekretariat, juga akan dimanfaatkan sebagai tempat penginapan serta aula yang dikomersialkan.
Nantinya, pendapatan dari itu bisa digunakan sebagai biaya operasional asrama. “Jadi pemerintah cukup sekali saja mengeluarkan dana. Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti itu,” terang perempuan berjilbab itu.
Di Mesir, total ada 14 asrama yang dimiliki daerah lain di Indonesia. Sebut saja di antaranya, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Selama tidak punya asrama, mahasiswa Kaltim menumpang dengan mahasiswa di asrama Amuntai. (ril/riz.kpg/gun)
Asrama Mahasiswa Indonesia di Mesir
Nama Asrama Provinsi Berdiri
Geriya Jawa Tengah 2005
Graha Jawa Timur 2005
Baruga Sulawesi Selatan 2005
Pasanggrahan Jawa Barat 2005
Wisma Jakarta DKI Jakarta 2007
Padepokan Jawa Barat 2008
Meuligoe Aceh 2005
Istana Maimon Sumatra Utara 2005
Rumah Selaso Riau 2005
Limas Sumatra Selatan 2010
Wisma Jambi Jambi 2011
Wisma Banjar Kalimantan Selatan 2008
Asrama Amuntai Kalimantan Selatan 2008
Alasan Permohonan Asrama Kaltim di Mesir
- Keamanan. Tindakan kriminal di Mesir atas mahasiswa Indonesia cukup tinggi.
- Letak asrama mahasiswa Kaltim terpisah dan jauh dari kampus Al Azhar.
- Mayoritas asrama hanya untuk pria. Sementara perempuan sangat jarang dan sulit.
- Kehadiran asrama dapat mengikat persaudaraan antara mahasiswa Kaltim di Mesir. Sehingga bisa mendorong prestasi belajar yang lebih baik.
- Janji Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Mesir era Dai Bachtiar Ali.
Dari berbagai sumber







