BONTANGPOST.ID –
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memasuki fase paling kelam. Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang dirilis Rabu siang, mencatat 811 orang meninggal dunia, sementara 623 warga lainnya masih belum ditemukan.
Di berbagai wilayah, alat berat terus dikerahkan untuk membuka akses yang tertutup material longsor. Tim penyelamat juga menyisir lumpur dan reruntuhan demi menemukan para korban yang hilang.
Daerah dengan dampak terparah berada di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, dengan 143 korban jiwa, disusul Aceh Utara dengan 112 orang. Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan turut mencatat puluhan korban meninggal.
Banjir bandang yang datang bersamaan dengan longsor merusak permukiman di 49 kabupaten/kota. Jutaan warga terdampak, dan sebagian besar harus mengungsi tanpa kepastian kapan dapat kembali ke rumah.
Menurut BNPB, lebih dari tiga juta warga berada dalam kondisi krisis. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 1,5 juta jiwa. Sumatra Utara menampung sekitar 538 ribu pengungsi, sementara Sumatra Barat lebih dari 100 ribu.
Kerusakan fisik pun meluas: lebih dari 3.600 rumah hancur berat, ribuan lainnya rusak sedang hingga ringan. Infrastruktur vital seperti sekolah, rumah ibadah, dan sejumlah jembatan ikut luluh lantak diterjang arus.
Pemerintah pusat dan daerah telah mengaktifkan langkah tanggap darurat, namun cuaca ekstrem yang masih mengancam membuat proses penanganan terkendala. Di beberapa lokasi, distribusi logistik belum lancar, sementara para penyintas harus bertahan di tenda dengan persediaan terbatas. (KP)







