BONTANG – Kondisi tubuh bayi suspect difteri kini mulai membaik. Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Husada dr I Gusti Made Suhardika menerangkan, membran di dalam tenggorokannya sudah hilang.
“Kondisinya sudah baik, membran sudah hilang sementara suhu tubuhnya sudah normal,” kata dr Gusti.
Pasalnya, anti-difteri serum (ADS) yang diminta ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah tiba dan langsung dimasukkan ke tubuh pasien. Sebanyak 9 botol serum tersebut datang dan terbagi dua daerah yakni Bontang dan Kutai Timur.
“Dapat 9 botol dibagi tiga, dua di Sangatta, di Bontang untuk satu orang,” ungkapnya.
Menurutnya, pembatasan pengiriman ADS dikarenakan proses pembuatannya membutuhkan waktu lama. Mengingat, diperlukan pengetesan terlebih dahulu.
“Itu serumnya dari kuda sehingga membutuhkan pengetesan terlebih dahulu,” ucapnya.
Bayi berusia 1 tahun 8 bulan yang dirawat di ruang isolasi RSUD Taman Husada sejak Kamis (21/12) lalu diduga terkena difteri setelah melakukan perjalanan dari Samarinda dan Tenggarong beberapa waktu lalu. Bayi tersebut mengalami keluhan seperti demam kendati suhunya tidak terlalu tinggi, nyeri menelan, nyeri di tenggorokan, hingga sampai suara serak, dan pada pemeriksaan klinis ditemukan “membran” di dalam tenggorakannya.
Saat ini, pihak medis sedang menunggu hasil pemeriksaan tenggorokan dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Di mana sudah dikirimkan sejak sehari setelah pasien tersebut masuk ruang isolasi.
“Sudah dikirim sejak Jumat (22/12) lalu,” ujarnya.
Sehubungan dengan difteri merupakan penyakit menular, maka pencegahan perlu dilakukan. Terutama bagi tenaga medis yang menangani secara intens.
Saat ini, pihak RSUD Taman Husada telah mendapat 10 botol vaksin. Rencananya pemberian akan diprioritaskan terhadap petugas Unit Gawat Darurat, ruang isolasi, dan semua dokter. Jika dijumlahkan, ketiganya mencapai 100 orang.
“Prioritas itu dulu, total seluruh petugas di RSUD sejumlah 500. 10 botol untuk 100 orang jadi butuh 40 botol lagi,” tandasnya. (*/ak)






