bontangpost.id – Ayu Febriani (26) asal Bontang harus menelan kenyataan pahit sebab ditipu oleh penyalur tenaga kerja. Diiming-imingi pekerjaan sebagai sopir di Turki, ia malah “dijual” ke Suriah sebagai asisten rumah tangga (ART).
Kepada redaksi bontangpost.id, Ayu menceritakan bahwa sudah hampir setahun ia berada di sana, sejak keberangkatannya April 2022 lalu. Awalnya, ia dijanjikan oleh seorang perempuan berinisial ES dari Surabaya. Berbekal ijazah SMK-nya, ia berangkat ke Surabaya dan mengurus keperluan seperti paspor dan visa di Kediri, Jawa Timur.
Setelah mendarat di Turki, Ayu malah dikurung dan tidak diberikan akses internet, sehingga ia pun tidak dapat meminta pertolongan. Oleh penyalur tenaga kerja di sana, ia diberikan pilihan untuk berangkat ke Suriah atau ia akan diantar ke bandara lalu ditinggalkan di sana.
Berdasarkan pengakuan keluarganya di Bontang, Ayu diberangkatkan dalam rentang waktu 2 minggu. Tidak ada proses lain seperti pengenalan bahasa dan sebagainya.
“Dia (Ayu) berlima sama orang dari daerah lain. Sekarang juga sudah mencar enggak tau ke mana. Sebelum berangkat pun saya sudah peringatkan buat hati-hati. Tapi dia bilang enggak apa-apa,” kata Ika, sepupu Ayu, Kamis (6/4/2023).
Diketahui, ijazah Ayu beserta berkas lain seperti KK sempat ditahan di Surabaya. Namun sudah dikirim ke Bontang. Setelah mendapat keluhan dari Ayu yang ingin dipulangkan, Ika bermaksud ingin menghubungi ES melalui saudaranya yang berada di Surabaya. Namun saat saudara Ika ke lokasi, tempat tersebut sudah kosong.
Usut punya usut, Ayu mendapatkan informasi tersebut melalui media sosial facebook. Ia sangat berharap bisa pulang ke Bontang. Sebab ia sangat takut dengan keadaan yang terjadi di Suriah. Gaji yang diterimanya pun kecil, tidak sesuai dengan yang dijanjikan di awal yakni sebesar 400$ USD atau hampir mencapai Rp 6 juta.
“ES sempat bilang ke saya buat kuat-kuatin sampai 6 bulan di Turki. Nanti bisa pindah ke Singapura. Tapi ternyata saya malah dikirim ke Suriah. Setahun di sini (Suriah), sudah ada bom sebanyak 2 kali. Saya takut banget. Semoga Wali Kota Bontang bisa mendengarkan dan memulangkan saya,” katanya.
Sebelumnya, Ayu pernah berusaha untuk menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus. Namun hingga saat ini ia belum mendapatkan respons.
“KBRI tuh terhalang sama peraturan yang berlaku di sini (Suriah). Jadi harus bayar denda atau pemerintah yang bisa pulangin,” tutupnya. (*)






