SAMARINDA – Beroperasinya maskapai penerbangan Batik Air dan Garuda Indonesia di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda diyakini tidak mengurangi jumlah penumpang di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan.
Kepala Unit Pelaksana Bandar Udara (UPBU) APT Pranoto Samarinda, Dodi Dharma Cahyadi mengatakan, semakin banyak bandara yang dibangun dan beroperasi di Kaltim, semakin bagus bagi kelancaran penerbangan di Bumi Etam. Dia mencontohkan, apabila satu bandara tidak dapat berfungsi karena gangguan teknis, maka penerbangan dapat dialihkan ke bandara terdekat.
“(Kehadiran Bandara APT Pranoto tidak akan membuat penerbangan di) Balikpapan mati. Kami jadikan multi airport system. Apa itu? Kaltim punya banyak bandara, itu bagus. Misalnya ada sesuatu hal di bandara itu, bisa ke Balikpapan, Samarinda, dan Berau. Jangan jadikan (banyaknya bandara) itu kelemahan,” tegasnya, Rabu (21/11) lalu.
Kata Dodi, justru dengan banyak bandara yang beroperasi di Kaltim, dapat meningkatkan dan menggerakkan roda perekonomian wilayah. “Supaya bisa bergairah terkait perekonomian dan lain sebagainya,” tutunya.
Sebelumnya, Bupati Kutai Timur, Ismunandar menyebut, Bandara APT Pranoto memiliki segmen pasar tersendiri. Setelah bandara itu membuka layanan penerbangan Samarinda-Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya, maka masyarakat di daerah terdekat akan berbondong-bondong memilih terbang di pelabuhan udara yang terletak di Kelurahan Sungai Siring itu.
“Saya yakin Bontang, Kutai Timur, Tenggarong, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat ini pasti sumpek di APT Pranoto,” ucap Ismunandar.
Berdasarkan data Angkasa Pura (AP) I, jumlah penumpang pada 2016 di Bandara SAMS Sepinggan sebanyak 7,5 juta jiwa. Kemudian di 2017 turun 1 persen di angka 7,39 juta. Penurunan itu terjadi karena pemulihan pertumbuhan ekonomi Kaltim yang sempat minus di tahun sebelumnya.
Sedangkan pada Oktober hingga November 2018, belum ada data yang rilis dua otoritas bandara tersebut. Sejak dibuka rute penerbangan domestik di APT Pranoto, pemerintah belum memublikasikan migrasi dan segmentasi penumpang di sejumlah daerah.
Sementara di APT Pranoto, sepekan terakhir, semenjak ada penerbangan Jakarta-Samarinda dan sebaliknya, sebagian masyarakat Samarinda memilih terbang lewat bandara yang dibangun dengan anggaran daerah Rp 1,8 triliun itu.
Namun tak sedikit tetap memilih terbang di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Bulan lalu, media ini sempat merangkum beberapa pendapat warga terkait pilihan penerbangan di dua bandara tersebut.
Salah satu alasan sebagian warga Kutai Kartanegara (Kukar) memilih tetap terbang di bandara Balikpapan disebabkan akses menuju APT Pranoto yang kerap macet karena jalan yang sempit.
Selain itu, ketika hujan mengguyur Kota Tepian, banjir acap mengganggu perjalanan menuju Sungai Siring, Samarinda Utara. Waktu perjalanan dari Tenggarong, Kukar yang mestinya hanya dua jam, dapat meningkat menjadi tiga sampai empat jam.
Sementara di Balikpapan, meski hujan lebat, akses menuju bandara tidak terganggu banjir. Pun demikian, tidak pernah terjadi kemacetan parah menuju kota yang kerap mendapat Piala Adipura itu.
Terkait hal itu, Pemprov Kaltim lewat Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahaan Rakyat (PUPR) Kaltim memiliki solusi. Untuk mengatasi jalan sempit, kemacetan, dan banjir tersebut.
Tahun ini, pemerintah telah mengusulkan anggaran Rp 180 miliar untuk pelebaran jalan poros Samarinda-Bontang. Kemudian secara bertahap, sedang dilakukan pembebasan lahan di Batu Besaung untuk jalan alternatif menuju Bandara APT Pranoto. (*/um)







