bontangpost.id – Isu mahalnya pembelian buku siswa di sekolah selalu terjadi tiap tahun. Padahal, pemerintah sudah menganggarkan pembelian buku wajib melalui dana bantuan operasional sekolah nasional (bosnas). Namun, bagi guru-guru, bisa saja mencari tambahan referensi buku di luar dari buku wajib. Jadi, untuk memperolehnya, orangtua biasanya merogoh kocek pribadi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Asli Nuryadin mengatakan, hal ini sebetulnya berita yang selalu terulang tiap tahun. Dia mengatakan sedang menyusun edaran untuk disampaikan ke sekolah-sekolah. “Poinnya adalah pertama, buku wajib siswa sudah disiapkan pemerintah lewat dana bosnas, sehingga sekolah yang membeli. Namun, karena anggaran terbatas, satu buku bisa untuk lebih dari satu anak,” ucapnya.
Dia menerangkan, kondisi ini menjadi kesempatan siswa membeli buku di luar. “Ini terserah. Bahwa tidak ada kewajiban beli buku terutama yang wajib. Silakan meminjam ke sekolah atau mencatat,” ucapnya.
Kedua, Asli menyebut, beberapa guru dalam pembelajaran biasanya menyiapkan lebih dari satu bahan ajar, atau tidak berpatok satu buku saja. Misalnya buku wajib itu. Jadi bisa saja menggunakan referensi buku lain sebagai penunjang dan pengayaan belajar.
“Nah jika sekiranya pihak orangtua mau membeli di luar, maka silakan. Karena di sekolah kami larang jual beli buku agar tidak terjadi multitafsir,” ucapnya.
Ketiga, dirinya menerangkan, bagi siswa yang merupakan kategori keluarga miskin dan keberatan membeli buku, terlebih yang tidak wajib atau buku tambahan, silakan menghubungi sekolah, nanti akan dicarikan solusi bersama, baik melalui paguyuban atau komite sekolah. Bahkan Disdik Samarinda siap menerima aduan. “Kami tekankan tidak ada pemaksaan membeli buku. Di sekolah juga tidak ada transaksi,” tegasnya.
Asli Nuryadin juga mengingatkan kepada sekolah untuk melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di masing-masing sekolah mengenai pembelian buku. Jadi, informasinya bisa disampaikan dengan baik ke orangtua siswa. “Agar ketika ada yang kurang mengerti, bisa lebih mengetahui,” tutupnya. (kri/k16)

