NAMANYA seketika melambung. Usai tampil memukau dalam audisi Liga Dangdut Indonesia (LIDA) 2021 yang ditayangkan di salah satu televisi swasta, Sabtu (6/3/2021) malam. Buah dari kerja keras. Setelah mencoba peruntungan sejak 2014 lalu.
Penampilan apik yang dipadu suara merdu dan cengkok dangdut yang khas itu dengan mudah buat dia mendapat atensi. Walhasil, dalam audisi yang digawangi 3 juri itu; Inul Darasista, Lesti Kejora, dan Reza Zakarya, ia diganjar selempang. Tanda dara 19 tahun itu berhasil melangkah ke tahap selanjutnya. Dialah Evi.
Dara 19 tahun ini adalah satu-satunya wakil Bontang dalam LIDA 2021. LIDA adalah ajang pencarian bakat penyanyi dangdut yang cukup tersohor di Indonesia. Tahun ini LIDA memasuki musim keempat. Usai pertama kali tayang medio Januari 2018 silam.
Pelajar kelas 3 SMK ini mengatakan, awalnya dia mengetahui soal pembukaan audisi LIDA melalui postingan panitia di Instagram. Kala itu, penghujung tahun 2020.
Memasuki awal Januari 2021, dia mulai daftarkan diri. Ketika itu juga, rupanya ada pencari bakat yang menghubungi dia langsung. Tepatnya pada 7 Januari 2021.
“Setelah itu, baru kami audisi lewat zoom (audisi virtual), nyanyi langsung depan jurinya. Dari Kaltim ada 20 orang, itu sudah termasuk saya,” kata Evi, ditemui bontangpost.id di kediamannya di Kelurahan Berbas Pantai, Kecamatan Bontang Selatan, Minggu (7/3/2021) siang.
Dari 20 orang yang ikut audisi virtual, ada 5 yang lolos ke Jakarta. Untuk mengikuti audisi di studio utama, dan disaksikan langsung dewan juri artis. Balikpapan mengirim dua perwakilan, Samarinda dan Kutai Kertanegara masing-masing satu perwakilan. Sementara dari Bontang ada Evi.
Tepat 5 Februari, Evi bersama 4 perwakilan Kaltim lainnya terbang ke Jakarta. Dua hari mereka menjalani karantina. Dalam masa karantina itu, segala sesuatunya mesti dipersiapkan. Olah vokal, fisik, dan utama, menurut Evi, ialah mental.
Bukan tanpa alasan. Sebab pada 8 Februari mereka akan merasakan atmosfer awal LIDA yang sesungguhnya. Membawakan lagu di studio utama. Dinilai langsung juri artis. Disiarkan televisi. Yang konsekuensinya, mendapat perhatian luas oleh publik se-Indonesia.
“Nervous banget sih waktu itu, Kak. Pertama kali ketemu juri yang keren-keren. Yang dari dulu saya idolakan,” beber anak ke 8 dari 9 bersaudara ini.
Dari 5 perwakilan Kaltim, hanya dua yang lolos tahap selanjutnya. Evi dari Bontang, satu dari Balikpapan. Keduanya masuk audisi 70 besar. Yang merupakan hasil penjaringan calon bintang terbaik di tiap daerah.
Seluruh konstestan yang masuk 70 besar akan dibagi per grup. Evi sendiri mengaku belum tahu bagaimana sistem pembagiannya. Yang jelas, sebutnya, dalam satu grup nantinya diisi beberapa kontestan. Mereka tampil di hadapan juri, disiarkan langsung di televisi, dan membutuhkan dukungan publik.
“Nanti ada dukungan pakai SMS, sama aplikasi. Cuma saya belum tahu aplikasi apa yang dipakai. Harapannya, saya bisa mendapat dukungan, khususnya dari warga Bontang,” harap dara kelahiran Bontang 20 April 2001 ini.

BESAR DARI KELUARGA MUSISI
Anak pasangan Nurdiah dan Herman Ame ini mengatakan, kecintaan terhadap musik sudah tumbuh sejak belia. Ini tak lain, sebab ia tumbuh dalam keluarga musisi. Abang-abangnya, berkecimpung di musik. Ada di dangdut, ada di musik pop. Adiknya yang paling bontot pun setali tiga uang, penyanyi dangdut dan pemain musik. Begitu pun dengan pamannya. Tak mengherankan, keluarga musisi ini lantas memiliki bisnis orkes dangdut. Yang melayani tawaran dari satu hajatan ke hajatan lain di Bontang.
“Saya dari kecil sudah terbiasa nyanyi dari satu panggung ke panggung lain,” kata gadis mungil ini.
Panggung pertama dia jajal ketika masih kelas 5 SD. Kendati mengaku tidak membatasi diri, tapi genre dangdut sejak awal menarik minat Evi. Bukan apa-apa, karena musik inilah yang sejak kecil lekat ia dengar, sering ia nyanyikan. “‘Dari awal memang sudah dangdut sih,” bebernya.
Sementara untuk kompetisi LIDA musim ini. Kendati usianya relatif muda, 19 tahun, berstatus penyanyi daerah, ia tak gentar memberi target dalam kompetisi ini. Setidaknya, kata dia, masuk dalam grand final. Bukan tugas mudah memang, tapi dia yakin, dengan disiplin dan rajin latihan, restu keluarga– terkhusus kedua orangtua. Hingga dukungan publik Bontang, ia yakin cita-cita itu dapat tercapai.
“Insha Allah bisa. Saya butuh dukungan warga Bontang. Tanggal 14 Maret nanti saya ke Jakarta lagi. Tinggal 6 bulan di sana sampai grand final,” tandas gadis pemilik senyum manis ini. (*)






