Selain gedung Puskesmas Malakopa, Kecamatan Pagai Selatan dan satu unit mercusuar, ternyata gempa beruntun yang berpusat di Mentawai pada Sabtu (2/2/2019) lalu juga merusak puluhan rumah warga, sekolah dan gereja.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai menyebutkan, gempa yang menurut BMKG terjadi sebanyak 52 kali itu merusak sekitar 75 unit rumah warga. Rinciannya, 7 unit rumah rusak berat dan 68 unit rusak ringan. ”Selain rumah, berdasarkan hasil pendataan BPBD juga terdapat kerusakan pada SDN 02 Silaoinan, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap dan satu unit Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), di Dusun Kaute, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap,” ujar Kepala Kesiapsiagaan dan Kebencanaan BPBD Kepulauan Mentawai, Amir Ahmari, kemarin.
Warga yang rumahnya rusak, sementara berdiam di rumah sanak saudaranya. Sebagian lagi bergotong-royong membangun pondok. Sedangkan aktivitas menjalankan ibadah pada hari Minggu (3/2) lalu, terpaksa dilakukan warga di luar gereja dengan membangun tenda darurat. ”Hingga kemarin, belum ada laporan korban jiwa akibat gempa Sabtu lalu itu,” kata Amir Ahmari.
Amir Ahmari menjelaskan, data kerusakan tersebut didapatkan setelah tim BPBD turun ke lapangan. Lambannya data tersebut diperoleh karena kendala akses transportasi dan komunikasi. ”Saat ini, data tersebut sudah betul-betul valid. Jadi, ada kerusakan bangunan terdiri dari bangunan milik pribadi dan bangunan pemerintah. Selanjutnya, kami menunggu instruksi dari pimpinan,” ungkapnya.
Menurut Amir, aktivitas warga pascagempa sudah kembali normal. Namun, pihaknya masih terus mengimbau kepada segenap masyarakat di Kepulauan Mentawai untuk tetap waspada terhadap ancaman gempa. Apalagi daerah ini memang sangat rawan terhadap potensi gempa dan tsunami. “Meski situasi kondisi sudah kembali normal. Namun, kami terus mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap ancaman gempa,” katanya.
Terkait rencana kunjungan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo ke Mentawai pada 6-7 Februari ini, pihakya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Terutama data dan jumlah kerusakan akibat gempa akhir pekan lalu. “Sesuai rencana, Kepala BNPB datang ke Mentawai besok (hari ini, red) pukul 15.00. Rombongan direncanakan akan meninjau korban yang terkena dampak gempa menggunakan helikopter yang terbang dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun Padang Ekspres, Kepala BNPB pagi ini akan meninjau shelter evakuasi tsunami di SMA 1 Padang. Setelah itu, sekitar pukul 10.00 memimpin rapat penanggulangan bencana di Auditorium Kantor Gubernur, dan sekitar 13.00 terbang ke Mentawai. Selama di Mentawai, mantan Komandan Paspampres itu, akan menunjungi lokasi rawan bencana gempa dan tsunami, bertemu masyarakat dan menyisir pantai barat Siberut dekat lokasi gempa megathrust.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menyebutkan, kehadiran Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menjadi momentum menyiapkan kesiapsiagaan masyarakat Sumbar dalam menghadapi risiko bencana.
Lebih lanjut Wagub Nasrul Abit menyampaikan, Kepala BNPB selama dua hari juga diisi kegiatan rapat koordinasi bersama bupati dan wali kota se-Sumbar, forkopimda, BPBD, MUI, LKAAM, bundo kanduang, Kanwil Kemenag serta beberapa OPD terkait. ”Kita menyadari hampir semua potensi bencana ada di Sumbar, seperti banjir, longsor, gempa, angin puting-beliung, tsunami dan gunung api. Namun yang mendesak dilakukan adalah kesiapsiagaan masyarakat terhadap gempa Megathust Mentawai yang sempat disebut Presiden saat membuka Rakornas Penanggulangan Bencana BNPB dengan BPBD seluruh Indonesia di Surabaya, Sabtu lalu,” jelas Nasrul Abit.
Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet dalam kesempatan itu menyampaikan ada 32 desa di Mentawai yang rawan bencana. Sebanyak 25 desa sangat rawan terdampak bencana. ”Kita berharap BNPB dapat memperhatikan beberapa sarana dan prasarana yang belum baik di Mentawai. Perlu ada sirene peringatan dini, kapal karet penyelamatan serta sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat di semua desa rawan bencana tersebut,” harapnya.
Gempa Megathrust
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono menyebutkan, pada Sabtu (2/2) lalu hingga pukul 21.00 terjadi sebanyak 52 kali gempa mengguncang Kepulauan Mentawai. Dari catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, enam kali gempa bermagnitudo di atas 5 dan 46 kali bermagnitudo di bawah 5.
Gempa pertama kali mengguncang sekitar pukul 16.03 bermagnitudo 5,3. Sekitar 24 menit kemudian, pukul 16.27 terjadi lagi gempa berkekuatan 6,0 SR yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,1. Episenter gempa berlokasi di laut pada jarak 105 km arah tenggara Tuapejat, Mentawai pada kedalaman 26 km. Guncangan gempa membuat warga berhamburan keluar bangunan. Sedangkan di Mentawai, sebagian warga berlarian ke daerah perbukitan. ”Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa ini termasuk klasifikasi gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera,” jelas Rahmat Triyono.
Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempa yang sangat aktif di wilayah Sumatera. ”Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dipicu oleh penyesaran naik (thrust fault),” ungkap mantan Koordinator BMKG Sumbar itu.
Guncangan gempa ketika itu dilaporkan dirasakan di daerah Padangpanjang, Bukittinggi, Solok, Padang, Pariaman, Painan dan Mentawai. Hingga pukul 17.00 hari itu, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) sebanyak 10 kali, dengan kekuatan magnitudo terbesar 4,7. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.(rf/esg/jpg)

