SAMARINDA – Perbandingan atau rasio antar guru dan murid yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim dinilai terlalu umum. Sebab pada kenyataannya para guru di sekolah dapat menangani puluhan murid.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim, Dayang Budiati mengatakan, pada umumnya guru menerapkan sistem mengajar berdasarkan mata pelajaran. Dalam artian, guru bertanggung jawab atas mata pelajaran yang ditanganinya.
“Di SMA (Sekolah Menengah Pertama, Red.) itu ada guru mata pelajaran. Jadi enggak ada rasio. Misalnya di satu kelas ada 34 orang siswa. Guru bertanggung jawab pada semua murid di kelas itu. Atau misalnya guru matematika, maka guru itu bertanggung jawab pada pelajaran matematika,” ucap Dayang belum lama ini.
Sementara di sekolah menengah kejuruan (SMK), para guru harus mengajar sesuai keahliannya. Sehingga kekhususan tersebut sebagai tanggung jawab profesi yang bersangkutan.
“Jadi guru itu bertanggung jawab sesuai bidang studinya. Di kelas kan maksimal 34 orang. Seorang guru harus berupaya mencerdaskan dan mendidik murid di kelas itu,” tuturnya.
Karena itu, setiap mata pelajaran di sekolah harus memiliki seorang guru pengajar. Dengan syarat, kelas yang tersedia dapat dibebankan pada seorang guru. Namun jika kelas yang ada tidak dapat diserahkan hanya pada satu guru, maka pimpinan sekolah dapat menambah jumlah guru di mata pelajaran tertentu sesuai kebutuhan di sekolah.
“Guru yang tersedia itu enggak mungkin hanya satu guru. Mungkin guru matematika bisa sampai tiga orang karena banyak kelasnya,” kata dia.
Guru besar dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Edi Rahmad menyebut, rasio guru dan murid mestinya mulai digagas dan ditetapkan pemerintah provinsi dan Disdik Kaltim.
Kata dia, idealnya guru hanya menangani lima sampai enam murid. Jika ada guru yang diberi tanggung jawab untuk mendidik 30 sampai 40 orang siswa, maka kebijakan tersebut dianggap berlebihan.
“Mereka itu kan akan melahirkan orang-orang yang pandai. Pengetahuannya pandai, cerdas, bisa menangkap informasi yang cukup banyak, terampil, bisa melakukan sesuatu, dan punya sikap mental yang luar biasa,” sebutnya.
Atas dasar besarnya beban guru tersebut, mestinya guru dan murid memiliki rasio yang dapat memacu pemenuhan tugasnya dalam mendidik murid.
“Standar nasional kita, minimal satu kelas itu 28 orang. Kalau begitu, satu guru berbanding 28 orang. Apa enggak kewalahan? Makanya waktu ujian nasional, nilai siswa di Kaltim itu turun terus,” tuturnya. (*/um)






