SANGATTA – Tiga hari sebelum dan sesudah Hari Raya Iduladha, kebutuhan bus umum antar daerah yang melayani rute Sangatta – Samarinda mampu menampung jumlah penumpang. Meski begitu, jumlah penumpang tercatat sempat mengalami kenaikan.
Menurut Operator Terminal Tipe B Sangatta, Tulus Widodo, dalam kurun waktu sepekan sebelum dan sesudah Iduladha, kebutuhan akan bus yang mengangkut dari Samarinda dan Bontang selalu siap tersedia di terminal Sangatta.
“Seluruh unit bis aman saja, tidak ada lonjakan yang signifikan. Ya hari-hari tertentu saja yang ramai,” ujarnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Minggu (26/8).
Tulus memaparkan, selama tiga hari sebelum Iduladha, sekira 27 armada melayani transportasi yang pergi dan pulang ke Samarinda dan Bontang. Kapasitas masing-masing bus mampu mencukupi jumlah penumpang. “Berbeda dengan Idulfitri. Kalau itu (Idulfitri, Red.) memang persiapan bus sangat banyak,” paparnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, di hari H Iduladha, tercatat hanya 12 orang penumpang yang menggunakan jasa angkutan tersebut. “Saat (hari H) lebarannya saja, cuma satu bus terpakai. Hanya itu yang berangkat. Sedikit lagi penumpangnya,” imbuh Tulus.
Lantas, tiga hari setelah Iduladha, situasi di terminal kembali stabil. “Kapasitas penuh bus kecil itu sekira 27 orang. Tapi rata-rata setiap bus terisi belasan saja. Hanya di hari ketiga usai lebaran saja yang sempat penuh. Seluruh bangku terisi,” sebutnya.
Terlebih bagi bis berkapasitas 52 kursi, kerap kali mengalami kekosongan penumpang. Hal serupa pun terjadi pada bus Damri perintis yang mengantar penumpang hingga pedalaman Kutim. Kerap kali terjadi kekosongan penumpang.
“Namanya bus subsidi, ada atau tidak ada penumpang ya harus berangkat. Paling hanya empat sampai enam bis saja yang jalan seminggu ini,” ungkapnya.
Tulus menceritakan kondisi yang rentan dialami pihaknya, terlebih perihal kondisi bus yang semakin tidak memadai. Karena sering digunakan di pedalaman yang notabenenya dengan kondisi akses yang rusak parah.
“Tiketnya terjangkaulah, berkisar dari Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Tapi perbaikannya parah sekali, cepat rusak, bahkan per itu sering patah, mungkin karena aksesnya tidak memadai,” tutupnya. (*/la)






