BONTANG – Mantan Wali Kota Bontang dua periode, Andi Sofyan Hasdam digadang-gadang menjadi salah satu kandidat kuat di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018. Ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum (Bapilu) Wilayah Kalimantan DPP Golkar ini juga punya basis massa; dukungan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang dipimpinnya saat ini.
Bagi “Bapak Pembangunan Bontang” ini, kenduri demokrasi tahun depan merupakan kesempatan untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuan demi kemajuan Benua Etam. Sukses membangun Bontang menjadi modal baginya untuk membangun Kaltim.
“Ini sunah. Mengingat usia saya, ini kesempatan terakhir bagi saya mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki untuk membangun Kaltim. Jika Allah SWT menghendaki saya akan maju pada Pilgub Kaltim, insya Allah saya akan pegang amanah tersebut,” kata suami dari Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni ini.
Kendati demikian, Sofyan Hasdam tetap realistis. Dia enggan mengejar jabatan. Baginya, nomor satu atau dua tidak masalah. Bahkan, dia mengaku lebih cocok mengisi kursi calon wakil gubernur (cawagub).
“Saya lebih cocok jadi cawagub. Kan, sama-sama mengabdi untuk Kaltim,” katanya.
Meski demikian, baliho pencalonan Sofyan Hasdam sebagai calon gubernur (cagub) bertebaran di seluruh kabupaten/kota di Kaltim.
“Pemasangan baliho ini mutlak dilakukan untuk mengangkat popularitas dan elektabilitas. Yang pasti saya tetap menunggu hasil survei. Kalau hasilnya (survei, Red.) rendah dan partai tidak mendukung, tentu saya tidak akan maju. Karena, mekanisme pencalonan di Golkar mengacu pada hasil survei,” katanya.
Lalu, apa motivasi Sofyan Hasdam ikut serta dalam kenduri demokrasi terbesar di Kaltim? Menurutnya, apa yang dilakukan murni panggilan hati. “Saya terpanggil demi mengabdi untuk kemajuan Kaltim yang membesarkan saya,” katanya.
Sofyan Hasdam mengaku sedih. Menurutnya, Kaltim yang dikenal kaya dengan cadangan minyak dan gas (migas) melimpah, justru pembangunannya tidak maksimal. Sebagai provinsi kaya, mestinya Kaltim tidak lagi menggantungkan pertumbuhan ekonomi dari migas. Karena potensi sumber daya alam (SDA) yang tidak bisa diperbaharui itu akan habis.
“Contohnya sekarang. Migas belum habis, tapi harga minyak anjlok. Dampaknya pun begitu besar. Seluruh kabupaten/kota di Kaltim krisis. Ke depan, saya mendorong membangun industri non-migas,” tegasnya.
Dijelaskannya lagi, salah satu industri non-migas yang berpotensi untuk dikembangkan adalah turunan produk sawit dan karet. Di Kaltim, komoditas itu jumlahnya melimpah. “Saat ini, industri perkebunan sawit yang luasannya sekitar 2 juta hektare hanya sebatas CPO (Crude Palm Oil). Makanya mesti dikembangkan,” bebernya.
Sebagai informasi, Sofyan Hasdam merupakan kader senior Golkar. Partai beringin itu menjadi satu-satunya parpol yang dapat mengusung cagub-cawagub seorang diri tanpa harus berkoalisi. Total kursi Golkar di DPRD Kaltim adalah 12 kursi.
Rencananya, Golkar akan mengumumkan langkah politiknya pada Pilgub Kaltim di Berau, 10-13 Februari mendatang. Di sana, akan digelar rapat kerja khusus (rakersus). Di mana, rakersus itu nanti akan menentukan sikap Golkar di pilgub, apakah berkoalisi atau tidak, serta siapa calon yang akan diusung.
Hampir dipastikan, ketua DPD Golkar Kaltim Rita Widyasari akan diusung menjadi cagub. Untuk pendampingnya, nama-nama besar sudah bermunculan. Selain Sofyan Hasdam, dan kader Golkar lainnya, ada juga kader partai lain seperti Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang yang juga ketua DPD Demokrat Kaltim, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Yusran Aspar yang juga ketua Gerindra Kaltim, dan tokoh lainnya. (gun)







