BONTANG – Selama 2018, jumlah non-Muslim yang mengucapkan syahadat menjadi Muslim (mualaf) mencapai 46 orang. Hasil tersebut berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pembinaan Umat Islam (BPUI) Masjid Baiturrahman Pupuk Kaltim Bontang sebagai salah satu yayasan yang menangani pembinaan mualaf.
Salah satu Pembina Mualaf BPUI Baiturrahman, M Joni Fauzi mengatakan, jumlah mualaf tahun ini lebih besar dari 2017 lalu yang berjumlah 8 orang. Adapun alasan-alasan para mualaf tersebut memeluk Islam cukup beragam. Mulai dari ketertarikan menutup aurat, menikah, hingga telah belajar Islam dan akhirnya merasa cocok dengan ajaran Islam.
“Ada yang masuk Islamnya secara terbuka dalam artian informasinya boleh disebarluaskan, ada yang privat atau informasinya tidak disebarluaskan. Dengan alasan, khawatir pihak keluarganya tidak terima. Kami pun menjaga hal itu,” ujarnya saat dikonfirmasi Bontang Post, rabu (19/12) kemarin.
Namun sebelum masuk Islam kata Fauzi, calon mualaf tersebut terlebih dahulu dilakukan wawancara untuk mengetahui latar belakang dan informasi mengenai kepindahan agamanya tersebut. Jika orang tersebut masih di bawah umur, maka pihaknya pun juga menghadirkan orang tuanya dalam proses wawancara.
“Ada yang masih SMP dan SMA namun ingin masuk Islam. Orang tuanya juga setuju dan tidak mempermasalahkanya. Ada juga yang langsung satu keluarga,” tutur Fauzi,
Biasanya kata dia, jika telah mantap dengan keputusannya memeluk Islam, maka proses pengucapan syahadat dilakukan di Masjid Baiturraman Pupuk Kaltim usai salat asar ataupun salat magrib dengan disaksikan para jemaah yang hadir saat itu. Usai melaksanakan proses syahadat, mualaf juga diberikan bingkisan berupa perlengkapan alat salat, Alquran, buku iqra’, buku panduan salat dan buku seputar keislaman. Termasuk juga akan diterbitkan sertifikat yang turut ditandatangani Kantor Urusan Agama (KUA). Sertifikat tersebut biasa digunakan mualaf untuk mengubah kolom agamanya pada kartu identitasnya.
“Bagi yang bersedia mengikuti pembinaan di kami (BPUI, Red.) juga akan difasilitasi. Namun jika ikut pembinaan di luar juga tidak kami paksakan,” tuturnya.
Untuk materi pembinaan sendiri kata Fauzi, seperti membaca Alquran, bimbingan ibadah, serta kajian keislaman. Pembinaan ini dilakukan seminggu sekali yang dilakukan di Kelurahan Kanaan dan Guntung. Setiap momen idulfitri maupun iduladha pun, mereka juga kerap mendapat bantuan dari Yayasan Biturrahman.
“Harapan kami mereka yang telah masuk Islam, bisa memahami dan menjalankan Islam secara baik dan tidak kembali lagi ke agama sebelumnya,” pungkasnya. (bbg)







