SANGATTA – Nurul tidak henti-hentinya menangis ketika beberapa perawat berusaha mengganti kain perban dan alat penampung kotoran dari ususnya, di RSUD Kudungga Sangatta, kemarin. Dia dirawat inap di rumah sakit tersebut atas bujukan para pejabat Pemkab Kutim. Kendati, ibunya Sartika (23) hanya ingin merawat anaknya di rumah akibat trauma dengan penanganan medis.
Ayahnya, Hamdi Ismail (30) mengatakan, Nurul dirawat di rumah sakit saat ini difokuskan untuk penyembuhan sakit demam. Panas tubuh bocah perempuan tersebut masih belum normal. Nantinya, Nurul akan dibawa kembali ke RSUD AWS Samarinda pada Juni, sembari menunggu kondisi kesehatan dan berat badannya meningkat lebih baik.
Diketahui, Nurul divonis memiliki gejala usus buntu, saat mulanya dilaporkan orang tuanya mengalami sakit perut ke RSUD Kudungga Sangatta, Kutim. Setelah dirawat inap 4 hari, bocah perempuan tersebut dirujuk ke RSUD AWS Samarinda, dan menjalani perawatan selama 4 bulan, dengan dua kali operasi, sejak November 2016.
Saat ditemui, Nurul tidak menunjukkan wajah lesu ataupun sakit, ketika dia disuguhi ibunya mainan boneka dan alat masak-masakan. Sementara ibunya, justru menunjukkan wajah lebih lesu, tidak banyak komentar.
“Dia anaknya memang kuat. Tapi tetap saja menangis kalau sedang diganti perbannya,” ucap Aldi Prayudi (23), sepupunya yang biasa menggantikan perban, sebab Nurul senang bermain dengannya.
Padahal, kondisi tubuhnya masih belum baik. Tubuhnya masih tampak kurus, dengan balutan kain kasa di perutnya dan tulang ekor hingga punggung. Perut Nurul yang ditutupi perban tersebut adalah luka operasi, yaitu belahan dari perut kiri ke kanan, mirip luka operasi caesar seorang ibu hamil. Ususnya yang dikatakan terurai itu berada pada perut bagian kanan.
Di belakang tubuhnya ada luka pasca operasi berdiameter kurang lebih 10 sentimeter (cm) dari tulang ekor hingga punggung. Itu dikatakan bagian dari tindakan operasi lanjutan dokter di RSUD AWS Samarinda, sebab operasi usus melalui perutnya sudah menyulitkan tim medis. Pada bagian ketiak belakang tangan kanan, juga terdapat bekas luka pasca operasi, namun sudah tampak kering.
Di RSUD Kudungga Sangatta, Nurul diberi pembiayaan oleh pemerintah, dengan tambahan bantuan BPJS yang dimiliki, sehingga meringankan beban keluarga kecil itu.
Hamdi mengatakan, alasannya keluar dari RSUD AWS Samarinda sebelum program pengobatan selesai adalah karena biaya pengobatan yang mahal. Dari obat saja, perlu Rp 110 ribu per hari, ditambah perekat untuk perban pelindung usus dan luka Rp 500 ribu per hari. Kemudian 4 kain kasa yang harus diganti dua kali sehari. (mon/hd)







