• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Opini

Kemerdekaan Yang Tergadai

by BontangPost
26 Agustus 2018, 11:09
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Yusi Wulandari

Yusi Wulandari

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh:

Yusi Wulandari

Ibu Rumah Tangga

Agustus, bulan sakral bagi bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut, tepatnya tanggal 17 agustus 1945 diproklamirkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Kini sudah 73 tahun Indonesia merdeka. Idealnya bangsa ini sudah bisa meraih tujuan dari kemerdekaan yaitu menjadikan rakyatnya sejahtera. Apalagi potensi alam negeri ini luar biasa melimpah. Kekayaan memancar dari perut buminya. Seperti minyak bumi, gas, batu bara, emas, dll. Dan tersemai luas di atas permukaannya tentu mampu menjadikan bangsa ini makmur.

Sayang, faktanya tidaklah demikian. Kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kerusakan moral, kejahatan dan keterbelakangan senantiasa menghantui negeri ini. Rakyat tak lagi mencintai pemimpinnya, dan pemimpin terus mengkhianati rakyatnya. Cita-cita kemerdekaan yaitu membawa rakyat ke arah yang lebih baik dengan menjadikannya sejahtera, adil dan makmur seolah hanya menjadi khayalan yang tak mungkin terwujud.

Meskipun data Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan jumlah penduduk miskin mengalami penurunan per Maret 2018 sebesar 633.000 menjadi 25,95 juta dari kondisi  2017 yang sebesar 26,58 juta.(detik.com, 17/7/1018). Namun jumlah orang miskin yang mencapai 20 juta jiwa masih tergolong banyak, dan ini baru sebatas hitung-hitungan di atas kertas (perkiraan). Masih dipertanyakan apakah semua rakyat sudah terdata atau belum. Apalagi standar kemiskinan sebesar 401.220/orang/bulan ini dihitung berdasarkan kebutuhan kalori manusia itu sendiri. Padahal kebutuhan pokok manusia tidak hanya kebutuhan kalori saja, tetapi juga kebutuhan protein, lemak, vitamin dan kebutuhan pangan lainnya. Selain kebutuhan pangan, ada kebutuhan pokok yang lain yaitu sandang dan papan. Belum termasuk kebutuhan kesehatan, pendidikan, keamanan yang merupakan kebutuhan mendasar.

Baca Juga:  Visi Pendidikan Setelah Bontang Cerdas

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2018 mencapai 5,13 % atau 6,87 juta orang. (Sindonews.com, 7/5/2018). Ini belum termasuk pekerja dengan penghasilan minim dan pekerja dengan jumlah jam kerja di bawah standar tidak dianggap sebagai pengangguran. Hal ini menandakan angka pengangguran juga masih tinggi. Ditambah lagi mereka harus bersaing dengan tenaga kerja asing yang menyerbu negeri ini.

Negeri inipun masih dibelenggu kebodohan. Data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan, yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Begitupula data statistik yang dikeluarkan oleh BPS, bahwa di tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar dari keluarga miskin, sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. (CNNIndonesia, 17/2/2018)

Baca Juga:  Kisah Inspiratif  Warga Bontang: Tini Simorangkir (314 - Habis); Hobi Menyanyi, Pernah Sepanggung Maliq & D'Essentials

Rakyatpun masih harus dihadapkan dengan harga-harga kebutuhan pokok yang meroket tak terkendali. Biaya hidup yang berat, biaya pendidikan, biaya kesehatan dan lain-lain membuat rakyat semakin tercekik. Rakyat yang berharap pemerintahnya bisa melepaskan mereka dari beban hidup yang dihadapi terpaksa harus gigit jari. Solusi-solusi yang ditawarkan tidaklah menjawab kegundahan rakyat. Ketika harga cabe melambung solusinya rakyat diminta untuk menanam sendiri, harga beras merangkak naik diberi solusi untuk diet, harga daging nanjak diberi solusi beralih ke keong sawah. Akhirnya rakyat hanya bisa menahan kekecewaan atas solusi yang ditawarkan.

Secara fisik bangsa Indonesia memang sudah tidak dijajah. Namun secara ekonomi, politik, sosial dan budaya kita dijajah dan dikepung dari segala penjuru, hingga kita tak tahu bagaimana harus melawan. Karena penjajahan ini dilakukan oleh para pengkhianat bangsa. Mereka adalah para komprador yang terdiri dari para penguasa, para politikus, wakil rakyat dan intelektual yang lebih loyal pada kepentingan asing dan aseng. Mereka bekerjasama merampok kekayaan negeri ini untuk mereka gadaikan demi memenuhi syahwatnya. Yang pada akhirnya rakyat sengsara di negeri yang kaya. Rakyat mati kelaparan di lumbung padi.

Baca Juga:  Rela Berjualan hingga Jadi Pembantu Demi Lanjutkan Sekolah

Kemerdekaan ini telah tergadai oleh mereka yang rakus akan dunia hingga melacurkan diri mereka menjadi antek-antek negara penjajah. Kondisi seperti ini akan terus berlanjut bahkan menjadi lebih parah lagi jika kita diam berpangku tangan dan pasrah dengan keadaan. Selayaknya kita sadari bahwa semua ini terjadi karena sudah terlalu lama kita lupa bahwa kemerdekaan yang didapatkan bukanlah semata kehebatan manusia yang mampu mengusir penjajah, namun karena kasih sayang Allah SWT terhadap bangsa ini.

Rasa syukur seharusnya mengisi kemerdekaan yang diraih dengan menerapkan aturanNya, bukan dengan mengadopsi sistem yang datang dari akal manusia yang terbatas. Bangsa ini telah memilih sistem demokrasi kapitalisme sebagai acuan dalam mengisi kemerdekaan. Yang mana demokrasi kapitalisme merupakan sistem yang lahir dari akal manusia,  dan merupakan akar masalah yang telah membawa bangsa ini ke jurang kehancuran. Sistem demokrasi kapitalisme inilah yang telah melahirkan undang-undang yang tak pernah berpihak kepada rakyat.

Sudah saatnya kita kembali merujuk kepada sistem dan hukum yang dibawa oleh Rasulullah Saw di dalam Alquran dan Assunah agar bangsa ini menjadi berkah dan mendapatkan kemerdekaan yang hakiki. (*)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatanwarga bontang
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Kendaraan Kapasitas di Atas 8 Ton Bakal Ditindak

Next Post

Berjalan, Program E-Waroeng Belum Maksimal 

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan
Bontang

Pengeluaran Warga Bontang Tertinggi di Kaltim, Capai Rp2,6 Juta Per Bulan

31 Maret 2026, 08:00
Kotak Kosong, Pesta para Oligarki
Opini

Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

21 Juli 2024, 13:20
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar
Opini

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar

21 Juli 2024, 12:19
Merokok Bikin Kekasih Cacat
Catatan

Merokok Bikin Kekasih Cacat

16 Desember 2023, 11:27
Kursi vs Nurani
Opini

Kursi vs Nurani

3 Juni 2023, 13:08

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.