Kisah Inspiratif Warga Bontang : Yarkani (173)
Keadaan serba kekurangan bukan menjadi halangan bagi Yarkani. Berbagai cara dia tempuh agar tetap bisa melanjutkan pendidikan. Walau harus berdagang hingga menjadi pembantu.
Bambang, Bontang
Saat masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs), Yarkani harus menerima kenyataan pahit. Keluarganya yang menggantungkan hidup lewat hasil kebun harus jatuh miskin lantaran kebun yang dijadikan sumber utama pencaharian keluarganya, tidak digarap dengan baik sehingga tidak bisa panen.
Sang ayah yang di kampungnya kala itu ditunjuk sebagai sekretaris desa sekaligus tokoh masyarakat, terlalu sibuk dengan urusan masyarakat desa sehingga tidak sempat mengelola kebun. Jangankan untuk biaya sekolah, biaya untuk makan sehari-hari pun sangat sulit Yarkani rasakan.
Bahkan, anak ke empat dari delapan bersaudara itu sempat merasakan makan dengan nasi yang dicampur singkong dan ptongan ikan kecil.
Akibat orang tuanya tak memiliki biaya, membuat adik-adiknya berhenti sekolah. Inilah yang tidak diinginkan terjadi pada dirinya.
Untuk itu, sebagai konsekuensi jika ingin sekolahnya tetap berlanjut, suami Rahimah ini memutuskan untuk hidup mandiri dengan cara berjualan es unyil. Baik sebelum sekolah maupun sesudah pulang sekolah.
“Jadi habis Salat Subuh, saya langsung pancal sepeda sejauh enam kilo meter untuk menuju pabrik es. Setelah itu saya jajakan ke sekolah-sekolah SD. Setelah pulang sekolah, saya jualan lagi sampai sore,” tuturnya.
Bahkan tak jarang, Yarkani harus terlambat masuk sekolah akibat jualannya tersebut. Karena saking jauhnya memancal sepeda, saat sampai di sekolah, baju seragamnya sudah penuh dengan cucuran keringat. Kondisi ini pun membuat gurunya bertanya tentang keadaannya. “Bahkan, guru saya sempat datang langsung ke rumah melihat kondisi keluarga saya. Setelah datang, guru itu tidak komentar apa-apa dan membiarkan saya tetap sekolah walau sambil berjualan dan SPP masih tertunggak pembayarannya,” jelasnya.
Setelah lulus dari MTs, Yarkani diminta seorang ustaz di Palangkaraya, Kalimantan Tengah untuk menjadi pembantu di rumah kontrakan. Selama ikut di sana, biaya sekolah Aliyah seluruhnya ditanggung oleh ustaz tersebut sehingga dia tidak perlu repot lagi kerja keras mencari dana. Berbagai pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, menyeterika dan lainnya pun dia lakoni. Dari situlah, akhirnya tidak langsung Yarkani bisa belajar hidup mandiri.
“Setiap liburan semester, pasti saya kembali ke rumah. Alhamdulillah saat pulang, saya selalu bisa ngasih uang orang tua walau nilainya tidak besar,” ujarnya.
Setelah lulus dari Aliyah, dirinya pun kembali ditawari ustaz tersebut untuk melanjutkan kuliah di Palangkaraya. Namun karena terobsesi ingin kuliah di Banjarmasin, sehingga tawaran itupun dia tolak.
Saat dinyatakan lulus tes masuk kuliah, karena orang tua tak sanggup membiayai kuliahnya, sehingga mau tidak mau, cara yang dilakukan Yarkani agar tetap bisa membiayai kuliahnya adalah dengan berjualan sayur, air, hingga kayu bakar ke warga-warga.
Bahkan, karena dirinya memberikan service yang maksimal ke pelanggannya, lambat laut dagangannya semakin laris. Dari situlah, dirinya bisa membiayai kuliahnya sendiri.
“Namun saat ada tawaran menjadi guru ngaji, akhirnya saya beralih pekerjaan menjadi guru TPA. Di tempat yang baru juga saya tidak perlu menyewa rumah lagi karena ditawari tinggal di mes masjid. Di sana, selain jadi guru ngaji, juga sekaligus jadi marbot masjid,” sebutnya.
Usai lulus kuliah tahun 1993, setahun kemudian Yarkani memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Timur. Kota yang pertama kali dia singgahi adalah Samarinda. Sembari mengajukan lamaran ke beberapa tempat, dirinya pun sambil berjualan tas ke pasar-pasar di Samarinda.
Suatu waktu, dirinya sempat diajak oleh salah satu teman ke Bontang. Kala itu, tidak terbesit dalam dirinya untuk menetap di Bontang. Namun saat Yarkani sudah sampai di Bontang, oleh teman kakaknya di kampung yang kebetulan saat itu bertemu di Bontang, dirinya pun direkomendasikan untuk mencari pekerjaan di Bontang.
Singkat cerita, dirinya diterima di Taman Pendidikan Alquran(TPA) Masjid Baiturrahman PKT sebagai guru ngaji. Selain aktif sebagai guru ngaji, Yarkani juga terlibat aktif dalam kepengurusan takmir Masjid Baiturrahman. Mengabdi selama 11 tahun 8 bulan, akhirnya menjadi jalan Yarkani untuk diterima menjadi pegawai Kementerian Agama (Kemenag) Bontang.
“Dari 28 yang ikut tes, hanya saya yang diterima karena Wiyata Bakti (pengabdian, Red.) saya paling terlama di antara yang lain,” ucapnya.
Selama menjadi pegawai Kemenag, salah satu yang paling menjadi anugerah bagi Yarkani adalah dinyatakan lulus untuk menjadi Tim pemandu Haji Indonesia (TPHI) pada 2016. Selain mendapat amanah memandu jemaah haji dari Berau, Kutim, Balikpapan, Tenggarong, dan Samarinda, dalam kesempatan itu pula dirinya bisa sekaligus melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut.
Dalam bekerja sehari-hari pun, Yarkani juga kerap dikenal baik dapat menjalin komunikasi yang baik dengan stakeholder Kemenag. Sehingga, hubungan antara Kemenag dan instansi lain serta masyarakat pada umumnya dapat terjalin harmonis.
“Bagi saya mencintai pekerjaan adalah hal yang paling utama. Kalau kita sudah mencintai pekerjaan itu, tentu kita akan enjoy menjalaninya,” tukasnya. (bersambung)
Biodata
Nama : Drs.Yarkani
TTL : Barito Kuala, 18 Desember 1966
Alamat : Jalan Tenis (Eks. Reformasi) RT 39, Kelurahan Api-api
Orang tua : H. Kurnain – Hj. Djamaniyah
Istri : Rahimah
Anak : Ahmad Helmi Rizani, Hasanatul ‘Ainiyah, Luthfia Ramadhini
Pendidikan : S1 IAIN Antasari Banjarmasin Fakultas Dakwah jurusan Bimbingan Penyuluhan Agama
Pekerjaan : Pegawai Kementerian Agama (Kemenag) Bontang







