bontangpost.id – Keterwakilan perempuan dalam politik dinilai belum maksimal. Hal itu dapat dilihat dari jumlah kedudukan perempuan di kursi legislatif.
Dalam kontestasi DPR RI dapil Kaltim misalnya. Dari puluhan kandidat caleg yang ada, hanya satu yang disinyalir dapat melaju ke Senayan, yakni Hetifah Sjaifudian. Ia berhasil meraup sekitar 146 ribu suara yang dapat mengantarkannya kembali mengamankan kursi DPR RI.
Namun hal itu menurutnya belum merepresentasikan keterwakilan perempuan, sebab hanya satu perempuan dari delapan kuota yang ada. “Harapannya minimal ada tiga,” ujarnya.
Sementara ia menyebut, terdapat sejumlah hambatan sehingga pemenuhan 30 persen caleg perempuan terpilih belum dapat tercapai. “Kalau 30 persen kandidat calegnya memang lebih (jumlahnya), tapi yang terpilih kurang,” sebut dia.
Ia pun memetakan empat hambatan yang menurutnya masih mendominasi. Pertama, dari iklim politik yang mencakup regulasi dan ruang yang diberikan. Komposisi 30 persen menurut aturan dinilai belum memberi kesempatan yang lebih besar untuk terpilih.
Kedua dari sisi partai politik yang menempatkan perempuan tidak dalam posisi strategis. Mestinya parpol juga memperhitungkan nomor urut caleg. Misalnya dengan nomor urut yang disamakan dengan nomor partai.
“Jadi prospek keterpilihan dapat lebih tinggi,” katanya.
Ketiga, dari sisi personal. Banyak perempuan yang sebenarnya memiliki potensi dan pengalaman, namun tidak berminat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
“Alasannya merasa bahwa persaingan terlalu sulit dan membutuhkan modal. Jadi kepercayaan diri dan motivasi harus ditingkatkan lagi dengan memberi sugesti yang positif,” lanjutnya.
Kendala terakhir ialah pemiih. Kata dia, kebanyakan pemilih masih beranggapan bila perempuan tidak cocok terjun ke dunia politik ataupun menjadi pemimpin. Stereotipe tersebut pun tak jarang datang dari sesama perempuan.
Jika demikian, perempuan yang terpilih nantinya harus menjadi role model sebab hal itu erat kaitannya dengan kepercayaan publik terhadap perempuan.
“Stereotipe itu dapat dipatahkan dengan pembuktian, salah satunya prestasi,” tandasnya. (*)







